Tak heran jika Astrini Faustina (21) merendahkan ekspektasinya dalam pemilihan Wajah Femina yang baru kali pertama diikutinya ini. Ia merasa finalis lain yang lebih berpengalaman di bidang modeling punya peluang lebih besar untuk menggondol piala malam itu.
“Saya sempat minder. Saingannya itu, loh, ada Ni Luh yang bintang Pantene, Faradina Amalia dan Kurnia Anggrayani pernah jalan di panggung Jakarta Fashion Week, lalu Cindy Tabita yang finalis Miss Indonesia 2012 dan Gina Virgina Rachmadana yang juga finalis Putri Indonesia 2013 yang sudah sering memeragakan pakaian rancangan desainer. Apalagi, saya sudah lama absen dari modeling,” ungkap wanita berdarah Tionghoa ini pada femina.
Wanita yang akrab disapa Ay-Ay ini bercerita bahwa dirinya sempat mencicipi catwalk dan pemotretan kala usianya masih belia. Saat duduk di bangku SMP tahun 2006 lalu, wanita bertubuh menjulang 173 cm dan berat 53 kg ini mengikuti kelas modeling di sekolah milik mantan peragawati ternama Okky Asokawati, atas saran seorang kerabatnya. “Saya sekelas dengan Patricia Gunawan, Pemenang 2 Wajah Femina 2010 dan Juara 2 Miss Asean 2012, lho,” katanya, mengenang masa itu.
Hanya saja, jika Patricia kemudian menekuni dunia modeling hingga namanya kian eksis di kalangan fashion, Astrini justru memilih mundur demi mengutamakan studinya. Padahal, jalan untuk menjadi model terkenal telah terpampang di depan matanya. “Papa memang tak mengizinkan saya sibuk di modeling selama masih bersekolah,” tutur Astrini yang saat bersekolah juga masih disibukan dengan berbagai les.
Pada tahun 2010, setelah lulus dari SMA Bunda Hati Kudus, ia terbang ke negeri Tiongkok untuk melanjutkan kuliah di Nanjing University of Aeronautics and Astronautics, mengambil jurusan International Business. “Saya memang sudah lama bercita-cita ingin menjadi pebisnis,” tekad anak pertama dari pasangan Suparto dan Etty yang mengelola usaha contractor supply ini.
Meski mengaku tak bisa berbahasa Mandarin sebelumnya, Astrini mantap memilih kuliah di Cina karena ingin sekalian menguasai bahasanya. Tiga bulan kursus bahasa Mandarin dijalaninya sebelum bertolak ke sana. Astrini jeli melihat potensi pasar Cina yang penduduknya terbanyak di dunia dan ekonominya sedang berkembang pesat. “Wah, kalau saya bisa menjual barang ke sana, pasti bisa menangguk untung banyak,” pikir Astrini yang juga sempat mempertimbangkan karier menjadi special effect make-up artist ini.
Bakat berdagangnya memang sudah terpupuk sejak kecil. Setiap kali ada kesempatan, Astrini kecil sering berkarya membuat berbagai barang ketrampilan tangan, seperti patchwork, keychain, kartu ucapan, dan juga berjualan pakaian.
“Saya, tuh, senang berjualan. Pernah saat pulang dari Cina, saya borong 5 lusin legging, lalu saya jual lewat facebook,” kisahnya, sambil terkekeh geli. Meski butuh waktu beberapa bulan, akhirnya memberikan keuntungan juga. Dari pengalaman ini, Astrini terlecut ingin memproduksi kerajinan gelang yang akan dipasarkan di berbagai bazaar dan media sosial tahun 2015 ini.(REYNETTE FAUSTO)