Sama sekali kosong di bawah sana.
Sesampai di ranjang, ia kembali ingat perkataan cutbang malam Rabu.
“Bisakah Cutbang pergi ke Malaysia untuk beberapa waktu?”
“Cutdek takut sekali, Cutbang. Tapi, Cutdek bukannya mau menahan Cutbang!”
Mungkinkah Sabalah pergi ke sana tanpa berpamitan pada Fatimah?
Rasanya, tidak mungkin. Sama sekali tak mungkin, pikirnya. Itu bukan kebiasaan Sabalah.
Fatimah bangkit dari tempat tidur, sebelum bayang-bayang menggunung lebih besar lagi. Ia segera turun ke bawah untuk meraih sapu lidi dan membersihkan halaman dari ceceran daun cokelat yang berserakan.
Sepertinya, angin sedikit keras mengipas-ngipas, hingga banyak dedaunan yang jatuh pagi itu.
Tak selesai itu dilakukan, Fatimah harus segera naik ke rumah lagi, karena Samiun sudah melengking di atas ranjang. Ia akan menangis sejadi-jadinya, saat membuka mata tak menangkap ada Fatimah di sampingnya.
Ssstt, ada Mak, ada Mak, bisiknya dalam hati.
Ketika sampai ke atas, Fatimah segera meraih tubuh Samiun dan menggendongnya. Tapi, Samiun tak berhenti menangis. Ia menangis dengan keras. Sampai-sampai, tetangga datang ke rumah itu. Para tetangga seperti sudah memberanikan diri untuk saling menyapa dengan Fatimah. Padahal, sudah seminggu tak dilakukan, karena mereka juga tahu ada tamu tak diundang yang datang ke rumah Fatimah.
Tak ada yang mau mencari-cari masalah pada saat zaman buruk seperti itu. Orang-orang yang bertanya-tanya sekalipun akan terkena imbas akhirnya. Lagi pula, mereka tidak tahu sama sekali, siapa tamu yang tak diundang itu. Sama sekali tak tahu.
Dari balik dinding malam itu, mereka hanya melihat ada bayang-bayang senjata yang dipegang oleh beberapa orang, yang mungkin berpakaian hitam. Tapi, menurut orang yang tinggal di rumah di depan meunasah, jumlah tamu itu sama sekali bukan delapan orang, tapi lebih. Mereka melihat beberapa orang berdiri di pinggir pohon melinjo dengan memakai penutup kepala.
Tapi, mereka tidak mau menebak-nebak, karena gelap malam itu hanya menyisakan sedikit bayang.
Pagi itu, mereka naik ke rumah Fatimah. Mereka seperti melupakan bahwa di zaman buruk, dinding-dinding bisa turut berbicara. Sesama orang gampong sudah saling curiga dan ada rasa takut yang sangat.
“Ke mana Sabalah?” tanya mereka.
Pertanyaan itu kontan membuat Fatimah terasa berat. Ia langsung ingat tendangan yang memecahkan palang pintu rumahnya.
Seperti wanita lain, Fatimah juga akan menjaga Sabalah sepanjang waktu. Karena itu, ia tak akan menjawab pertanyaan itu sampai kapan pun. Karena, di zaman buruk itu, dinding-dinding rumah sekalipun bisa turut berbicara.
Samiun tak berhenti menangis. Hari sudah siang. Seperti tak ada obat yang mampu mendiamkannya.
Fatimah sudah membuat air manis, lalu dimasukkan dalam botol dot dan diberikan kepada Samiun. Tak juga diam. Lalu, dia menyusui bayinya kembali, yang sebenarnya sudah dihentikan beberapa bulan lalu. Samiun tak juga diam.
Fatimah tak henti membaca syair dodaidi. Biasanya, Samiun akan diam setelah beberapa saat. Tapi, ketika itu Samiun tak juga diam.
Para tetangga gampong yang sedari tadi di sana, satu per satu pulang ke rumah masing-masing.
Fatimah sama sekali tak menceritakan ada delapan tamu sedang mencari suaminya, saat senja seminggu yang lalu. Orang-orang gampong tahu sendiri dari mulut ke mulut, karena ada seseorang yang mengintip lewat celah dinding dan melihat ada bayang yang masuk ke rumah mereka.
Mulanya, hanya beberapa orang yang tahu. Tapi, dalam beberapa hari saja, desas-desus tentang Sabalah sudah diketahui seluruh gampong. Mereka mengira Sabalah sudah dibawa malam itu. Mereka tak tahu bahwa Sabalah ternyata sempat turun lewat gua, saat tamu tak diundang itu memperlihatkan niat yang tak baik.
