Fiction
Berapa Babi Maskawin, Ko? [4]

6 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Tari terpesona. Bila diamati lebih cermat deretan rumah panggung keluarga Puy memang terpisah dari rumah-rumah kumuh milik para pendatang yang dilihat Tari tempo hari. Tari menghitung cepat. Dalam hati. Hanya ada sebelas rumah. Betapa sedikitnya jumlah anggota keluarga Puy itu.

Malamnya segalanya menjadi jelas. Malam itu Nonce mengundang Fritz makan malam. Fritz ternyata teman Nonce dan teman suaminya ketika di SMP dan SMA. Singkat kata, Fritz adalah bagian dari keluarga ini.

Di meja makan terhidang --lagi-lagi-- ikan laut. Ikan cakalang yang besarnya selengan manusia. Ikan itu dibakar saja. Nonce tidak masak papeda. Ada semangkuk penuh nasi di atas meja dan semangkuk kecil sambal iris. Untunglah. Bagaimanapun, Tari tak ingin ditertawakan dua kali saat makan.

Fritz yang menjelaskan. Nonce menambahi. Sebagai orang pemerintahan asli Papua, Nonce tahu banyak persoalan suku Kayu Batu.

Dulu, sewaktu perang pasifik, seluruh wilayah suku Kayu Batu dipakai sebagai salah satu basis pertahanan tentaranya Jenderal Douglas Mc Arthur. Karenanya, pantai itu, pantai yang didatangi Tari tempo hari, disebut dengan nama Base G, sebagai basis pertahanan urutan ke-G.

“Lantas yang bes ei sampai ef, di mana?” tanya Tari lugu.

Keduanya saling memandang. Bingung. Kemudian jawab Nonce yang terkesan asbun itu, “Mungkin di Darwin… atau… mungkin di Hawaii... ah... tratau.”

Fritz tersenyum simpul. Nonce memelototkan matanya. Fritz berhenti tersenyum. Eta terkikik melihat Fritz yang menjadi salah tingkah. Gadis kecil itu memang suka cekikikan.

Fritz melanjutkan penjelasannya. Ketika tentara Indonesia masuk yang kemudian dilanjutkan dengan masuknya orang-orang sipil, artinya itu tanda untuk membentuk pemerintahan, pantai itu diambil alih oleh pemerintah. Itu sudah lama terjadi. Artinya, kita harus kembali ke tahun 1969. Pemerintah menjadikan tempat itu sebagai objek wisata utama Jayapura.

“Bisa dimaklumi. Pantainya memang indah dan bersih.”

“Nah, apa sa bilang. Parangtritis itu cuma namanya saja yang terkenal. Tetapi, pantainya kotor. Banyak sampahnya,” timpal Nonce. Sekali ini Nonce tidak asbun. Karena, ketika kuliah di Yogya, ia memang sering ke Parangtritis dan membuktikan dengan mata kepalanya sendiri betapa kotornya tempat itu.

Tari tersenyum kecut sekaligus memaklumi. Memangnya ada pantai-pantai di Jawa yang bebas sampah? Rasanya mustahil.

“Lantas salahnya di mana? Bukankah bagus pemerintah menjadikan tempat itu sebagai objek wisata pantai?”

“Memang bagus kalau pemerintah minta izin. Apa yang orang Jawa bilang? Istilahnya apa? Kulo wun-kulo wun?” Fritz ingin mengutip istilah Jawa yang biasa didengarnya dari mulut para pejabat di televisi. Berbeda dari Nonce yang pernah lama tinggal di Jawa, Fritz hampir tak mengenal Jawa.

“Kulo wun-kulo wun, apa? Maksud ko kulonuwun, permisi?” timpal Nonce.

“Ah, itu sudah.”

Ternyata pemerintah tidak pernah meminta izin, baik secara lisan maupun tertulis. Ini dalam artian sebenarnya. Sehingga, pemerintah tak merasa punya kewajiban sedikit pun untuk memberikan atau membagi pemasukan kepada para pemilik tanah.

“Sama sekali?”

“Ada… tetapi, bila melihat jumlahnya, bisa dianggap tak ada. Karena sangat kec….”

Tring aling tring aling.

Terdengar dering merdu dari ponsel Tari. Refleks Tari melirik layar ponsel. Tertera nama Heru di sana. Tari mendesah. Ia tak ingin mengganggu suasana. Cepat ditaruhnya sendok-garpunya, beranjak dari kursi dan berjalan menjauh.

“Ya?”

“Rasanya kamu harus mempersingkat liburanmu.”

