Fiction
Berapa Babi Maskawin, Ko? [6]

6 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Dulu pernah ia mengusulkan agar mereka membentuk satu tim kecil untuk mengelola pantai itu. Kerja tim ini termasuk mengurus pencetakan karcis masuk, menentukan pembagian keuntungan yang adil, melaporkannya ke para kepala keluarga yang akan bertindak sebagai tim pengawas, sampai ke menentukan sanksi adat bila ada pelanggaran. Tetapi, saat usul itu ia ajukan, masing-masing bersuara keras, “Siapa yang pegang karcis? Orang torang ka orang dorang (dari keluarga kita atau mereka)?”

Tidak pernah ada kata sepakat untuk itu. Semua ingin memegang karcis. Karena, di sanalah kunci pemasukan. Ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin semua orang ingin memegang karcis. Lantas, siapa yang akan jadi tim pengawas?

Persoalan makin rumit ketika Fritz mengajukan jalan keluar untuk membuat pembukuan yang rapi. Karena, dari sana akan ada kontrol. Akan ketahuan berapa karcis yang terjual dan berapa uang yang masuk. Teorinya sesederhana itu.

Tetapi, semua kepala keluarga yang hadir justru memandanginya dengan tatapan aneh. Seolah Fritz adalah makhluk asing. Alien. Usulnya benar-benar aneh. Memang sungguh celaka pendidikan tinggi itu. Buktinya, anak muda itu. Ia sungguh sudah menjadi lain. Menjadi seperti para pendatang itu. Menjadi golongan orang-orang berambut lurus. Para amber itu.

“Siapa yang bikin buku? Buat apa? Buku apa? Buku tulis atau buku gambar?” teriak seorang ketua adat.

“Pembukuan, Bapa,” jawab Fritz, pendek. “Pembukuan. Bukan buku tulis atau buku gambar. Itu semacam laporan keuangan.”

“Lapor ke mana? Ke pemerintah? Tra bisa.”

“Betul… tra bisa. Seratus persen tra bisa,” sahut yang lain.

Fritz menyerah. Ia putus asa. Mentah lagilah semuanya.

Lantas, dari mana ia harus bercerita kepada wanita ini? Dari mana ia akan memulai? Bukannya mencari jawab, diliriknya wanita matang di sebelahnya, teman Nonce ini. Fritz tergelitik untuk berhitung. Teman Nonce? Berapa umur Nonce? Nonce seumur dengannya. Dan Nonce sebaya dengan Tari. Jadi, setidaknya umur wanita ini tiga puluh atau tiga puluh satu tahun. Wuih… wanita secantik dan seindah ini. Kata Nonce, ia belum kawin. Kenapa belum kawin? Tak adakah pria di Jakarta sana yang meliriknya?

Diamatinya lagi wanita di sebelahnya. Minggu lalu, saat melihatnya duduk di pantai memandangi kejauhan, ia sudah tertambat. Tertambat dengan rambut lurus sebahunya yang melambai-lambai tertiup angin. Ini sungguh memesonanya. Berbeda benar dari rambut para wanita sesukunya –dan sebagian besar suku-suku lain yang ada di Papua. Rambut mereka tak akan pernah bisa melambai tertiup angin. Karena, rambut-rambut itu terlalu ikal. Terlalu berombak. Sementara Fritz, entah kenapa, begitu bergairah melihat rambut wanita yang bisa melambai tertiup angin.

“Ko cantik. Rambut ko cantik,“ gumam Fritz. “Siapa pacar ko?”

Tari tak mampu menangkap gumaman itu. Ia hanya menangkap komat-kamit mulut Fritz. Bisiknya lagi, “Apa? Ngomong apa? Enggak kedengaran. Coba ulangi?”

“Kenapa bisik-bisik?” gelegar suara sang nene. “Tra usah bisik-bisik di sini. Bicara yang keras. Seperti orang pacaran saja.”

Meledaklah tawa para wanita itu.

Kali ketiga Tari kemari, ia tidak sendirian. Nonce dan Eta ikut serta. Kali ini Nene yang mengundang. Nene sudah berpesan kepada Fritz agar mengundang ’teman-teman atas’ malam Minggu nanti. Teman-teman atas itu istilah Nene untuk menyebut Nonce sekeluarga. Karena, Nonce tinggal di bukit, sementara suku ini tinggal di bawah, di pantai. Nene bilang, malam Minggu nanti ia akan menyelenggarakan pesta makan. Pesta makan papeda maksudnya. Mendengar itu, Tari mendesah resah. Lagi-lagi papeda. Terutama makan papeda di tengah orang banyak? Ups… betapa menderitanya.