Mereka juga tak berani menanyakan kepada Fatimah. Mereka tak ingin tahu dari Fatimah, karena takut akan terlibat dalam masalah itu.
Kepada sesama penduduk gampong, orang-orang hanya mempertanyakan kesalahan apa dan kepada siapa Sabalah bersalah.
Di zaman-zaman buruk, orang-orang bisa dianggap bersalah kapan saja dan bisa oleh siapa saja. Apalagi, mayat-mayat sering ditemukan dalam kondisi yang tidak wajar sebagai manusia.
Masalah lainnya, akan mencari tahu di mana dan kepada siapa? Di zaman buruk, ini juga menjadi tidak jelas.
Banyak orang yang kemudian memilih berdiam di dalam rumah saja. Tak hanya malam. Siang pun umumnya rumah-rumah akan terkunci rapat.
Persoalan bayang sudah menjadi ketakutan di gampong pada zaman buruk. Wanita-wanita di gampong akan mendekap erat suaminya sepanjang malam. Tak sedetik pun mereka mengizinkan suaminya keluar rumah.
Anehnya, pada zaman buruk itu, wanita-wanita sudah jarang mengeluarkan air mata. Mereka seperti sudah sangat kebal dengan berbagai keadaan. Justru para suami yang menjadi makin ketakutan akan keadaan gampong yang tak menentu.
Sabalah juga sudah berkali-kali mengungkapkan kegelisahannya kepada Fatimah. Mereka saling berbisik di tempat tidur.
“Akhir-akhir ini banyak orang yang masuk ke gampong kita,” kata Sabalah, malam sebelum tamu tak diundang itu datang.
“Apa Cutbang melihatnya?”
“Tidak. Cutbang tak melihatnya!”
“Lalu, Cutbang dengar dari mana?”
“Dari orang-orang.”
“Bukankah tak ada lagi orang-orang nongkrong selama ini?”
“Tapi, mereka kan saling berbisik!”
“Berbisik dengan siapa?”
“Ya, dengan orang-orang gampong!”
“Cutbang! Kalau tak lihat, baiknya jangan diceritakan saja!”
“Ya, tapi Cutbang tak enak perasaan!”
“Ah, jangan terlalu dibawa ke perasaan. Nanti Cutbang sakit jantung!”
“Tapi, masa, sih, Cutdek tak dengar?”
“Dengar, sih, Cutbang. Tapi, kabar angin itu kan bisa benar, juga bisa salah! Cutbang, kita selalu jadi korban kabar angin!”
Fatimah terus berusaha mendiamkan Samiun yang sedang menangis keras. Ia seperti tak mau diberikan apa saja. Air manis dalam botol dot. Bahkan, Fatimah menyusuinya. Tapi, Samiun tak juga diam.
Fatimah seperti sudah habis akal. Tak pernah Samiun seperti itu. Memang, waktu bangun pagi, bila tak ada Fatimah di sampingnya, ia akan menangis. Tapi, ketika Fatimah menggendongnya dan mendendangkan syair dodaidi, Samiun akan diam. Kali ini tidak. Fatimah bahkan sudah mengalunkan syair berjam-jam.
Sungguh, Fatimah merasa sulit mendiamkannya. Ia sampai tak bisa sembahyang zuhur, karena lengkingan Samiun makin menjadi.
Fatimah akhirnya menggendong Samiun untuk membawanya ke mantri di gampong. Tidak jauh dari rumahnya. Hanya beda lorong. Tetapi, sesampai di sana, pintu rumah itu terkunci rapat. Seperti tak ada seorang pun di dalamnya.
Ia kembali membawa ke depan meunasah, setelah melihat ada beberapa pemuda yang kebetulan sedang berbicara. Ia minta diantarkan ke kota untuk mencari tahu apakah Samiun sedang sakit. Tapi, tak ada pemuda yang mau, karena mereka takut akan terjadi apa-apa.
Samiun tak berhenti menangis, saat Fatimah terduduk lemas di sana.
Sangat ironis, perubahan gampong terjadi dalam tiba-tiba. Setelah ada tamu tak diundang datang ke rumahnya, ketakutan warga gampong makin menjadi-jadi.
Penulis: Sulaiman Tripa
Pemenang Ketiga Sayembara Mengarang Cerber femina 2006