<<< Cerita Sebelumnya
Mata Adam langsung berbinar ketika tahu bahwa ia tidak akan dikeluarkan dari sekolah.
Sudah tiga hari kamu tidak masuk sekolah. Ke mana saja, Adam?” tanyaku dengan suara pelan. Adam mengangkat bahu, tampangnya kusam.
“Kalau memang sakit atau ada keperluan, semestinya kamu mengirim surat pemberitahuan ke sekolah. Kamu tahu peraturannya, ‘kan?”
“Buat apa? Adam kan sudah dikeluarkan. Sama seperti sekolah yang dulu-dulu,” jawaban yang lugas itu membuatku tercekat.
“Siapa bilang? Kamu tetap murid Ibu, tidak ada yang mengeluarkan kamu.”
“Bohong!”
“Tidak, Ibu tidak bohong. Hari Senin kamu harus masuk sekolah lagi, ya? Eh, pipi kamu kenapa? Biru begitu,” refleks aku mengulurkan tangan hendak memeriksa. Cepat Adam mengelak,” Cuma kebentur pintu.”
“Nanti diobati, ya? Eh Adam, Ibu Agnes haus, nih. Boleh minta air putih sedikit?” aku berkelit mengalihkan pembicaraan. Tak perlu diulang dua kali, ia masuk ke dalam dan keluar membawa segelas besar air putih.
“Makan es krim lebih enak daripada minum air putih, Bu!” ujarnya tiba-tiba.
“Oh ya?”
“Ya! Warung depan jualan es krim, tuh…,” kata Adam lagi sambil menunjuk.
“Kamu mau? Yuk, kita pergi beli es krim!” aku langsung menyambar kesempatan. Siapa tahu aku bisa lebih banyak mengorek cerita dari mulutnya kalau ditemani beberapa bungkus es krim. Bak gayung bersambut, tawaran itu lantas membuat mata Adam bergairah.
“Boleh ambil dua, Bu?” tanyanya ketika kami sampai di depan pendingin es krim yang ada di warung, tak jauh dari rumahnya. Sambil berjalan kaki meninggalkan warung, Adam terus asyik menjilati makanan favoritnya.
“Apa saja yang kamu lakukan selama tidak masuk sekolah, Adam?”
“Main, makan, nonton teve, naik sepeda.”
“Dan kamu tidak memberi tahu orang tuamu kalau Ibu ingin bertemu?”
“Ah, bosan! Paling juga buntutnya Adam keluar dari sekolah. Jadi, buat apa Adam kasih tahu Papa.”
“Adam suka sekolah yang sekarang?”
“Suka.”
“Kenapa?”
“Soalnya ada Sally….” Kata-kata itu terlontar keluar dan cukup jelas terdengar di telingaku. Tapi, buru-buru Adam meralat, ”Bukan… maksudnya eh… banyak teman baru, jadi Adam suka.”
“Kalau Adam suka punya banyak teman, terus kenapa Adam pukul Sally kemarin? Kasihan kan, pipinya diplester.”
“Salah sendiri! Siapa suruh dia pegang-pegang tangan Andrew, terus bisik-bisik,” jawabnya terdengar sewot. Dengan cepat ia menghabiskan sisa es krimnya.
“Memangnya kenapa?” kejarku lagi.
“Itu namanya perempuan nggak baik, pegang-pegangan sama laki-laki. Papa yang bilang begitu. Nenek juga,” jawabnya lugas. “Lagian, Sally pakai bilang-bilang sama Marta tentang Adam.”
“Apa katanya?”
“Dia bilang Adam banci, terus dia ketawa-ketawa sambil lihat-lihat ke belakang. Adam kan tahu kalau dia sedang ngomongin.…”
“Terus kamu marah, dan memukul Sally? Juga melukai pipinya? Itu bukan cara marah yang baik, Adam. Dengan teman kita harus saling sayang, apalagi Sally itu kan perempuan. Kalau dia jadi cacat dan bekas lukanya tidak bisa hilang, bagaimana? Kamu kan bisa tanya baik-baik kenapa Sally menertawakanmu. Sekarang akibat peristiwa ini, kamu jadi tambah tidak punya teman.”
“Biarin! Siapa suruh dia buang surat…” Adam menghentikan bicaranya, lalu memandangku sedikit salah tingkah.
“Surat apa, Adam?” tanyaku dengan lagak acuh tak acuh.
Adam menggeleng lalu katanya,”Pulang yuk Bu, mau mandi nih. Gerah!”
