Health & Diet
Apa Itu Disorder of Sexual Development?

29 Jan 2013


Disorder of Sexual Development (DSD) atau kelainan perkembangan seksual bisa terjadi pada bayi laki-laki maupun perempuan. Menurut dr. Ahmad Zulfa Juniarto, Spesialis Andrologi di FK UNDIP/RS Dr. Kariadi, Semarang, dalam beberapa kasus, kromosomnya laki-laki. Tapi, karena terjadi gangguan perkembangan pada testis, membuat organ kelaminnya tidak tumbuh.

Testis merupakan pabrik hormon testosteron (hormon laki-laki). Kurangnya paparan testosteron menyebabkan pertumbuhan ke arah laki-laki menjadi setengah-setengah, yang mengakibatkan bayi lahir dengan jenis kelamin ambigu.

Ada penderita yang mengalami hipospadia scrotalis, yaitu lubang urine bukan di ujung penis, melainkan di bagian pangkal bawah penis, dekat skrotum. Skrotum (kantong pelir) pun kecil dan bentuknya terbelah, sehinga seperti bibir vagina. Mungkin, inilah yang menyebabkan seseorang lebih dianggap sebagai wanita saat ia lahir. Waktu itu DSD belum banyak dipahami, apalagi di daerah.

DSD dalam porsi ringan hingga berat cukup banyak terjadi, dengan angka kejadian satu di antara 4.500 kelahiran di dunia. Penyebabnya, dari gen atau kromosom yang dibawa oleh orang tuanya atau lingkungan, seperti radiasi, terpapar pestisida, zat kimiawi, atau pemakaian obat-obatan yang tidak diperlukan semasa kehamilan, termasuk obat penguat kandungan tanpa pengawasan dokter.

Advertisement
DSD bisa diterapi lewat terapi hormon untuk membantu memperbesar ukuran penis ataupun melalui operasi. Operasi diperlukan untuk memperbaiki kelainan atau kecacatan yang terjadi. Pertama, memperbaiki penisnya supaya tegak karena ada daging lengket ke penis sehingga bila ereksi, penisnya jadi melengkung ke dalam. Kedua, memindahkan lubang urine dari bawah ke ujung penis. Ketiga, menyatukan skrotum.

Terapi DSD ini bisa dilakukan sejak dini, yaitu pada usia anak 1,5 tahun untuk menghindari efek psikologis di kemudian hari. Cara ini hanya bisa membuat penampilan penis menjadi normal secara fisik. Namun, untuk fungsi seksual, terutama kesuburannya, perlu terapi lanjutan.

Apabila jenis kelamin anak ambigu, maka orang tua harus bersabar dulu dan tidak terburu-buru menetapkan jenis kelaminnya. Berikut ini 5 pemeriksaan yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam menetapkan jenis kelamin anak: 

  1. Genetis, tipe kromosom apakah XY (pria ) atau XX (wanita)?
  2. Hormon, apakah cenderung memiliki testosteron (hormon pria) atau progesteron (hormon wanita)?
  3. Gonad. Anak itu punya testis (laki-laki) atau ovarium (wanita)?
  4. Organ kelamin dalam. Apakah dia punya kandungan, atau punya prostat?
  5. Gender assignment dari tes psikologi.
  6. Pemeriksaan ini bisa dilakukan sejak kelahiran anak, dan biasanya memakan waktu selama satu bulan. (f)





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?