Usia saya baru 27 tahun, tapi vagina saya terasa kering seperti wanita jelang menopause, sehingga sakit saat berhubungan seks. Padahal, suami sudah merangsang melalui foreplay.
Sekitar 17% wanita usia 18 – 50 tahun dapat mengalami gejala kurang lubrikasi saat bersanggama. Penyebabnya bisa karena kurangnya proses rangsangan (arousal) oleh faktor medis, psikologis, atau kurangnya foreplay.
Kadar estrogen yang rendah, seperti yang terjadi pada ibu menyusui, riwayat operasi pengangkatan indung telur, dan kemoterapi dapat menjadi penyebab medis. Keringnya vagina juga bisa dihubungkan dengan penggunaan pembersih vagina yang terlalu sering dan mengandung bahan-bahan kimia.
Untuk kasus tersebut, penggunaan lubrikan dan pelembap vagina dapat membantu. Lubrikan berbahan dasar air (water based) adalah salah satu pilihan yang dapat dibeli bebas. Hindari pemakaian hand/body lotion, sabun antibakteri atau berparfum, pembersih vagina dan bath oils sebagai lubrikan karena produk-produk ini dapat menimbulkan iritasi vagina.
Vagina saya berbau tidak sedap. Alhasil, saya tidak nyaman dan tidak percaya diri ketika suami hendak melakukan oral sex. Padahal, saya rajin membersihkan dengan sabun khusus vagina yang wangi.
Vagina memang memiliki bau yang khas dan normal. Tetapi, bau yang menyengat dan tidak sedap dapat merupakan tanda penyakit. Biasanya, bau tidak sedap ini akan disertai gejala lain, seperti rasa gatal, keputihan yang berubah warna dan berbau, iritasi, dan rasa nyeri di daerah kelamin.
Hal ini bisa terjadi ketika keasaman (pH) vagina meningkat dari kondisi normal (3,5 – 4,5). Keasaman yang tinggi ini akan mematikan bakteri baik pada vagina dan menyebabkan tumbuhnya bakteri jahat penyebab bau. Kondisi ini disebabkan oleh bakteri atau jamur yang harus diatasi oleh obat dari dokter. Segeralah berkonsultasi untuk mendapatkan obat yang sesuai dengan penyebabnya.
Saat bersanggama, saya sering tak tahan ingin buang air kecil. Apakah ini termasuk salah satu reaksi orgasme, atau ada yang salah dengan vagina saya?
Rasa ingin buang air kecil dapat disebabkan posisi tertentu saat berhubungan. Penetrasi penis dapat menimbulkan tekanan pada kandung kemih wanita yang membuat sensasi berkemih muncul, terutama saat kandung kemih penuh. Sebelum, saat, dan sesudah orgasme beberapa wanita dapat mengalami keluarnya cairan (bukan air seni/urine) dari uretra mulai dari satu hingga beberapa tetes, yang berasal dari kelenjar-kelenjar di sepanjang uretra.
Walaupun beberapa survei menunjukkan bahwa sekitar 35%-50% wanita pernah mengalami keluarnya cairan dari uretra saat mencapai orgasme, hal ini masih menjadi perdebatan karena sebagian ahli masih belum bisa membuktikan secara ilmiah mekanisme ‘female ejaculation’ tersebut.
Keadaan lain adalah keluarnya air seni (urine) saat bersanggama atau orgasme. Kondisi ini adalah salah satu gejala stres inkontinensia yang ditandai dengan keluarnya urine saat terjadi gerakan yang menyebabkan tekanan pada kandung kemih meningkat, seperti batuk, tertawa, olahraga, dan sanggama/orgasme.
Saya belum pernah merasakan yang namanya orgasme. Padahal, sudah lama menikah dan anak sudah besar-besar.
Banyak wanita yang belum pernah merasakan orgasme atau tidak tahu apa yang semestinya dirasakan saat orgasme. Mayoritas wanita Indonesia berpendapat apabila pasangannya sudah orgasme/ejakulasi, sudah cukup bagi mereka tanpa harus merasakan orgasme. Faktor medis seperti kelainan pembuluh darah dan persarafan ke arah vagina dapat mengurangi sensitivitas dan proses perangsangan (arousal) daerah vagina sehingga orgasme tidak tercapai.
Teknik sanggama yang kurang mengeksplorasi titik-titik sensitif seperti klitoris juga menjadi salah satu penyebab. Penjelasan mengenai anatomi alat kelamin pria dan wanita, teknik perangsangan (foreplay) dan teknik senggama dapat membantu pasangan untuk lebih mengerti bagaimana orgasme dapat dicapai.
Suami saya butuh waktu lama untuk mencapai orgasme. Sementara rasa excitement saya sudah berkurang, ia masih ‘berusaha’.
Beberapa pria dengan ejakulasi yang terlambat (delayed ejaculation) membutuhkan waktu 30 menit atau lebih untuk mencapai orgasme atau ejakulasi. Kadang-kadang mereka tidak dapat ejakulasi sama sekali. Sampai saat ini belum ada batasan normal berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk ejakulasi.
Diagnosis delayed ejaculation ditegakkan apabila keadaan tersebut menimbulkan distress pada pria dan pasangannya serta terganggunya hubungan seks. Faktor medis, psikologis, dan konsumsi obat-obatan dapat menjadi penyebab. Sebagai pasangan, kita bisa membantu dengan mendukung pasangan untuk mencari penyebab dan terapinya. Segera berkonsultasi ke dokter terutama apabila keadaan ini terjadi bersamaan dengan kondisi kesehatan lain yang mungkin menjadi penyebab.
Naomi Jayalaksana