Kebaya mengalami perkembangan dalam kurun waktu ratusan tahun. Contoh, kebaya Belanda yang identik dengan warna putih berdetail renda. Hal itu terjadi karena meningkatkan popularitas batik van Zuylen (batik Pansellen) di Pekalongan dan batik van Franquemont (batik Prankemon) di Surabaya, yang menjadi pilihan busana wanita Belanda kala itu.
Besarnya pengaruh budaya Cina peranakan atau babah turut menyemarakkan perkembangan kebaya. Majunya batik Cina peranakan, salah satunya batik Oey Soe Tjoen yang diproduksi di Kedungwuni, mungkin menjadi salah satu pemicu munculnya kebaya encim yang ditandai dengan sentuhan warna-warna kalem dan detail sulaman tangan.
Meski berbeda, kebaya-kebaya tersebut memiliki ‘benang merah’ yang sama, yakni siluet yang simpel, bukaan di bagian depan, serta panjang yang bervariasi, mulai dari pinggul hingga paha. (f)