Foto: Pixabay
“Gejala pada tahap itu sangat terkait dengan infeksi virus normal. Dan karena kami belum melihat COVID-19 selama delapan hingga 10 pekan terakhir, kami memutuskan untuk mengujinya,” kata Coetzee menyebut pasien varian Omicron pertama.
Coetzee juga menyebutkan keluhan klinis yang paling dominan dari pasien varian Omicron adalah kelelahan yang parah selama satu atau dua hari, sakit kepala, dan tubuh pegal-pegal. Ia menambahkan dengan gejala tersebut, mereka dapat merawat pasien varian Omicron secara konservatif di rumah.
Berbeda dengan varian Delta, seperti Dikutip dari Liputan6.com, sejauh ini pasien yang terkonfirmasi terinfeksi varian Omicron tidak kehilangan indra penciuman atau rasa. Serta tidak ada penurunan besar pada saturasi oksigen.
Temuan Coetzee lainnya, varian Omicron memengaruhi orang yang berusia 40 tahun atau lebih muda dan hampir 50 persen pasien varian Omicron yang dia rawat tidak menerima vaksin COVID-19.
Meski gejala varian Omicorn terbilang ringan, yang menjadi kekhawatiran berbagai pihak adalah virus ini disebut memiliki tingkat mutasi yang lebih tinggi sehingga penularannya cepat. WHO menyebutkan, seperti dilansir dari detikHealth.com, varian Omicron bisa memicu orang mengalami reinfeksi. Artinya, yang sudah terpapar COVID-19 bisa kembali tertular. (f)
Baca Juga:
BPOM Keluarkan Izin Vaksin COVID-19 ke-11 untuk Covovax
Waspada Gelombang Ketiga COVID-19, Ini Langkah Antisipasinya
BPOM Terbitkan Izin Vaksin Anak Usia 6 - 11 Tahun
Faunda Liswijayanti
Topic
#covid19, #pandemi