Fiction
Alissa [4]

28 May 2012


<<<  Cerita Sebelumnya

“Noor. Dengarlah. Tidakkah ia katakan padamu: aku meninggal ketika ia remaja? Tidakkah ia katakan Paul Law itu penulis skenario? Yang bercakap-cakap sendirian ketika menulis naskah? Yang memukul-mukul tembok dan menyeret kursi? Yang membawa calon pemain drama ke rumahnya? Itukah yang dia katakan padamu?”

Saya mengangguk. Bibir saya, terasa kering.

“They are all lies. Tidak satu pun yang benar. Tak ada Meldwin. Paul Law adalah suami Alissa. “

Cukup. Cukup. Biar saya bertemu Alissa dan saya tanyakan sendiri.

“Alissa tak perlu berbohong pada saya,” kata saya mantap. “Anda juga tentu tahu bahwa di lantai empat ada dua unit apartemen. Yang kiri punya Alissa dan Meldwin. Yang kanan….”

“Pernahkah Anda masuk ke sana, Noor? Pernahkah?”

Saya terdiam. Saya tidak pernah masuk ke tempat Alissa.

“Jika belum, tanyakanlah pada seluruh penghuni flat kita: berapa unit ada di lantai itu. Satu, Noor. Satu. Pintunya dua, kiri dan kanan. Tapi yang kanan hanya berfungsi sebagai dekorasi.”

Saya sesak napas. Hanya mata saya mengerjap-ngerjap.

“Anda tak akan percaya, sampai Anda lihat sendiri semuanya.”

“Maksud Anda, Mam?”

Dorothy mengusap air matanya.

“Anda akan tahu, Noor. Akan tahu. Maaf, saya harus pergi. Tapi, kalau Anda bertemu Alissa,”tangan keriput itu menyentuh bahu saya. “katakanlah, ibunya menunggu dia.”

Saya menatapnya. Saya teringat, ibu saya juga menunggu saya. Tiba-tiba sekali, saya merasa, Dorothy tak berdusta pada saya.

Saya dan Titus makan pizza terlalu banyak malam itu. Kami kekenyangan dan langkah kami sangat lambat dan malas. Langit berbintang terang dan kami berjalan bergandengan. Saya beberapa kali menatap wajah Titus dalam keremangan. Membayangkan wajah bayi kami yang mungkin saja akan mengambil bagian wajah pria di sebelah saya itu.

“Waduh. Ada apa ini,”desis Titus menghentikan langkah.

Saya mengangkat kepala, terkejut.

Beberapa orang berkumpul di halaman flat kami. Beberapa dengan handy talky, seperti penjaga gedung, tampaknya. Saya ketakutan, saya cekal lengan Titus kuat-kuat. Kami sedikit terlambat untuk tidak masuk ke halaman....

Belum habis kecemasan saya, saya lihat sosok itu. Dorothy.

“Noor?! Noor! Oh. Oh,”katanya terengah-engah.

“Dorothy,” saya merangkulnya. “Tenanglah. Ada apa?”

“Mengapa mereka lama sekali?”

“Siapa?”

“Saya sudah menelepon 999. Oh. Alissa.Oh,” ia menggeleng berkali-kali.

Advertisement
“Mereka pasti segera ke sini,” Titus tersenyum dan membawa Dorothy ke bangku di dekatnya. “Siapa yang sakit, Mam? Ada apa?”

Dorothy belum membuka mulutnya ketika mobil putih itu datang. Dan orang-orang berlarian keluar. Dan ketenangan sekejap, berganti dengan kepanikan yang lebih hebat.

Titus mendudukkan saya. Dikecupnya kening saya.

“Jangan ke mana-mana. Diamlah di sini.”

Semua berlangsung begitu cepat. Begitu cepat. Orang-orang berlarian. Dorothy menangis. Kereta dorong. Lift yang tertutup dan terbuka lagi. Dan...Alissa! Alissa! Tuhan, itu betul-betul Alissa.

