Fiction
Akhirnya Senja [7]

30 May 2012

<< cerita sebelumnya

Begitu sampai di pagar kebun yang dituju, Fatimah melangkah lebih dahulu. Sehelai batik solo panjang yang masih baru, diapit di tangan kanannya. Samiun, tak seperti pagi kemarin, tak menangis terus-menerus. Ia tampak tenang dalam gendongan, walau kondisi sangat sepi.

Ya, kebun pinang itu.

Kebun yang tidak ada lagi penanda, karena kawat duri sebagai pagar sudah tak terlihat lagi. Mungkin, sudah jatuh ke tanah dan pemiliknya tak berani memperbaikinya, sehingga kebun ini terlihat bagai tak ada pemilik. Semak belukar sudah setinggi pinggang.

Hanya pohon pinang yang mengelilingi kebun, yang dapat ditandai sebagai pembatas. Mungkin, pagar berada di dekat pohon pinang yang berjejer. Di dalam kebun itu juga ada pohon kelapa dan pohon cokelat. Dari jauh, kebun itu tampak seperti hutan besar, karena tanamannya tak pernah dirawat.

Kebun itu sangat luas. Mungkin sampai empat hektar. Dengan semak belukar yang lebat, mereka tak bisa melihat, bila ada orang di sudut yang lain.

“Kita tak boleh berpencar!” tegas Jamilah.

“Husss, jangan berbicara!” kata Habsah.

Tak ada lagi yang berbicara setelah itu. Keempatnya hanya memandang dari sudut ke sudut yang lain. Mereka mencari kalau-kalau ada Sabalah di sana. Mereka tak memanggil atau menjerit.

“Cutbang pasti tak akan mendengarnya,” kata Fatimah, yakin.

Suhaibah lalu menemukan sebuah penunjuk. Beberapa semak yang sudah patah-patah. Semak yang ditemui di sana adalah putri malu yang berduri dan batang seraput. Lalu, mereka mengikuti deretan semak yang patah-patah itu. Tak jauh dari sana ditemukan sebuah balok kecil yang terdapat sembilan titik darah di gagangnya.

Semak patah-patah seukuran pinggang itu sangat membantu mereka menemukan ada sesuatu di sebuah sudut. Ada sesuatu. Bahkan, dalam kepungan semak, batang yang patah itu seperti ruang panjang. Mereka mengikutinya seperti air yang mengikuti alur.

Mereka terus berjalan dengan pelan. Dua tangan mereka membersihkan semak yang menerkam sarung yang mereka pakai. Sesekali, harus dibersihkan beberapa pohon kecil yang sudah merintangi perlaluan.

Akhirnya, mereka semua terpatung tiba-tiba, saat Suhaibah tak berbicara sepatah kata pun. Suhaibah menunjuk ke satu arah: seseorang yang sedang goyah di pohon pinang. Berdirinya tak lagi kokoh, memandang ke tanah, dengan tangan ke belakang. Ya, tertunduk memandang ke tanah.

Mereka berusaha mencapai jarak yang lebih dekat, walau hati berdegup kencang. Apakah mereka akan bertatap muka dengan seseorang? Suhaibah tak mendekat. Mungkin, mata Suhaibah lebih terang dari tiga wanita yang lain yang sudah tua, sehingga Suhaibah dengan jelas dapat melihat seseorang yang hanya bercelana dalam berwarna cokelat, dengan tangannya sedang terikat ke belakang di sebatang pohon pinang muda. Tinggi pohon pinang itu tak lebih dari dua meter. Belum berbunga.

Suhaibah benar-benar tak bisa menggerakkan kakinya.

Ketiga wanita itu terus mendekat sampai hanya tersisa beberapa meter saja. Ketika sampai di dekat tubuh itu, mereka terperangah hebat.

“Astaghfirullah,” ucap Jamilah dan Habsah, bersamaan.

Jamilah lalu terpatung beberapa saat, ketika Fatimah masih ber­usaha mendekat dan makin mencium bau orang yang sangat dikenalnya. Ya, Sabalah. Fatimah berusaha lebih dekat lagi. Tidak salah lagi, itu adalah Sabalah. Wanita itu berjalan bersama anak dalam gendongan.

