Siap melakukan refleksi? Anda tak perlu tempat khusus, kok. Tiap momen ketika Anda sendiri, Anda bisa mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidup Anda. ”Bagi rata-rata individu usia 20-an dan 30-an, urusan karier dan percintaan menjadi hal paling penting, jadi tak heran jika perenungan Anda tak jauh-jauh dari dua urusan itu,” ujar psikolog keluarga, Roslina Verauli, M.Psi.
Dalam karier, misalnya, hal-hal ini mesti jadi perenungan secara berkala:
- Apakah Anda menemukan tantangan dan kepuasan dalam bekerja? Atau sebaliknya, Anda merasa yang paling bodoh di kantor, seperti terasing dan tidak sesuai kompetensi Anda, sehingga kerap merasa tertekan?
- Apa yang sudah Anda capai? Apakah Anda merasa karier Anda tidak tumbuh dan berkembang, bahkan sudah tiga tahun tidak pernah mendapat promosi berupa kenaikan jabatan atau gaji?
- Apakah tuntutan pekerjaan yang tinggi, termasuk tuntutan psikologis, tidak sepadan dengan reward yang begitu kecil? Reward tidak melulu soal gaji, tapi juga kesempatan untuk mengembangkan diri, seperti kesempatan mengikuti training atau kursus, pengakuan atau apresiasi dari perusahaan, seperti hadiah, promosi, dan lain-lain.
- Apakah Anda sudah mulai merasakan gejala psikosomatis seperti sakit kepala atau perut saat berangkat ke kantor? Merasa burn out, lelah, frustrasi, dan mengalami penurunan performa? Kehilangan gairah sama sekali untuk pergi ke kantor, bahkan membayangkan berada di kantor saja rasanya tidak menyenangkan?
- Saat usaha Anda tidak memberikan perubahan, sebaiknya Anda berhenti dan merenung, apakah Anda bahagia?
Dalam kehidupan percintaan, untuk menjawab segala kegalauan, Verauli menyarankan untuk sesekali melakukan pengukuran-pengukuran soal:
- Keintiman. Seberapa sering Anda menghabiskan waktu bersama kekasih atau pasangan sehingga Anda berdua bisa saling terbuka dan tahu tentang diri masing-masing. Siapa tahu, setelah di-review, ternyata Anda hanya mengenal kekasih tanpa tahu teman-teman pergaulannya siapa dan seperti apa, tidak pernah dikenalkan pada keluarganya, bahkan mungkin Anda tak betul-betul tahu ia bekerja di mana.
- Passion. Apakah ia mencintai dan mengagumi Anda seutuhnya, atau ternyata ia hanya tertarik pada seks. Passion tidak hanya tentang seks dan ketertarikan secara fisik, tapi apakah ia punya keinginan untuk selalu bersama Anda dan menyempatkan diri untuk Anda. Ia juga tidak akan mencela kekurangan Anda, karena di matanya Anda segalanya.
- Komitmen. Apakah ia mampu menjamin hubungan Anda berdua eksklusif, hanya ada Anda dan dia. Jika Anda bisa jujur melihat itu semua, Anda akan bisa paham, apa yang Anda inginkan dengan hubungan Anda. Jika ini diteruskan, apakah Anda bahagia? Jika hubungan ini tidak diteruskan, apakah Anda akan bisa lebih bahagia?
Mungkin bagi sebagian orang melakukan refleksi adalah hal mudah, tapi ternyata bagi sebagian yang lain tidak. Tak semua bisa berakhir positif. ”Bagi sebagian orang tak mudah untuk melakukan refleksi. Karena kadang-kadang kita terjebak sendiri dalam pemikiran kita. Boro-boro mendapat pencerahan, pertanyaan-pertanyaan dan kenyataan yang kita temukan terkadang malah membuat kita makin sedih dan terpuruk,” ungkap Verauli.
Itu sebabnya, terkadang kita butuh bantuan orang lain yang akan membimbing kita agar kita bisa ‘masuk’ ke dalam diri kita dan menemukan jawaban itu sendiri, tanpa menyalahkan diri sendiri. Dengan begitu, tujuan akhir refleksi diri yaitu bisa membantu kita menjadi manusia yang lebih sehat dan sejahtera secara emosional, tercapai. Jika orang yang dikatakan sejahtera secara finansial adalah orang yang tak lagi khawatir akan kondisi keuangannya, orang yang sejahtera secara emosional adalah mereka yang paham dirinya secara utuh dan memiliki kendali atas dirinya.
Nuri Fajriati