Dari berbagai sektor yang ada, industri kuliner menjadi salah satu yang paling dominan, khususnya di kategori usaha mikro dan kecil sepanjang 2024.
Melihat potensi besar ini, Polytron melalui program UMKM Naik Level kembali menggelar kelas pelatihan untuk kedua kalinya. Setelah Jakarta, kota kedua yang dikunjungi adalah Surabaya.
Lebih dari 80 UMKM kuliner asal Surabaya dans sekitarnya hadir di pelatihan yang mengangkat tema Membangun Brand UMKM dari Cerita hingga Kemasan yang Menjual. Acara ini juga menghadirkan praktisi industri dan brand expert, hingga pelaku usaha sukses untuk membagikan insight nyata kepada para pelaku UMKM.
Dalam sesi pembuka, Kenny Meigar, Public Relations Manager Polytron, mengungkapkan bahwa masih banyak mitos yang menghambat pertumbuhan UMKM. Beberapa di antaranya adalah UMKM harus punya banyak cabang untuk dianggap sukses, pinjaman modal selalu sulit diakses, harga mahal berarti brand naik kelas, dan omzet besar adalah satu-satunya indikator keberhasilan.
“Sebanyak 80% pelaku UMKM di Indonesia adalah perintis—mereka yang memulai bisnis dari nol dengan motivasi utama untuk mandiri secara finansial,” ungkap Kenny merujuk data survei yang dikembangkan Polytron bersama Populix.
Menariknya, dari data survei tersebut, mayoritas pelaku UMKM didominasi oleh generasi muda: 65% Gen Z dan milennial, sementara 35% berasal dari generasi sebelumnya.
Meski peluang terbuka lebar, pelaku UMKM tetap menghadapi berbagai tantangan. Data menunjukkan, 30% pelaku usaha masih kesulitan menemukan peluang bisnis; 35% menghadapi kendala di sisi SDM, terutama saat jam operasional sibuk; sementara 55% menjadikan kecepatan pelayanan sebagai tantangan utama.
Selain itu, sekitar 60% UMKM masih belum memiliki peralatan elektronik yang memadai. Padahal, penggunaan peralatan modern terbukti mampu mempercepat pelayanan, meningkatkan efisiensi bahan baku, dan meningkatkan kepuasan pelanggan hingga 60%.
Tantangan inilah yang berusaha dijembatani oleh Polytron dengan menghadirkan peralatan yang mendukung UMKM Kuliner Naik Level. Tidak hanya itu, sejak tahun ini, Polytron juga mengembangkan komunitas UMKM Naik Level Bareng Polytron dengan berbagai rangkaian kegiatan dan berbagi ilmu melalui kanal Whatsapp Group.
Ada pula point reward untuk Polypeneur yang mengikuti setiap rangkaian kegiatan, baik itu online maupun offline, juga untuk aktivitas media sosial lainnya.
Selain itu, saat akan membeli dan menggunakan produk Polytron untuk bisnisnya, Polypreneur juga bisa mengumpulkan poin. Di akhir tahun, poin yang terkumpul akan membuka kesempatan Polypreneur untuk mendapatkan reward dan ikutan di sesi awarding. Cek promo lengkapnya di sini.
Brand bukan sekadar produk bagus
Semangat wirausaha Surabaya terus berlanjut di sesi branding bersama brand activist Radityo Suryo H, CEO Jenama.co. Radit menegaskan bahwa di era ekonomi saat ini, kualitas produk saja tidak cukup.“Semua brand akan mengklaim produknya bagus. Tapi yang membedakan adalah bagaimana kita membangun persepsi dan koneksi dengan pelanggan, bahkan ketika kita tidak bertemu langsung,” jelas Radit.
Radit lalu menekankan pentingnya pebisnis kuliner memahami customer journey, mulai dari:Awareness (tidak tahu menjadi tahu), Consideration (mencari tahu), Decision (memilih), Purchase (membeli), hingga Loyalty (membeli kembali). Ia menambahkan bahwa brand yang kuat adalah brand yang mampu hadir di setiap tahap ini secara konsisten.
Untuk membantu memastikan proses branding berjalan di jalur yang tepat, Radit mengajak peserta merenungkan tiga pertanyaan mendasar dalam bisnis. Pertama, apa sebenarnya usaha yang dijalankan. Menurutnya, banyak pelaku usaha belum mampu menjelaskan produknya secara singkat dan jelas, sehingga calon pelanggan justru bingung.
Kedua, siapa yang benar-benar membutuhkan produk tersebut. Radit menekankan bahwa tidak semua orang adalah target pasar. “Kalau jawabannya semua orang, berarti positioning-nya belum ketemu,” ujarnya.
Ia mencontohkan susu bayi yang pembelinya adalah ibu, sementara bayi hanyalah pengguna. Bahkan dalam banyak kasus, keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh bapak, yang menentukan kemampuan keluarga tersebut membeli susu bayi merek tertentu.
Ketiga, mengapa konsumen harus memilih produk tersebut dibanding kompetitor. Jawaban atas pertanyaan ini, kata Radit, tidak boleh sekadar berdasarkan rasa percaya diri, tetapi harus didukung riset dan data.
Ia juga mendorong pelaku usaha untuk tidak gengsi belajar dari brand lain melalui proses mengamati, meniru hal baik, lalu memodifikasinya agar lebih relevan dengan pasar. “Di atas langit masih ada langit. Selalu ada ruang untuk belajar dan memperbaiki produk,” katanya.
Kekuatan storytelling ciptakan market baru
Salah satu highlight acara datang dari Jessica Hartono, Founder brand pastri Nichi Nichi by Farine, yang membagikan perjalanan bisnisnya selama 15 tahun. Memulai dari dapur rumah dengan peralatan sederhana—hanya satu mixer dan oven—Jessica mengerjakan semuanya sendiri, dari produksi hingga pemasaran.Inspirasi datang saat ia berkunjung ke Jepang. Ia melihat potensi untuk mengadaptasi cita rasa Jepang ke selera Indonesia. Dari situlah lahir inovasi perpaduan chiffon cake dan cheesecake. Ia juga menambahkan teknik brûlée untuk tampilan visual yang lebih menarik. Hasilnya, inovasi tersebut tidak hanya diterima market Surabaya tapi juga kota-kota lain.
“Inovasi ini menciptakan market baru karena saat itu belum ada produk serupa,” jelas Jessica.
Bagi Jessica, kekuatan brand tidak hanya pada produk, tetapi juga pada nilai yang dibawa. Ia mempertahankan filosofi “kue untuk keluarga” dengan mengadaptasi nilai-nilai tersebut dalam setiap lini brand-nya. Dari produksi misalnya, ia menggunakan bahan baku berkualitas tinggi dan menghindari bahan kimia berbahaya.
Begitu juga dalam hal branding, Jessica lebih memilih menggandeng influencer yang relevan dengan nilai keluarga. Terbukti, pendekatan ini membangun emotional connection yang kuat dengan konsumennya.
Acara ini menegaskan satu hal penting bahwa naik level dalam bisnis UMKM bukan hanya soal omzet atau ekspansi, tetapi tentang mindset yang tepat, brand yang kuat, cerita yang autentik, dan pengalaman pelanggan yang konsisten.
Dengan dukungan ekosistem, teknologi, dan strategi branding yang tepat, UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan bersaing di pasar yang semakin dinamis. (f)
Faunda Liswijayanti
Topic
#UMKMNaikLevel, #BisnisKuliner