“Aku ingin berada dalam dekapan Cutbang lama-lama,” bisik Fatimah.
Ketiga wanita itu mencoba memegang tubuh itu. Mereka memegang dua tangan Sabalah yang sudah kaku. Suhaibah memegang tubuh dari belakang dengan kedua tangannya. Kedua tangan Suhaibah dimasukkan ke bawah ketiak. Sedang Fatimah berada di depan.
“Sebentar, aku masih ingin memeluk Cutbang!” larang Fatimah.
“Kita bawa pulang saja dulu, nanti di rumah bisa memeluk lagi,” kata Suhaibah, setengah bergetar, dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak, aku mau di sini. Cutbang sudah beberapa senja tak pulang ke rumah. Aku sangat rindu padanya! Biasanya, Cutbang akan pulang saat menjelang subuh. Ia akan membelai dan memelukku, aku akan mendekapnya. Tapi, Cutbang sudah lama tak pulang. Kenapa kalian tak membiarkanku melepaskan rindu di sini. Bukan di rumah!”
“Tapi….”
Suhaibah tak melanjutkan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu. Gelombang kaca makin terpancar dari matanya yang mulai sayu. Ia berdiri memegang bahu Fatimah dengan tangan kirinya. Tangan kanannya membelai rambut Samiun yang sama sekali tak menangis.
Sedangkan Jamilah mencari dua pokok bambu di pagar yang sudah roboh. Pandangannya liar ke kanan-kiri. Matanya tak lekang memandang Fatimah bersama Habsah dan Suhaibah. Ia ingin menggunakan bambu itu untuk menandu tubuh Sabalah ke rumah.
“Belum lepaskah rindu Cutpo kepada Polem Balah?” tanya Suhaibah lagi.
“Baiklah. Tapi, aku akan mendekapnya lagi sampai di rumah. Aku janji!”
Suhaibah memberi kode kepada Jamilah dan Habsah agar segera memikirkan cara mengangkat tubuh Sabalah. Dua batang bambu yang diambil Jamilah dari pagar yang roboh didekatkan ke tubuh yang sudah dibaringkan di atas semak. Fatimah masih memegang wajahnya. Matanya tak lekang memandangi wajah Sabalah.
Fatimah mengeluarkan batik panjang itu. Jamilah mencoba memasangnya, tapi tak bisa. Habsah mencoba membalut tubuh bersatu dengan batang bambu dengan menggunakan batik itu.
“Cutma, jangan begitu, nanti Cutbang kesakitan!” Fatimah melarang.
Fatimah lalu membuka simpul sarungnya. Lalu, sarung yang dipakai dilepaskan, hingga hanya tinggal rok dalam yang dikenakannya. Setelah itu, ia melilitkan batik baru itu sebagai pengganti sarung yang sudah dilepas. Tubuh Sabalah dimasukkannya ke dalam sarung, lalu dimasukkannya dua batang bambu itu.
“Kalian jangan menyakiti Cutbang. Lihat cara membawanya!”
Fatimah mengambil posisi paling depan. Samiun tak dilepaskan dari gendongan. Kemudian, di belakangnya ada Habsah. Sementara, paling belakang, Suhaibah dan Jamilah. Keempat wanita itu mengangkut tubuh Sabalah dengan berjalan kaki lewat jalan setapak yang sudah ditutupi semak. Jalan yang tadi pagi digunakan.
Mereka tak pernah berhenti sepanjang perjalanan. Tak ada seorang pun yang berpapasan dengan mereka sampai gotongan tubuh itu mendekati tepi gampong. Tak ada siapa-siapa yang dijumpai.
Siapa-siapa yang membayangi gampong seperti bayang. Seperti mimpi. Seperti pikir. Hingga para lelaki gampong menjadi penakut. Lelaki gampong menjadi pengecut.
Ada dua orang lelaki yang langsung menunduk begitu melihat empat wanita masuk ke jalan gampong sedang menandu sesosok tubuh. Mereka melihat sekilas gotongan itu, lalu berlari dengan kencang ke meunasah. Sesampai di sana, secepat kilat mereka mengambil sepasang gagang, lalu mulai menabuh tambo (beduk).
Orang-orang terperangah. Pasalnya, mereka tak pernah mendengar lagi bunyi tambo, walau di gampong ada orang yang pergi.
Mereka bergegas keluar. Mereka kembali merasa asing. Karena merasa asing itulah, mereka harus keluar. Di zaman-zaman buruk, sesuatu yang asing harus dicari tahu, bila tak ingin mendapatkan masalah.
Ya, yang asing itu terasa karena tambo yang ditabuh itu tak berhenti juga. Pemuda penabuh tambo sesekali melihat ke halaman meunasah. Bila jumlah orang dirasa belum mencapai jumlah lelaki yang ada di gampong, ia belum berhenti menabuh tambo. Hingga seseorang membentaknya, ”Hei, ada apa? Siapa yang pergi?”
