<<< Cerita Sebelumnya
“Duduk, Lis.”
Reza Kuncoro memberi isyarat ke arah meja meeting bundar di pojok ruangan. “Kamu sudah dapat kabar dari Sean Mackintosh?”
“Sudah. Dia setuju pindah ke kita, Pak.” Lisa mengeluarkan berkas proposal dari dalam folder transparan di tangannya. “Saya sudah minta Anna untuk mengirimkan perjanjian ke mereka. Nanti saya akan menginstruksikan bagian iklan untuk mulai mendesain materi promosi untuk majalah dan televisi.”
“Bagus.” Reza menarik kursi di seberang Lisa dan mengamati kertas-kertas yang tersebar di depannya. “Bagaimana dengan Pacific Dairy?” tanyanya.
“Masih belum ada kabar dari presdir mereka, Pak.” Lisa menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Menurut mata-mata kita di sana, mereka harus menunggu approval dari m ajor shareholder mereka di Cina. Tapi, saya optimistis, mereka tetap akan menggunakan kita sebagai distributor tunggal mereka. Selama tiga tahun terakhir ini, saya tahu mereka sangat puas dengan servis yang sudah kita berikan.”
Reza mengangguk. “Kalau belum ada kabar sampai dengan akhir minggu ini, kamu ingatkan saya. Nanti saya akan kontak langsung presdir mereka.”
“Oke. Berikutnya,” Lisa meletakkan lima mangkuk styrofoam dengan lima jenis desain berbeda di atas meja. “Contoh packaging baru cup noodles untuk Sun Fa. Saya sudah minta desain yang ketiga dan kelima ini,” Lisa mengambil dua buah contoh dan menyerahkannya ke Reza. “Supaya warnanya sedikit dipercerah. Supaya lebih mencolok dari produk kompetitor,” lanjutnya.
“Well done,” Reza mencopot kacamatanya dan menggosoknya ke lengan kemejanya. “Nanti malam, kita jadi entertain Presdir Belrasa International?”
“Jadi, Pak.” Lisa mengangguk. “Jam tujuh, Hotel Mulia. Lulu sudah memesan tempat di Le Bijoux untuk enam orang.”
“Lima orang,” Reza kelihatan lelah. “Monik tidak bisa datang. Jadi nanti hanya saya, kamu, dan mereka. Sebenarnya Monik ingin hadir, karena mereka klien terbesar kita. Lebih baik kalau putri dari owner Widjojo Group ikut untuk menunjukkan kesungguhan kita menangani produk mereka. Tapi, kesehatan Monik sedang memburuk beberapa hari ini.”
Lisa menganggukkan kepalanya lagi. “Saya yakin mereka pasti mengerti. Ada lagi, Pak?”
“Itu saja dulu.” Reza menatap Lisa dengan pandangan lurus-lurus. “Sampai ketemu nanti malam, ya.”
Langkah Lisa terhenti di depan pintu ruangan Reza, ketika ia melihat tiga sosok berdiri berkerumun di daerah sekretariat: Lulu, Anna, dan Erli, salah satu staf bagian GA. Lisa pelan berjalan menghampiri mereka, daun telinganya menegak untuk menangkap bisikan ketiga wanita itu.
“Yang aku dengar, sih, gara-gara Bu Monik sakit-sakitan….”
“Memang sakit apa dia? Lu, kamu mestinya tahu, dong?”
“Gosipnya, kena leukemia, An. Sekarang lagi terapi. Makanya, si bos jadi tidak betah di rumah....”
Lisa mendehem dengan keras. Sontak ketiga penggosip itu melompat kaget, dan berbalik menatap Lisa dengan mata lebar.
“Anna, tolong reservasi untuk dinner nanti malam, kamu ganti jadi untuk lima orang saja. Bu Monik tidak bisa ikut.” Lisa berbalik dan berjalan kembali menuju ruangannya.
Biarkan saja mereka berspekulasi, menggosip, dan menebak-nebak. Toh, ia tidak perlu peduli.
“Wine-nya lagi, Bu?”
“Boleh, setengah saja, Mas. Terima kasih.”
Lisa mengangkat gelas kristal berisi anggur merah itu ke bibirnya, sambil mendengarkan Reza berbincang-bincang dengan keluarga Jacques. Pandangan Lisa menyapu ke sekitarnya, ke seluruh restoran mewah berdekor klasik itu. Alunan musik jazz yang sayup-sayup memenuhi ruangan membuat Lisa agak sedikit mengantuk, apalagi setelah perutnya penuh dengan potongan ikan salmon dan oyster segar.
Rasanya, kalau bisa, saat ini juga ia ingin berdiri dan pulang, mengistirahatkan tubuhnya di ranjangnya yang supernyaman. Persetan dengan klien mahapenting ini. Tapi, Lisa tahu bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi. Ia belum bisa beristirahat setidaknya untuk tiga-empat jam lagi.