Menyadari Adam tidak bisa dipaksa untuk buka mulut lebih jauh, aku berusaha menyabarkan diri untuk tetap bertahan dengan pendekatan sebagai teman baginya.
“Bu Guru,” kata Adam melangkah sambil memegang tanganku. “Betul Adam tidak dikeluarkan dari sekolah?” pertanyaan yang lagi-lagi membuatku hampir sesak napas. Bagaimana mungkin aku katakan kalau nasibnya akan ditentukan dalam rapat guru minggu depan? Dan kemungkinan besar, guru-guru lebih memilih untuk mengeluarkannya. Adam masih memegang tanganku dan menunggu jawaban.
“Asal kamu mau bertingkah laku yang baik,” sahutku mengambang sambil berharap ia puas dengan jawaban itu.
“Jadi besok Senin Adam tetap sekolah?” tanyanya, kali ini dengan gembira. Baru kusadari kalau binar-binar di balik kacamata tebalnya begitu hidup. “Adam tetap sekolah! Tetap sekolah!” pekiknya sambil berlari mendahuluiku. Dari kejauhan aku mengamati lonjakan gembiranya. Kesenangan yang meluap karena ia pikir sekolah tetap menerimanya. Dengan galau, aku menendang batu di depan kaki sambil memikirkan apa yang bisa aku lakukan agar kegembiraan Adam bisa terus dimilikinya. Kegembiraan untuk terus sekolah.
“Papa sudah pulang, ya?” tanyaku ketika akhirnya kami sampai di rumah Adam.
“Bukan mobil Papa, kok. Siapa, ya?” Adam balik bertanya. Detak keras suara hak sepatu tinggi membuat kami berpaling.
“Mama!” Adam melambaikan tangan dan cepat menghampiri wanita yang sedang menutup pagar di belakangnya. Wajahnya lumayan tebal dengan make up, gaya busananya modern, dengan dua jari tangan menjepit rokok yang mengepul.
“Main melulu! Nggak naik kelas lagi baru tahu rasa!” semprotnya tanpa mengacuhkan tangan Adam yang terbuka minta dipeluk.
“Mobil baru ya, Ma? Mau ke mana, Ma? Adam kan belum …!” teriak Adam penuh protes melihat mamanya membuka pintu mobil. Dia mengejar dan menahan pintu mobil, tapi tangan Adam segera ditepisnya dengan kasar. “Apaan sih? Minggir!” Bentakannya membuat Adam mundur menjauhi mobil.
“Hei, bilang sama papamu, mana uang bulanannya? Janji jam 5 sore, malah dia belum pulang. Sialan!”
Adam cuma terlongo mengikuti deru mobil yang berputar meninggalkan rumahnya. Gerakan tangannya yang dalam posisi siap melambai perlahan turun dengan lemas. Aku hampir tidak percaya kalau adegan barusan adalah adegan antara ibu dan anak. Lebih mirip adegan nyonya besar dengan kacungnya.
“Adam!” panggilku. “Itu mamamu?”
Dia memandangku dari balik kacamata tebalnya dan mengangkat bahu, lalu berbalik masuk dan menutup pintu. Dari balik kaca ia mengawasiku melangkah pulang. Aku melambaikan tangan pamit pulang dan melaju membawa kegalauan besar dalam hati. Surat panggilan yang diberikan Pak Suryo tadi masih tersimpan di dalam tasku.
Aku menguap panjang sambil melemaskan otot-otot pinggang. Uah, masih ada enam karangan lagi yang harus aku baca. Di kelas aku paling suka memberikan ulangan dalam bentuk esai dan pelajaran favoritku adalah pelajaran mengarang. Karena dari hasil tulisan yang polos dan khas anak-anak itulah aku bisa membaca jalan pikiran murid-murid. Sekaligus melatih mereka menuangkan ide dan kreasi dalam bentuk kalimat. Hitung-hitung memberikan bekal kalau kelak mereka menginjak SMU atau kuliah nanti, harus membuat laporan praktikum dan menyusun skripsi. Menurutku bahaya kalau mereka terus terkondisi dengan kemudahan memilih jawaban pilihan berganda, yang mendorong kegiatan mencontek tumbuh dengan subur.
Seperti hari ini, aku menyuruh murid-murid membuat karangan tentang sosok ibu masing-masing. Ada yang menulis, ibunya galak seperti tentara tapi ia sangat sayang karena ibunya jago memasak mi ayam kesukaannya. Yang lain bercerita, ibunya selalu pergi ke kantor pagi-pagi dan pulang malam hari, padahal ia ingin dibacakan dongeng sebelum tidur.
