Hari Minggu pagi. Terkadang kesenangan menjadi lajang itu berubah menjadi hal membosankan. Hal yang membosankan itu bergeser menjadi hal menyakitkan. Seperti hari ini, seluruh temanku yang lajang, yang populasinya sudah makin langka, tidak ada satu pun yang available.
Bergegas kuganti baju. Kupilih bahan jeans dengan model baju monyet yang kedodoran, dalaman kaos putih longgar, dan topi biru tua. Penampilanku tidak keruan, tapi rasanya nyaman memakai apa pun yang kumau, tanpa peduli apa kata orang. Biar saja!
Aku keluar kamar dan menengok ruang tengah yang terletak di bawah. Sepi. Kututup pintu kamar rapat-rapat. Sekali lagi kuperiksa halaman depan yang berada di bawah kamarku. Tidak ada Siti, Ibu, atau Ayah. Aman. Aku berjalan ke cermin dan menarik napas panjang. Sekarang aku siap berjalan-jalan. Penuh percaya diri, meskipun tak punya teman atau pacar.
Pukul sembilan lewat. Suasana masih sepi. Sengaja kuparkir mobil agak terpencil dari dari areal pertokoan, yang sebagian besar merupakan tempat makan. Dengan berjalan santai, kususuri trotoar batunya dan melihat setiap foto menu yang dipamerkan pada setiap pintu masuknya. Matahari menyisip hangat lewat sela-sela dedaunan pada pepohonan yang tumbuh berjejer di sepanjang halaman muka toko-toko.
Di suasana senyaman ini, sebagian orang memilih untuk sarapan di meja-meja yang disediakan di bagian depan setiap tempat makan. Beberapa pasangan tampak menikmati makanan sambil membaca koran, saling mendiamkan satu sama lain, namun tetap bisa menikmati kebersamaan mereka. Aku? Tak ada yang lebih hebat. Pasanganku adalah pagi yang indah ini. Siap menemani. Mudah mengerti. Tidak marah dengan ketidakacuhanku.
Setelah berjalan beberapa lama, kupilih untuk minum kopi di tempat langgananku. Menyenangkan sekali merasakan dingin angin pagi yang meresap sejuk, terang mentari yang tak henti mengirim senyum, membaca novel yang belum sempat terbaca, sambil merasakan setiap ujung syarafku menggeliat bangkit, ketika cairan hitam itu direguk.
Bau kopi harum di pintu masuk membuat ujung lidahku merasa telah mencicipinya, bahkan sebelum cairan itu terminum. Pilihan yang tepat. Kubuka pintunya. Salah. Tidak tepat. Sangat tidak tepat. Sungguh pilihan keliru! Mungkin elevator di kantor patuh dengan sumpah serapahku. Tapi, tidak dengan seluruh penjuru kota yang lainnya.
Aku hanya membeku, seperti katak yang terpesona melihat roda mobil yang akan melindasnya. Sekarang sudah tidak mungkin lari lagi. Bowo. Ia ada di dalam dengan tangan yang masih menahan cangkir di udara. Menatapku, sama terkejutnya. Beberapa detik kami hanya saling menatap. Memilah respon, meraba reaksi. Lalu, ia tersenyum. Aku lega luar biasa dari hukuman rasa bersalah. Ia sama sekali tidak membenciku.
Ia menyeberangi garis tengah ruang dan meraih tanganku, lalu mengguncang-guncangkannya. Wah, ini, sih, Bowo yang berbeda. Kuingat dia dulu selalu kaku dan malu-malu.
“Bowo, sudah lama sekali kita tak bertemu.”
Kulihat wajahnya, ia memang kelihatan lebih cokelat. Entah kenapa, rasanya ia terlihat lebih pantas berkulit lebih legam daripada dulu. Ia kelihatan macho! Kalau aku mau rela mengakui, ia sekarang memang memesona. Dan, aku, astaga! Baru teringat pada baju rombengan yang kupakai. Kenapa tadi tidak siap perang dengan memakai kaos ketat merah, rok putih, dan sepatu hak tinggi bertali? Seharusnya aku tahu, pergi ke mana pun selalu bersiko bertemu teman lama. Bertemu mereka, berarti jangan pernah sampai memberi kesan bahwa hidupmu sekarang lebih tidak beruntung darinya!
Tapi, kecemasanku terhapus.
“Re, kamu kelihatan hebat.” Dipandanginya aku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
”Bagaimana kabarmu, Wo?”
“Aku sudah setahun menikah.”
Jantungku berdebar. Apakah keterangan itu membuatku menyesal?
Pesananku datang, kureguk sedikit. Perasaanku lebih tenang.
”Istrimu mana?”