Tari diam. Ia tahu bahwa ia harus menyediakan kuping lagi. Untuk kesekian ratus kalinya.
Advertisement

“Kornelis sudah kamu tegur? Laki-laki, kok, lelet begitu. Lagian si... siapa itu gadis yang di Batam? Ya… ya gadis itu. Bayangkan laporan buatannya. Kenapa bisa ada selisih barang dari yang seharusnya kita terima dan laporannya? Sudah, sana cepat ke Batam. Bereskan urusan di sana. Kutunggu dalam tiga hari.”

“Tidak bisa, Her. Aku lagi libur. Bukankah tahun lalu aku sudah mengalah tak mengambil cuti? Jadi tahun ini giliranku,” jawab Tari, pelan dan lembut.

Heru tak bisa menelan ludahnya sendiri. Ia sudah menjanjikan liburan itu. Karenanya ia segera berbelok ke topik lain, “Wanto.…”

“Wanto tak bisa menemui Pak Wardiman waktu itu. Pak Wardiman sendiri yang membatalkan janji. Jadi Wanto harus membuat janji baru dengan sekretarisnya. Karenanya, dia langsung ke Bogor pada hari yang sama.”

“Ya, sudah.” Klik. Telepon diputus dari sana. Seperti biasa.

Tari mendesah. Apa yang harus dilakukannya kini? Secara kimiawi kondisi batinnya telah berubah. Resah. Keresahan yang selalu dibawa dan didesakkan Heru dalam hidupnya. Pelan-pelan Tari berjalan menuju teras belakang. Kerlap-kerlip lampu menebar di seluruh bukit. Lampu-lampu para nelayan menambah keindahan gelap laut. Membuat kota ini seperti Hong Kong di waktu malam. Dan, di ruang makan sayup-sayup terdengar gelak tawa tiga manusia yang tengah berbahagia sambil menikmati santap malam yang begitu bersahaja. Tari merasa iri terhadap ketiganya.

Waktu itu siang, hari Minggu. Untuk pertama kali Tari menginjakkan kaki ke tanah keluarga Puy, tanah tumpah darah Fritz. Dari jalan utama mereka harus melewati deretan los-los kosong bagi pedagang di pasar inpres.

Dari belakang pasar ada jalan setapak penuh bebatuan yang akan membawa mereka ke sana. Tari berjalan pelan dan ekstra hati-hati. Jalan itu benar-benar licin dan berbatu. Sementara di sana-sini sisa-sisa batang pohon melintang dengan bebas di tengah-tengah jalan setapak. Di tengah jalan Tari menghentikan langkahnya.

“Perahunya di sana,” kata Fritz.

Tari berdiri kaku.

Fritz menengok ke depan, mencari tahu, melewati bahu Tari. Tak jauh dari tempat mereka berdiri ada seorang pria tua tengah asyik mandi di bawah pancuran. Pria tua itu tidak memperhatikan mereka. Ia sibuk menggosok-gosok punggungnya di bawah pancuran air yang mengalir lancar dari dalam perut bumi. Meski dari tempatnya berdiri wajah bapak tua tak terlalu jelas terlihat, Tari kenal benar siapa pria itu. Kulitnya yang putih bersih langsung menandainya. Dialah pria tua yang pernah memerasnya tempo hari.

Fritz paham situasi. Segera ia maju ke depan. “Biar sa yang di depan. Ayo.”

Tari ragu-ragu.

“Ayolah, tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah.”

Mereka berjalan lagi. Pelan-pelan. Tari menempel ketat di belakang Fritz. Tak lama keduanya berjalan melewati pancuran. Tari menundukkan kepala, berusaha tidak melihat ke arah pria tua, sambil berharap semoga ia telah melupakan Tari.
Tetapi, Tari salah duga. Pria tua itu berbalik melihat mereka dan segera mengenali Tari. “Eh… nona itu.”

Tari menyembunyikan wajahnya di balik punggung Fritz.

“Nona itu. Sa ingat. Mana sa pu uang. Seratus ribu.”

Fritz berhenti melangkah. Sampai di titik ini Fritz merasa bapa ade-nya sudah keterlaluan. Karena, sekarang Tari datang atas undangannya. Tari adalah tamunya. Dipandangnya bapa ade-nya dengan sorot mata tegas dan lugas.
“Bapa ade. Cukup.”

“Ah, sa pu uang, to,” pria tua itu masih berkeras dengan ’hak’-nya.

“Kalo sa bilang cukup itu artinya cukup. Mengerti ka tidak?”


Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2008





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?