Trending Topic
Akademi Parenting

22 May 2014

Kondisi saat ini yang jauh lebih kompleks memang memaksa orang tua masa kini untuk mencari informasi lebih banyak. Untungnya, kini akses untuk itu jauh lebih mudah. Tinggal klik internet, info yang Anda cari segera didapat. Buku, seminar, bahkan kelas parenting pun mudah ditemukan.

Psikolog anak dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Efriyani Djuwita, M.Si., punya pendapat tersendiri. Menurutnya, banyak calon orang tua yang membaca buku dan mengikuti seminar tentang parenting, tidak menunjukkan gejala bahwa calon orang tua itu tidak percaya diri. Namun, hal ini menunjukkan gejala bahwa saat ini orang tua merasa perlu mendapatkan pengetahuan mengenai parenting karena mereka paham bahwa parenting adalah hal yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dan mereka ingin lebih siap menghadapi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Dewa Ayu (29) termasuk yang rajin mengikuti berbagai seminar. Selain kelas ASI, ia juga membekali diri dengan ilmu pendidikan seksual bagi anak, cari berkomunikasi pada anak, hingga mempersiapkan finansial bagi masa depan anak. Menyadari banyaknya pengetahuan yang diperlukan orang tua seperti dirinya dan kekuatan yang ia rasakan dengan ilmu yang didapat dari berbagai seminar, kini ia mulai merintis parenting class yang diberi nama New Parenting Academy.

”Tak hanya menambah ilmu, secara psikologis pengetahuan itu membuat saya lebih mudah mengendalikan emosi dan menggunakan rasio dalam mengurus anak,” kata Dewa.

Mariska Sebayang (29), selain mencari info di situs internet dan buku-buku,   juga mengikuti kelas parenting yang diadakan tempat ibadahnya. Dari semua itu ia merasa sangat terbekali dan lebih mantap menjalani tugasnya sebagai orang tua. Namun, ia juga selektif memilih sumber informasi, sebab sumber itu bisa membuat orang tua jadi tenang atau malah sebaliknya.

“Ada sumber yang mengatakan, kalau anak belum bisa jalan setelah berusia 12 bulan, tenang saja. Tiap anak berbeda-beda. Sebaliknya, ada juga sumber yang seolah selalu menakut-nakuti dan malah membuat orang tua jadi panik,” kata Mariska.

Advertisement
Bagi Baby Astrika (29), ahli gizi, menjadi orang tua adalah proses learning by doing. Artinya, terus aktif belajar agar selangkah lebih maju dari anak.  Ia merasa hanya mendapat sedikit informasi dari sang ibu. Lebih banyak mencari informasi sendiri lewat pakar kesehatan anak, website, artikel di majalah, jurnal penelitian, dan buku.

Meski mengaku tak tertarik mengikuti akademi parenting, ia justru pernah berpartisipasi menjadi pembicara dalam kelas tersebut. Sesuai dengan background di bidang gizi, materi yang ia sampaikan saat itu  berkaitan dengan makanan sehat anak.
Di kelas tersebut, ia tidak sendirian. Ada beberapa pakar lain seperti dokter anak dan psikolog yang memang pakar di bidangnya. Dalam kelas tersebut, para pakar melakukan sharing kepada peserta akademi parenting yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu muda.

”Bagi saya, meski belum pernah menjadi peserta, kelas parenting semacam ini bermanfaat, terutama untuk ibu-ibu baru. Sebab, ternyata banyak ibu baru itu mengaku terang-terangan tidak mengetahui cara mengasuh anak, bahkan untuk hal-hal sederhana, seperti cara memandikan bayi atau  cara merebus makanan bayi. Manfaat lain, peserta bisa mengetahui informasi parenting secara detail, langsung dari pakarnya,” ujar Baby.

Pada kenyataannya, mengasuh dan merawat anak tidak selalu sama persis dengan teori-teori yang Anda baca. Anda baru benar-benar tahu bagaimana rasanya kurang tidur selama berbulan-bulan setelah si kecil lahir. Meski sudah membaca berkali-kali tentang aneka demam yang mungkin terjadi pada anak, logika terkadang buntu menemukan apa yang harus diperbuat.

”Memang tidak 100%. Karena, dalam  tiap pengetahuan mengenai parenting kita akan sedikit banyak mengetahui apa yang   mungkin kita hadapi nantinya. Hal ini tentu bisa menimbulkan sedikit kecemasan, namun saya percaya sedikit kecemasan baik untuk orang tua agar bisa lebih  siap menjalankan perannya nanti,” ujar Efriyani, bijak.




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?