Menurut Eleanne Hattis, Direktur Penjualan Waze untuk kawasan Asia Pasifik, Waze mampu merekomendasikan rute berdasarkan jarak dan kondisi macet yang dilaporkan pengguna. Aplikasi hasil temuan Uri Levine dan Amir Shinar ini memang memungkinkan para penggunanya melaporkan lalu lintas secara aktif lewat chatting, dan pasif melalui pengaktifan Waze saat sedang berkendara. Waze, yang pada dasarnya berfungsi seperti GPS, merupakan software navigasi gratis yang bisa dipakai di mana pun di dunia.
Waze juga mengaryakan penggunanya untuk berbagi informasi dan situasi lalu lintas. Waze mampu memilihkan rute terbaik berdasarkan jarak dan kondisi macet yang dilaporkan para Wazers (pengguna Waze) melalui fitur chit chat, sehingga laporan kemacetan yang dihasilkan pun bersifat langsung. Rute yang mengalami kemacetan ditandai garis berwarna merah.
Tak kalah inovatif, di Indonesia sendiri ada Nadiem Makarim dan Andreas Aditya yang membangun aplikasi Go-Jek dan Nebengers. Berawal dari keprihatinan Nadiem pada kemacetan Jakarta yang makin memburuk. Ia pun berpikir, para pekerja kantoran dan pengguna jalan pasti memerlukan transportasi alternatif yang lebih cepat untuk mencapai tujuan.
“Sebagai pengguna ojek, saya sering bertanya kepada tukang ojek. Mereka mengatakan, tiap ojek ada pangkalannya dan berlaku sistem antre. Makanya, saya pun tergerak untuk menciptakan jasa ojek berbasis Google Maps, agar cara kerja para tukang ojek jadi lebih terkoordinasi,” kisah Nadiem.
Sedangkan bagi Andreas, yang mengedepankan konsep sharing dalam temuannya ini, awalnya tak mudah mendirikan Nebengers karena banyak orang belum percaya atau berani untuk menumpang atau memberi tumpangan kepada orang lain. Namun, berbekal niat kuat membangun kepercayaan masyarakat bahwa masih ada orang-orang baik yang mau memberikan tumpangan, Andreas memulai proyeknya lewat Twitter @nebengers. “Dengan komunitas ini, selain mempererat persaudaraan juga menambah teman serta menjadi jalur networking baru untuk teman-teman berbisnis,” ujar Andreas.
Konsep keamanan jugalah yang paling diutamakan oleh Kiki Rizki, Head of Marketing GrabTaxi Indonesia. “GrabTaxi mengembangkan aplikasi yang bisa memenuhi kebutuhan penggunanya dan memberikan kenyamanan. Kami juga memastikan bahwa para mitra pengemudi dan operator taksi memiliki izin resmi,” cetus Kiki.
Secara sederhana, cara kerja aplikasi Uber sama dengan GrabTaxi, yakni mempertemukan pengemudi dan penumpang lewat jalur teknologi. Menurut Travis Kalanick dan Gareth Camp, pendiri Uber, ide ini tercetus saat mereka merasa butuh untuk memesan limousine secara instan dengan harga terjangkau. Di Indonesia, Uber mengembangkan layanannya menyewakan mobil premium dengan harga nyaris sama dengan taksi biasa. (f)