Saya menjerit. Di depan mata saya, saya lihat wajahnya yang hancur. Lebam. Matanya hitam dan bibirnya penuh luka. Rambutnya basah. Tulang pipinya lebih menonjol lagi dari terakhir saya bertemu dia.

Dua minggu saya tak melihatnya. Saya tak dengar apa-apa. Dan, oh, dia….

Saya merasa orang hilir-mudik di sekitar saya. Petugas paramedis. Polisi. Saya tidak tahu persis. Semua berseragam. Semua bergerak. Dengan hati hancur, saya sempatkan diri merebut tangan Alissa. Menggenggamnya.

“Kamu kenali saya, Alissa? Kamu lihat saya?” kata saya dengan mata berlinang.

“Noor.” Alissa meraih wajah saya. “I am sorry,” katanya tersenyum getir. “There is no Meldwin. Tak ada siapa-siapa. Tidak ada penulis skenario yang hebat itu. Tidak ada. Hanya ada seorang istri yang bodoh dan pria yang egois.” Dia memeluk saya. “Saya bohong tentang semuanya. Saya tak pernah jadi apa pun. Tidak guru musik. Tidak juru rawat. Saya tidak pernah ke Nepal. Ghana. Montreal. Mana pun. Saya hanya mengikuti dia ke mana dia pergi. Tak berdaya sama sekali. Jiwa saya sudah mati... Noor. Mati. Mati.”

Saya menangis melihat air matanya jatuh.

“Saya sakit sekali, tapi tak mungkin saya meninggalkan dia....”

“Alissa, pergilah. Engkau akan baik-baik. Engkau akan sembuh. Bercerailah dari dia. Tinggalkan dia,”bisik saya di telinganya. “Saya masih ingin sarapan dengan kamu.”

Kami berpelukan. Saya rengkuh tulang dan kulit tipis di depan saya. Dia betul-betul tak berdaya. Saya belai pipinya yang merah tua. Saya ingat, ia selalu tertawa. Ia sungguh jelita. Ia, juga, sungguh menderita.

“Nanti saya jelaskan semuanya, Noor. Kalau sempat. Kamu membuat saya begitu bahagia, meski sekejap.”

Saya hapus air mata saya. Lalu air matanya. Tangan Titus, saya rasakan menarik saya.

“Pergilah, Alissa.”

Sesaat, saya lihat Dorothy.

“Kembalilah pada ibumu kalau kamu sudah sembuh, ya?” bisik saya sambil mengusap rambutnya yang basah. “Berjanjilah pada saya, Alissa. Berjanjilah kamu akan kembali pada ibumu.”

Alissa menatap saya tak lepas. Saya lihat ia mengangguk pelan. Saya peluk dia sekali lagi.

Mereka menarik kereta itu dari hadapan saya. Memaksa saya menjauh dari Alissa. Titus menarik badan saya. Saya tak punya kekuatan apa-apa menahan Alissa, betapapun saya ingin. Orang-orang berkerumun, menelan Alissa. Saya sempat lihat, mereka memasukkan tubuh kurusnya ke dalam mobil putih. Saya menggenggam erat-erat lengan Titus.

Dorothy membenamkan wajahnya di bahu saya.

“Mereka menangkapnya. Mereka menangkapnya. Mereka bawa pergi bajingan itu....”

Bayangan Paul menari-nari di pelupuk mata saya. Bagaimana saya ketakutan atas tatapannya yang tajam, di tangga waktu itu. Oh. Ia yang menyeret teman saya. Dan bunyi-bunyi itu? Oh. Itu badan sahabat saya yang dia benturkan ke mana-mana. Oh. Dan suara tangisan yang memilukan hati itu? Itu Alissa yang hancur....

Jiwa saya terasa hilang separuh.

Pada rangkulan Titus, saya rebah. (Tamat)


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?