Hidup kita memang perlu diisi dengan sesuatu yang ‘manis’. Ibarat bensin, glukosa dibutuhkan oleh tubuh untuk tetap bergerak. Ya, faktanya, energi tubuh memang didapat dari si manis ini: glukosa, bentuk turunan karbohidrat yang paling sederhana. Tak hanya manusia, glukosa juga dibutuhkan semua makhluk hidup, dari yang terkecil seperti bakteri, sebagai dasar pembentukan energi.
Begitu Anda mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, aneka jenis makanan tersebut akan dipecah menjadi substansi yang lebih sederhana oleh sistem pencernaan agar tubuh bisa mempergunakannya untuk berbagai kebutuhan.
Makanan-makanan dan minuman, seperti gula pasir, gula merah, sirop, madu, minuman kemasan, bumbu rujak, kolak, nasi, pasta, kentang, buah, sayuran, permen, atau roti, yang kita konsumsi sehari-hari, dibaca oleh tubuh sebagai glukosa atau sering juga disebut gula darah.
Dr. Abdullah Firmansah, SpGK, MKes dari Santosa Bandung International Hospital dan DF Clinic Bandung, menjelaskan prosesnya, ”Glukosa akan diserap melalui usus halus kemudian masuk lewat pembuluh darah di usus ke organ hati. Di usus halus, glukosa dapat langsung digunakan oleh sel usus sebagai sumber energi untuk fungsi pencernaan dan penyerapan.”
Tak berhenti di situ. Di organ hati, glukosa dapat langsung digunakan sebagai sumber energi atau dapat disimpan dalam bentuk glikogen (cadangan glukosa dalam tubuh kita). Setelah diproses oleh hati, glukosa masuk ke sistem peredaran darah dan dikirimkan ke seluruh tubuh sebagai nutrisi bagi sel-sel tubuh. Saat glukosa memenuhi pembuluh darah, maka kadar gula dalam darah pun meningkat.
Tubuh bereaksi dengan mengeluarkan hormon insulin untuk mengubah glukosa itu menjadi bahan bakar yang siap digunakan oleh sel tubuh di berbagai organ agar dapat bekerja sesuai fungsinya. Itu sebabnya, dengan kadar yang pas, glukosa sangat dibutuhkan tubuh.
Bila Anda kekurangan glukosa, tubuh akan membuat glukosa yang berasal dari cadangan glukosa di organ hati yaitu glikogen. Bila Anda terus kekurangan glukosa dan glikogen sudah makin berkurang, maka tubuh akan membuat glukosa baru lagi yang berasal dari asam lemak dan asam amino.
Perlu dicatat, hal ini berlaku bila Anda dalam kondisi berbobot badan normal.
“Nah, bila konsumsi glukosa berlebih, sedangkan energi dan cadangan gula tubuh sudah cukup, maka glukosa dengan cepat diubah menjadi lemak tubuh,” kata Firmansah. Hati-hati, inilah yang merupakan asal-muasal kegemukan.
Untuk mengendalikan kadar glukosa yang masuk, Anda dianjurkan menghindari gula yang telah melalui proses pengolahan, seperti gula putih, tepung-tepungan, atau roti manis. Mengonsumsinya terlalu banyak akan memicu tubuh memproduksi insulin lebih banyak. Lalu mendorong metabolisme tubuh mengubah ‘tombol’ membakar lemak ke menyimpan lemak. Bahaya, ‘kan.
Namun demikian, mengonsumsi makanan manis bukanlah hal yang terlarang. “Bila Anda ingin menggunakan gula, ada baiknya mengganti asupan gula putih dengan bahan yang lebih organik, seperti gula pasir, gula aren, gula semut, atau madu. Lebih alami dan memiliki manfaat kesehatan,” kata dr. Firmansah.
Mayo Clinic juga menganjurkan Anda minum banyak air putih. Cukup minum air putih akan membantu tubuh mengirim nutrisi ke sel-sel tubuh sekaligus menyiram racun. Ini akan membantu pengaturan kadar glukosa tetap normal.