Bowo terdiam, wajahnya mengeras. Apa yang salah? Rupanya, sesuatu yang dilihatnya telah merebut semua perhatian. Aku terkejut ketika ia tiba-tiba ia berdiri. Dari belakangku terdengar langkah tergesa-gesa mendekat. Belum sempat menyadari yang terjadi, kulihat kopiku disambar seseorang dan menyiramkan isinya ke arahku. Aku terpekik, lalu cepat berdiri. Namun, cairan panas itu masih sempat menyiram bagian bawah tubuhku.
”Ooo, ternyata, kamu di sini, ya? Kencan dengan wanita lain? Kamu!” katanya, menunjuk aku, tak tahu malu bermain dengan suami orang!”
Hei, aku tidak ada urusan dengan suamimu. Kopiku bagaimana? Baru dihirup satu teguk. Kusambar tas dengan kasar dan berjalan pergi dengan langkah lebar dan cepat. Sadar nggak, sih, bahwa yang merebut Bowo itu kamu! Dia dulu kekasihku. Harusnya, pagi ini aku masih mengobrol dan bercanda dengannya. Harusnya, aku tidak menghabiskan sisa hari ini dengan kesepian. Harusnya, aku tak pernah menolak Bowo.
Bowo berlari mengejarku, menjajari langkahku. Ia menahan tanganku. Kutepis dengan kasar dan mencari-cari kunci yang memang selalu sulit ditemukan pada saat-saat yang genting. Ketika kutemukan, kubuka mobil dengan tergesa. Bowo menahanku agar tidak bisa masuk ke dalam mobil.
Dengan ganas kutatap matanya. Ia memandangku dengan tegar, namun sedih. Sorot itu meleburkan seluruh keberadaanku. Kemarahanku hilang dalam larutan pesonanya. Aroma tubuhnya yang jantan menggilas hancur semua batas dan memelintir kewarasan akal sehat. Ia begitu tampan.
Kudorong ia ke dalam mobil. Kurampas bibirnya dengan bibirku. Biar istrinya mati melihat kami! Biar dia tahu rasa! Tiba-tiba aku terpekik, karena ia membalas dengan begitu bergairah. Kami terus berciuman, meskipun napas makin sulit dicari.
Tiba-tiba aku tersadar sesuatu. Kudorong tubuh Bowo. ”Keluar! Keluar sekarang! Keluar!”
Kunyalakan mobil dan kujalankan dengan kasar. Tuhan, apa yang telah kulakukan? Tubuhku masih menggeletar oleh gelora. Bibirku masih kebas oleh bekas bekapan bibirnya. Rasa besi dari kulit bibir yang mengelupas meracuni udara di mulutku. Aku menangis.
Hari kedelapan
Senin pagi. Aku tak ingin ke kantor. Tak ingin bangun. Tak ingin ingat apa yang terjadi kemarin. Tak ingin aku pernah ada. Bodoh benar! Mabuk di Jumat malam. Mencium suami orang di hari Minggu.
Ingatan bahwa upacara semalam untuk Aphridote lebih banyak berisi makian, membuatku merasa makin kehilangan pegangan. Sudah satu minggu. Tapi, tidak ada yang terjadi. Aku mulai cemas, apakah engkau benar-benar ada, Aphrodite? Semalam kugeser kembali kedua lilin itu. Sudah hampir bertemu di tengah gambar hati.
Mungkinkah hanya dalam sisa separuh waktu ini, aku berhasil menemukan seseorang yang sudah kutunggu hampir separuh hidupku? Apakah kamu memang hanya murni hasil fantasi dan imajinasi orang yang lelah menghadapi realitas. Ataukah, kamu di atas sana sedang tertawa-tawa, Aphrodite? Karena, kalau kamu memang bekerja seperti seharusnya, tidak akan banyak kemalangan cinta bertebaran di muka bumi ini. Lihat saja selama ini. Begitu banyak kisah yang terjadi, namun hanya merupakan tambahan ironi dalam lembar-lembar buku kehidupanku.
“Aphrodite, kamu sama sekali tidak membantuku. Jika kau memang Dewi Cinta, dalam dua hari ini kamu harus mempertemukanku dengan pasangan hidupku. Kamu benar-benar dewi yang tidak becus dalam bekerja. Jangan sampai aku menganggapmu cuma wanita payah yang tidak punya kekuatan. Berhentilah bermain-main. Jangan coba-coba menjodohkanku dengan orang yang lebih parah dari yang kemarin-kemarin. Jangan sampai berani melakukan itu. Bantulah aku. Segera!”
Kuingat bagaimana lilin kutiup dengan sangat cepat. Sama sekali bukan upacara pemujaan.