Menggunakan bambu sebagai struktur bangunan sebenarnya sudah banyak diterapkan pada daerah rawan gempa. Ini dikarenakan bambu terbilang ringan dan mudah digantikan karena tersedia dalam jumlah banyak. Salah satu arsitek yang sudah gencar menggunakan bambu pada bangunan rancangannya adalah Effan Adhiwira. Ia menjelaskan bahwa bambu punya sifat alami yang elastis. “Sifat elastis tersebut membuat konstruksi bambu cocok menjadi konstruksi tahan gempa. Bambu akan mengikuti arah goyangan gempa, tidak patah, dan nantinya kembali ke posisi awal,” papar Effan.
Namun, bambu tentu memiliki beberapa karakteristik lain yang terbilang sebagai kekurangan dibanding kayu solid umumnya. Karena fisiknya berserat, batang bambu mudah pecah bila disambung menggunakan paku. Dan, karena seratnya memanjang, celah pecah tersebut dapat menerus hingga ke ujung batangnya. Untuk itu, Effan lebih merekomendasikan penggunaan pasak bambu untuk menyambungkannya.
Pada dasarnya, bambu sudah memiliki tampilan alami yang memesona, yang tetap harus dijaga. Bambu yang diterapkan sebagai elemen bangunan maupun furnitur harus dilengkapi dengan lapisan antirayap, karena bagaimanapun juga bambu adalah jenis kayu yang disukai rayap. Bambu juga sebaiknya diberi lapisan finishing untuk melindungi bambu dari serangan jamur, lembap, atau kotoran dari luar. Bambu dapat dilapis dengan cat kayu, sehingga desainnya dapat mengikuti tren saat ini. (f)