Setelah itu, Anda mendapat kesempatan jadi host di acara televisi?
Ya. Tapi, bisa dikatakan, itu juga hasil dari usaha saya sendiri. Setelah sering menjadi MC, nama saya cukup dikenal, lalu saya memberanikan diri ikut casting untuk host acara jalan-jalan di televisi. Akhirnya, saya mendapatkan pekerjaan impian saya, selama dua tahun saya menjadi host acara Koper Selebriti dan Paspor Selebriti. Saat itu, saya merasa impian saya tercapai. Namun, saya masih memiliki cita-cita untuk membawakan acara stripping. Sejak awal masuk ke dunia hiburan, saya ingin menjadi seorang TV personality bukan selebritas, artis, atau aktris. Saya ingin terlibat di program TV sebanyak mungkin. Pernah, dalam beberapa bulan, saya tampil nonstop di berbagai acara, talk show malam, gameshow, gosip, dan lain sebagainya. Capek, tapi senang banget, karena saya dasarnya senang bekerja. Kalau orang lain capek bekerja mengeluh, saya justru menikmati kesibukan dan kelelahan itu.
Sejak tampil di Dahsyat, gaya bercanda Anda berbeda dari sebelumnya?
Bagaimana konsep melucu yang Anda pilih?
Melucu itu susah. Menurut Winston Churchill, jokes is very serious thing. Saya sangat setuju. Menurut saya, melawak harus cerdas, harus mengerti isu-isu apa yang sedang berkembang. Akan basi kalau kita menertawakan isu tahun 1965, misalnya. Untuk itu, saya selalu up to date isu-isu terbaru. Dalam melawak, saya termasuk idealis. Saya tidak mau melontarkan lawakan yang pernah dipakai orang lain. Selain itu, juga harus melihat segmentasi penonton. Saya mau sok pinter membawakan lawakan tentang koruptor, tapi, jika penonton saya anak-anak usia 15-20 tahun, tentu tidak sesuai.
Daria Rani Gumulya