“Cutbang!” seru Fatimah, sedikit keras.

Seketika, Samiun mengeluarkan kata-kata pertama dalam hidup, dan ia mengucap sebutan itu dengan pasti, “Abu!”

Advertisement
Fatimah terlihat sangat tegar. Tak meneteskan air mata barang setitik pun. Ia berdiri di depan Sabalah. Tangan kirinya memegang punggung Samiun yang berada di gendongan, sedang tangan kanannya digerakkan perlahan-lahan, menyentuh wajah yang sudah beku itu. Fatimah membelai rambut Sabalah yang menegang, karena lumuran darah yang sudah mengering.

“Cutbang!” panggilnya, pelan.

Ketiga wanita di sampingnya masih terpatung. Lambat laun mereka berusaha mendekat. Lutut Suhaibah sampai bergetar hebat. Langkahnya hampir tak bisa diayunkan lagi. Jamilah dan Habsah tampak pucat pasi.

Fatimah masih bisa mengamati sekujur tubuh Sabalah. Hanya bercelana dalam. Di tubuhnya kini ternganga sembilan lubang. Dua lubang di antaranya masih terlihat mengeluarkan darah. Ia menghitung dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mulai dari balik telinga, ada satu lubang. Di bawah mulut, ia temukan satu lubang. Lalu, ia melihat di leher yang terbuka satu liang.

Terus ia melihat ke bawah. Di antara ketiak dan payudara ada satu, dan satu di dada sebelah kiri. Kemudian di perut, tumit, dan jempol kaki kanan. Fatimah meraba celana dalam Sabalah dan kemudian memasukkan tangannya ke dalamnya, karena melihat darah juga mengering di celana. Di sana, Fatimah menemukan dua lubang lagi.

Dua lubang yang masih mengeluarkan darah adalah di tumit dan di dada sebelah kiri. Sedangkan tujuh lubang yang lain sama sekali tak mengeluarkan darah lagi. Darah yang tumpah sudah menge­ring seperti keping-keping.

Fatimah melihat dua tangannya yang terikat ke belakang menggunakan tali nilon berwarna biru. Tali nilon itu dililit dari pergelangan tangan sampai siku. Kedua pangkal tangannya diikat ketat di pohon pinang itu, sehingga bisa menahan tubuh yang hampir roboh.

Mulut Sabalah masih menggantung setetes darah yang mengering seperti benang. Kaki Sabalah sedikit terlipat dan setengah menggantung. Sepertinya, tali yang terlihat sampai ke sikunya yang menyebabkan ia setengah tergantung. Di lehernya terdapat bekas tali. Sabalah terlihat menunduk ke bawah, ke tanah, karena tali nilon di lehernya sudah dilepaskan dan terburai di tanah yang bersemak.

Di samping pohon pinang, beberapa daun sudah terpercik darah. Ada empat selongsong peluru di ujung tali nilon yang terburai.

Tak ada kayu atau balok di sekitar pohon pinang. Fatimah ber­usaha menemukan bekas jejak, tapi tak ada. Mungkin seseorang sudah menghapusnya, pikirnya.

Fatimah lalu mendekat ke tubuh Sabalah. Hingga antara tubuhnya dan tubuh Sabalah tak ada lagi ruang.

“Apa Cutbang tak ingin menatapku?” tanyanya.

Ia mengusap wajah itu dengan bersahaja. Batik baru yang dibawa dari rumah dililit di ujung jarinya, kemudian membersihkan wajah Sabalah yang berlumur darah.

Suhaibah tak bisa menahan lengkingan yang sudah pecah. Sungguh tak bisa.

“Ya, Allah,” teriaknya, keras.

Habsah dan Jamilah memeluknya.

“Tak boleh begitu! Tak boleh!” kata Habsah.

Suhaibah terdiam.

Fatimah masih membelai wajah Sabalah, saat ketiga wanita itu berusaha melepaskan ikatannya. Habsah membuka simpul tali nilon di siku Sabalah dengan menggunakan giginya.


Penulis: Sulaiman Tripa
Pemenang Ketiga Sayembara Mengarang Cerber femina 2006




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?