“Merci pour ce délicieux dîner (Terima kasih untuk makan malam yang lezat ini). Tolong sampaikan salam saya pada Ibu Widjojo. Semoga Madame Monik segera sembuh!”
“Terima kasih, Monsieur Jacques.” Reza menjabat hangat tangan pria bertubuh gempal itu, sambil menunggu sopir datang menjemput. “Lisa akan menghubungi kantor Anda besok, untuk membereskan poin-poin yang kita baru saja bicarakan.”
“Bon! (bagus sekali). Selamat malam!”
Reza melambaikan tangannya, dan setelah sedan bercat emas itu hilang dari pandangan, menolehkan kepalanya ke arah Lisa. “Bagaimana feeling kamu?”
“Menurut saya, semua tampaknya berjalan mulus, Pak.” Lisa nyengir lebar, lega, seolah sebuah beban berat telah terangkat dari pundaknya. “Kelihatannya Monsieur Jacques cukup puas bahwa produk mereka dipegang oleh tangan yang tepat. Saya yakin besok, saat kita mengirimkan berkas renewal distributorship kita, mereka tidak akan ragu lagi untuk menandatanganinya.”
“Feeling-ku juga begitu.” Reza tersenyum lembut, tangannya meraba halus lengan Lisa. “Ini semua berkat kerja keras kamu, Lis.”
“Saya dan seluruh tim di Widjojo, Pak.” Lisa merendah. “Dan berkat bimbingan Bapak, dan Bu Monik tentunya.”
Reza hanya mengangguk singkat, bola matanya berubah kelam. Topik pembicaraan pun langsung berganti. “Kita jalan sekarang, Lis. Kalau tidak, nanti saya kemalaman sampai rumah, Monik bisa curiga. Saya ngikuti kamu?”
Lisa mengedipkan matanya, genit. Kali ini tangannya yang meraih dan membelai lembut jemari Reza. “Boleh saja.” Ia mencondongkan badannya dan membisikkan sesuatu ke telinga pria itu, membuatnya tersenyum puas.
“Ayo, kita pergi, Sayang,” Reza menyambar tangan Lisa dan mengajaknya pergi, menjauh dari keramaian.
“Gimana meeting kemarin, Lis?”
Lisa mengangkat kepalanya. Anto sedang bersandar di pintu ruangan Lisa, tangannya terlipat di dada. Dalam hati, Lisa mengutuk dirinya sendiri. Kenapa tadi ia bisa lupa menutup lagi pintunya setelah Anna keluar?
“Lancar, To. Mereka bersedia meneruskan kontrak mereka dengan Widjojo,” sahut Lisa singkat. “Ada lagi?”
Rupanya, Anto tidak menangkap sinyal berbahaya yang dipancarkan Lisa. Ia mendorong tubuhnya dan berjalan menghampiri Lisa. “Bagus, dong. Lalu bagaimana entertainment setelah meeting, kalian ngapain saja?” Anto mengedipkan matanya, pesan yang tersirat jelas.
Lisa mengatupkan mulutnya, kesal. Tapi, ia tetap memaksa sebuah senyum untuk menghiasi mulutnya, dan menjawab, “Ah, mau tahu saja! Itu rahasia top management, dong. Nanti kalau kamu sudah di posisi saya, kamu baru boleh tahu.” Ia mengedipkan matanya juga, untuk meringankan jawabannya barusan.
Pria di depannya itu hanya menyeringai lebar.
“Tolong tutup pintunya kalau kamu keluar, To. Saya tidak mau diganggu pagi ini.”
Begitu Anto menutup pintu di belakangnya, Lisa mengembuskan napas dengan keras. Ia bukan orang bodoh. Ia tahu bahwa Anto sudah lama curiga bahwa ada yang lebih dari hubungannya dengan Reza. Entah sudah beberapa ratus kali Anto menyindir Lisa.
Lisa melirik pesawat telepon. Ia teringat foto anak-anak Anna kemarin, membuat hatinya kembali sakit. Ia mengulurkan tangan, ingin mengangkat pesawat telepon itu, ingin memutar nomor yang ia hafal luar kepala itu, ingin mendengar suara-suara renyah yang ia rindukan itu.
4 … 7 … 0 … 3 … 9 …
Lisa membanting pesawat telpon. Tidak. Untuk apa? Malah hanya akan menyakiti hatinya lagi. Toh, Meisy dan Martin juga tidak pernah merasa kehilangan ibunya. Mereka tidak pernah menelepon, mereka tidak pernah datang ke rumah Lisa. Jelas mereka tidak membutuhkan dirinya. Untuk apa ia mencari mereka?
Penulis: Cynthia Marceline