Dengan lantang, anak muda penabuh tambo berteriak. ”Kejantanan kita telah hilang. Hai, semua penakut, pergilah ke rumah Sabalah, jenguklah Fatimah!”
Pemuda itu lalu turun. Ia segera menuju ke rumah Sabalah. Lalu, orang-orang mengikutinya. Tapi, sebagian memilih pulang ke rumah masing-masing.
Sesampai di rumah, tubuh Sabalah baru sampai di pintu pagar. Mereka terpatung melihat empat wanita mengangkut sebuah tubuh. Mereka tidak berkeringat dan satu orang pun tidak mengeluarkan air mata.
Para orang gampong masih terpana, sebelum Habsah dengan keras mengatakan kepada mereka, ”Hei, kalian pulang saja ke rumah masing-masing!”
Fatimah memandikan sendiri tubuh beku itu. Sabalah dibaringkan di gua yang di bawahnya kayu bakar tersusun tak teratur. Air dinaikkan ke kamar oleh Suhaibah. Sebelum air diguyur, Fatimah memeluknya lama.
“Seperti janjiku, Cutbang, Cutdek akan memelukmu lama,” katanya, setengah berbisik ke telinga Sabalah.
Lalu, Fatimah meletakkan seluruh air di hadapannya. Dua lembar papan yang ada di gua dibuka dengan segera. Sebelumnya, Fatimah masih sempat menelungkup dan membuka matanya, untuk melihat lewat gua kecil ke bawah sana.
Lalu, tubuh itu mulai dibersihkan sampai ke segala relung. Sampai tak ada yang tersisa. Semua noda dibasuh sampai bersih, hingga sembilan liang yang berdiam di tubuh itu tampak jelas. Bahkan, Fatimah menemukan sebutir peluru yang tersisa. Semua lubang sudah tidak mengeluarkan darahnya.
Setelah air sudah dialirkan, ia lalu memindahkan tubuh itu ke samping gua. Seorang diri. Di sana, sudah disusun kain kafan. Ia langsung membalutnya dengan kain kafan hingga berlapis sembilan. Ia melakukannya dengan rapi. Setelah selesai, Fatimah lalu memanggil ketiga wanita itu untuk mengangkat tubuh itu ke ruangan tengah.
Itu tak berlangsung lama. Bardan dan beberapa lelaki sudah berada di rumah itu dan mereka tak meminta tubuh Sabalah dibasuh kembali. Biasanya, di gampong, ketika ada orang yang perlu dimandikan, maka teungku akan melakukannya bersama beberapa orang tua gampong.
Mereka lalu meminta izin pada Fatimah untuk mensalatkannya dengan segera. Tanpa sepengetahuan Fatimah, Bardan sudah menyuruh empat orang untuk menggali liangnya di sebelah barat rumah mereka. Di bawah ceceran daun cokelat yang belum dibersihkan oleh Fatimah. Tak lama menggali liang, karena tanahnya lunak.
Setelah salat selesai, Bardan dan empat pemuda gampong langsung menggotong tubuh Sabalah ke liang. Dengan beberapa doa dan sedikit talqin, Sabalah lalu dikuburkan. Tak banyak orang yang ada di sana. Hanya beberapa orang. Orang gampong sedang mengunci diri di dalam rumah masing-masing.
Fatimah lalu duduk di kepala kuburnya. Tak bangkit lagi. Setelah semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing pun, Fatimah dengan setia menunggu di makam. Ia tak berkata apa-apa, ketika menunggu Sabalah pulang.
Fatimah terus terduduk, walau matahari mulai turun. Lalu, senja. Ia tak juga bangkit. Samiun sama sekali tak menangis. Berkali-kali ia memanggil, ”Abu!” Samiun juga tak terlelap sedikit pun. Sama seperti Fatimah, yang menunggu Sabalah di tepi makam.
Ketika fajar yang disusul mentari pagi menyinari jagat, tangan Fatimah meremas-remas tanah makam. Ia masih tak bergerak, bahkan ketika sampai ada berita dari ujung gampong: tiga wanita tergeletak di jalan dengan sembilan liang pada masing-masing tubuh mereka.
Fatimah ingin bangkit, tapi tak mampu. Ia sangat ingin melihat tiga wanita itu. Apalagi, ia dengar ada sembilan liang di masing-masing tubuh mereka. Ketika sekali lagi ia mau bangkit, tiba-tiba jagat jadi gelap dalam sekejap. Sebelum semuanya terhapus, ia mulai mendengar Samiun menangis lagi.
(Tamat)
Penulis: Sulaiman Tripa
Pemenang Ketiga Sayembara Mengarang Cerber femina 2006