Apa sebenarnya perbedaan antara varian delta dan delta plus?
Delta plus merupakan turunan dari varian delta, yang mengalami mutasi tambahan, K417N, pada protein lonjakan virus. Protein tersebut memungkinkan terjadinya infeksi pada sel-sel sehat. Mutasi ini juga ditemukan pada varian beta dan gamma, yang pertama kali diidentifikasi oleh peneliti di Afrika Selatan dan Brasil.
Mengutip laman Kompas, gejala umum yang ditimbulkan oleh virus varian delta plus adalah batuk kering, kelelahan, dan demam. Pasien bergejala agak parah bisa mengalami sesak napas, sakit perut, ruam kulit, perubahan warna jari kaki, sakit tenggorokan, anosmia, dan sakit kepala.
Kepala peneliti WHO, Dr Soumya Swaminathan, menegaskan kembali, paling tidak varian delta dua kali lebih menular daripada varian lain. Ketika seseorang terpapar varian delta, kemungkinan besar ia juga menularkannya pada beberapa orang sekaligus. Dan, varian delta plus lebih berbahaya daripada varian delta dan lebih kebal terhadap obat-obatan. Hal ini terjadi karena varian delta plus memiliki mutasi lain. Namun, WHO menyebutkan bahwa varian tersebut hanya menyumbangkan sebagian kecil dari keseluruhan kasus.
Selain menerapkan aturan pembatasan mobilitas warga, pemerintah juga berusaha mencegah penularan varian delta plus dengan percepatan vaksinasi nasional. Prof. Wiku menegaskan, peluang terbentuknya varian baru COVID-19 pada orang yang sudah divaksinasi lebih rendah dibandingkan orang yang belum divaksin.
Siapa yang belum divaksin? Yuk, segera daftar ke sentra vaksinasi. (f)
Baca Juga:
Studi Terkini: Wanita Lebih Rentan Alami Long COVID
7 Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer dari Efikasi hingga Keamanannya
Indonesia Butuh Dosis Ketiga Vaksin sebagai Perlindungan Ekstra?
Topic
#variandelta, #deltaplus, #pandemi