Melihat kerenyit di muka Tari ketika mendengar undangan itu, Nonce buru-buru mengancamnya, “Ko harus datang. Harus. Ini pesta spesial.”

Sementara Eta yang lincah dan genit itulah yang akhirnya membuka sedikit rahasia, “Nene suka ko, Tante Jawa. Nene bikin pesta untuk Tante Jawa, to.”
Advertisement

Nonce jadi jengkel pada putrinya yang besar mulut itu. Dipelototinya Eta, “Anak kecil sok tahu.”

Melihat pelototan mamanya, gadis kecil itu ketakutan.

“Sudah, ah. Enggak usah marah-marah gitu. Aku datang, deh.”

Saat mereka datang di awal malam, rumah itu sudah ramai. Hampir semua wanita berkumpul di sini di dalam rumah. Sebagian dari wanita itu sibuk bekerja di sudut rumah, memotongi ikan dan memasukkannya ke dalam panci besar yang airnya bergolak-golak. Sebagian yang lain mengaduk-aduk sagu di dalam baskom besar. Seorang wanita sibuk menuangkan air panas ke dalam baskom, sementara wanita yang lain lagi sibuk memutar-mutar isi baskom. Tak lama… jadilah papeda.

Setelah papeda dan ikan dalam panci matang, Nene berteriak, “Eh… semua masuk dulu. Makan papeda dulu.”

Yang dimaksud ’semua’ adalah para pria yang tadi duduk-duduk di teras. Berbondong-bondong mereka masuk ke dalam rumah Nene dan mengambil jatahnya. Setelah kaum pria selesai mengambil jatah papeda, barulah giliran para wanita.

Nene memanggilnya, “Kemari.”

Tari celingukan. Iakah yang dipanggil? Sekali lagi Nene memandang kepadanya dan menganggukkan kepalanya. Ternyata memang benar, ia yang dipanggil. Tari mendekat ke Nene, ke dekat panci besar di atas tungku.

Dengan dua tongkat panjang --yang bentuknya sedikit lebih besar dari sumpit tukang masak di restoran Cina-- Nene menggulung papeda dalam baskom. Dengan bantuan dua belah tangan, Nene terus memutar tongkatnya sedemikian rupa sampai terbentuk gumpalan papeda yang cukup besar melekat di antara sumpit. Saat itulah baru diletakkannya gumpalan papeda itu ke dalam piring Tari. Masih belum cukup, Nene menuangkan kuah ikan lengkap dengan potongan ikan besar ke dalam piringnya. Katanya, “Dihabiskan, e.”

Tari tak menyahut. Melihat gumpalan papeda yang menggunung di piringnya, Tari mendesah. Bagaimana caranya menghabiskan papeda ini? Porsinya begitu besar, sampai-sampai hampir melewati bibir piring. Terlebih, cara makannya pun sangat rumit. Ingin ia melarikan diri. Terbang menuju rumah Nonce di bukit, memasak nasi, dan membuat sambal terasi untuk dirinya sendiri. Tetapi, segera saja diurungkannya niatnya. Karena, dilihatnya Nene yang tersenyum bangga kepadanya.

Setelahnya, semua sibuk mengisap papeda. Eta pun tak kalah pandainya menggulung dan mengisap. Sambil makan, diperhatikannya Tante Jawa yang tak mampu menelan satu isapan papeda pun. Dari tadi diperhatikannya sang tante yang hanya sibuk memutar-mutar papeda di piringnya. “Tante tra suka, ka?”

“Huuuus,“ bisik Tari, “jangan keras-keras ngomong-nya. Nanti semua dengar.” Dengan sikap malu-malu Eta menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.

Di tengah hiruk pikuk itu terdengar gelegar suara Nene ditingkah dengan sahutan gelegar suara yang lain. Belakangan baru Tari tahu, hampir semua orang di sini berbicara dengan suara keras, “Tari, ka? Enak, ka?”

Nene melihat papeda di piring Tari. Semua orang di ruangan itu menengok ke arahnya. Tari tersipu, meski setelahnya ia mengangguk-angguk membenarkan. Maklum, hanya itu yang bisa ia kerjakan.

“Begini Tari…,” Nene berhenti menarik napas panjang.


Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2008






 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?