Foto: Dok. JIS
Jason Maddock, guru Seni Visual sekolah menengah JIS yang juga penggagas kolaborasi tersebut mengatakan, kolaborasi ini bertujuan memberikan siswa pengalaman langsung, berinteraksi, memahami cara pandang dan mempelajari bagaimana proses seorang seniman, yang secara konsisten fokus mengembangkan minatnya, hingga menghasilkan sebuah karya seni visual art yang diakui banyak orang.
Darbotz merupakan seniman ternama Indonesia yang goresan tangannya dikenal dengan khas karakter Cumi-Kong berwarna hitam dan putih. Karyanya dapat ditemui di beberapa sudut Jakarta, gedung dan bangunan, seperti di Artotel Thamrin dan Maple Hotel Grogol, Jakarta.
Dalam acara ini, lebih dari 30 siswa-siswi sekolah menengah dan menengah atas JIS secara bersama-sama membuat sketsa dasar gambar yang terinspirasi dari filosofi Batik JIS pada tembok berukuran 2,54 meter x 15,3 meter. Kemudian, untuk menyempurnakan mural tersebut, Darbotz memberikan goresan khasnya menyatu dengan karya para siswa.
“Seni lukis dinding atau mural art adalah sebuah medium seni yang sangat relevan dengan karakter siswa JIS. Metodenya sangat fleksibel dan dapat dilakukan kapan saja ketika inspirasi itu datang,” tutur Jason di sela acara di halaman parkir JIS di Jakarta, Sabtu (7/4/2018).
Workshop sejenis yang menghadirkan seniman ternama tanah air memang rutin diadakan oleh JIS dengan tujuan menanamkan empat pedoman yang menjadi filosofi pembelajaran di JIS yaitu, Reflecting, Relating, Resourceful dan Resilient.
Beberapa seniman terkemuka Indonesia yang pernah didatangkan oleh JIS adalah sutradara Putu Wijaya, seniman keramik Bregas Harrimardoyo, dalang kelas dunia Ki Purbo Asmoro, serta seniman dan peraih beasiswa khusus seni pertunjukan Bali I Wayang Dibia.
Darbotz yang temui di lokasi acara mengatakan bahwa mural art itu sebenarnya kebebasan (freedom) tak ada aturan baku yang harus dipatuhi. Untuk itu ia memberi kebebasan kepada para siswa untuk menggores sesuai dengan kemampuan menggunakan cat semprot.
“Saya mengajak mereka belajar tentang teknik-teknik dasar melukis mural. Saya juga menekankan kepada mereka untuk tidak takut melakukan kesalahan dalam melukis,” kata Darbotz.
Konsep belajar yang diterapkan oleh Darbotz ini memang sesuai dengan filosofi pembelajaran Resilient.
Para siswa dapat belajar dari kesalahan lalu berproses bagaimana cara mengatasi kesalahan tersebut.
“Growth mindset itulah yang ingin kami tanamkan kepada setiap anak didik kami,” tutur Jason. (f)
Baca Juga:
Kompetisi Olahraga Jadi Media Belajar Gaya Hidup Sehat Serta Membentuk Karakter Anak
Anak Butuh Sekolah Bukan Menikah
Topic
#sekolah, #seni