Aku melihat sisa karangan yang tergeletak sembari menimbang untuk menunda memeriksanya, besok pagi saja. Tapi sehelai kertas bertuliskan nama Adam menarik perhatianku. Karangannya teramat singkat, kalimat-kalimatnya pendek dan sederhana, dengan alur cerita yang tidak terarah.
Aku punya mama. Mama yang melahirkan aku. Mamaku cantik. Bajunya bagus-bagus. Mama sering pergi. Aku ingin pergi ke Ancol dengan Mama. Tapi Mama pergi terus. Mama sayang padaku.
Rasa kantukku berangsur hilang, berganti dengan keprihatinan. Sedari pertama ketika melihat ayahnya mengantar Adam ke sekolah di hari pertama, aku tergelitik dengan sikap anehnya. Dan ketika berkunjung ke rumah Adam serta melihat seperti apa keluarganya, aku langsung mengerti mengapa Adam begitu berbeda dengan anak-anak lain. Bukan hanya hatinya yang sakit, tapi juga jiwanya. Rasa tertolak karena kehadirannya tidak dikehendaki oleh sang ibu berbaur dengan pendaman kerinduan untuk merasakan kehangatan kasihnya, bercampur dengan kemuakan karena sang ibu mengkhianati keluarganya. Apalagi dia sedang menginjak puber usia praremaja, yang sering krisis karena mencari jati diri. Masih segar di mataku, guratan kecewa yang tidak bisa disembunyikan Adam ketika ibunya sama sekali tidak menyapanya dengan manis sore itu, apalagi berinisiatif memeluknya. Bahkan, untuk sebuah lambaian tangan yang sederhana.
Aku tidak bisa membayangkan seperti apa pedihnya, tidak dicintai oleh ibu sendiri sedari bayi. Ditambah lagi harus menyaksikan ulah tak terpuji dari ibu yang sangat dipujanya. Aku juga tak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi orang yang terbelakang mental, dengan tubuh sebesar remaja tapi berpikiran seperti anak-anak. Dikeluarkan dari sekolah, dijauhi teman, dimarahi guru, tidak memiliki siapa pun untuk diajak bicara, dan selalu dianggap sebagai orang aneh yang membawa masalah. Tidak ada yang mau mengerti, seorang pun tidak. Ya Tuhan, seperti apa rasanya? Malam itu sebelum tidur, aku menyelipkan nama Adam dalam permintaan doaku. Tanpa sadar aku ikut menangis.
"Jadi begitu ceritanya?” Rena mengangsurkan sepiring makaroni skotel di depan hidungku. Aku mengiyakan sambil mengunyah. Sepulang dari gereja aku menyempatkan mampir ke tempat kos Rena. Usianya 5 tahun di atasku, tapi tidak pernah bersikap sok senior dan sok tahu seperti kakak kelasku yang lain. Kami dulu sudah saling mengenal ketika kuliah di perguruan tinggi yang sama dan sekarang kebetulan mengajar di sekolah yang sama pula. Tapi sesuai dengan latar belakang pendidikannya di fakultas psikologi, ia ditempatkan di bagian BP dan konseling.
“Ternyata masalahnya kompleks, Ren. Maksudku…kita harus melihat kenakalan Adam itu karena jiwanya yang terguncang. Jadi kita tidak bisa menghakiminya begitu saja, mengeluarkan dari sekolah lalu urusannya beres. Bagaimana menurutmu?”
“Ya, aku setuju.”
“Mendengar cerita tadi, bagaimana kira-kira analisismu?” aku berguling ke sudut tempat tidur dan menemukan bantal berbentuk gajah yang cukup empuk untuk kutiduri.
“Adam mengalami trauma, itu jelas. Ia tidak menerima cukup cinta dari orang-orang yang semestinya memberikan itu. Sejak kelahirannya saja, ia sudah ditolak oleh sang ibu. Mengingat kesenangannya berdandan dan kepeduliannya pada tubuh, mungkin ia menganggap hamil dan melahirkan adalah kerusakan yang bisa mengancam keindahan tubuhnya. Dan ancaman itu berwujud seorang anak, yang langsung ia benci. Luka batin yang sudah ditaburkan sejak bayi terus menambah parah keadaan, ditambah lagi perbuatan ibunya yang gemar gonta-ganti pasangan. Kenyataan itu agaknya terlalu berat bagi Adam, sehingga jiwanya labil dan kita bisa lihat dari sikapnya sehari-hari, ‘kan? Kadang mengamuk, kadang alim, kadang agresif.”
“Kenapa bisa begitu?”
Penulis: Ruddy Raharjo