Konser yang dimulai tepat pulul 20:20 itu diawali dengan potongan-potongan video musik musikus tahun ‘90-an, era yang menurut Glenn kreativitas musikus begitu tinggi meski memiliki banyak keterbatasan. Ia memang ‘lahir’ di era itu. Glenn yang muncul di panggung sambil menggowes sepeda BMX langsung mengajak penonton menyanyikan My Everything, yang jadi original soundtrack film Cinta Silver pada tahun 2005. Selanjutnya penonton diajak karaoke bareng dalam lagu-lagu galau dan romantis seperti Jujur, Tega, Malaikat Juga Tahu, Januari, dan berjoget sambil menikmati lagu Happy Sunday, Cukup Sudah, Ambon Manise, dan Hikayat Cinta. Kejutan manis terasa saat Glenn bernostalgia dengan band pertamnya, Funk Section, dalam lagu Pantai Cinta dan Terpesona, yang dibawakan dalam aransemen asli bersama anggota band, antara lain Mus Mujiono (gitar), Ekka Bakti (Keyboards), dan Iwang Noorsaid (drum).
Kejutan muncul saat Tio Pakusadewo dan Julie Estelle hadir membawakan lagu Nyali Terkhir sambil memainkan harmonika dan piano. Lagu ini akan menghiasi film yang diproduseri Glenn, Surat dari Praha. Lewat lagu Menanti Arah, Glenn menyuarakan kegelisahannya akan kondisi politik di Indonesia dan mengajak semua penonton untuk menyerukan cinta dan persatuan.
Secara hati-hati ia menentukan lagu mana yang diaransemen ulang dan mana yang dibawakan dengan aransemen asli. Kepiawaian Glenn di panggung dan menguasai penonton menunjukkan pengalamannya. Energik, tidak membosankan. Glenn sendiri bergerak terus selama hampir tiga jam, sambil menyanyi, bercakap-cakap, serta sesekali memainkan gitar dan piano, jelas bukan perkara yang mudah.
Persiapan fisik berbulan-bulan membuat stamina dan suara Glenn terjaga stabil di atas panggung. “Energi dari penonton yang membuat panggung terasa menyenangkan, seperti taman bermain,” ujar Glenn, tersenyum. Konser malam itu memang sangat spesial bagi Glenn, sehingga jauh-jauh hari ia dan tim mempersiapkan untuk merekamnya untuk kemudian dikemas dalam bentuk DVD live concert. (f)
Nuri Fajriati