Foto: Studio Batu, DES
"Gue ngebayangin Ibu dalam kondisi hamil besar, membawa gue dalam perutnya dan harus naik turun angkot dari Bekasi untuk mengajar di kampus di Grogol," ungkap pria penggemar kain Nusantara itu. Ia mengaku, perjuangan sang ibu saat mengandungnya telah membentuk cara pandangngya terhadap wanita hingga saat ini.
Dari mereka, Wregas --yang bersama teman-teman sekolahnya dulu gemar menghadiri pameran lukisan Eko Nugroho dan pementasan puisi Joko Pinurbo-- belajar berjuang menjalani hidup yang modern, tapi tetap menjaga akar budaya sebagai identitasnya. Wregas tidak akan melupakan nasihat dari sang kakek yang mengatakan hidup prasojo (sederhana) dan jangan kegedhen ndas (kebesaran kepala). "Satu-satunya kegagalan kamu adalah ketika kamu merasa besar kepala atau sudah sukses," ujar sutradara lulusan Institut Kesenian Jakarta ini, menirukan nasihat sang kakek.
Maka, seperti janji yang ia ucapkan dalam pidato kemenangannya di Cannes, Wregas akan kembali ke Indonesia dan terus membuat film. Ia tidak ingin terlalu lama terpaku dalam euforia kemenangan Prenjak. "Gue ini tukang bikin film. Kalau gue terlalu lama pada kegembiraan saat ini dan tidak membuat film lagi, apakah gue masih layak disebut tukang bikin film?" ujarnya, seraya meneguk habis double espresso di hadapannya. (f)
Topic
#Prenjak