Trending Topic
Sejarah Kebangkitan Wanita Indonesia

20 May 2016



Foto: Dok. Museum Sumpah Pemuda, Jakarta

Meski perannya lebih ‘tersembunyi’ dalam sejarah, nyatanya sejak dulu wanita Indonesia berani dan vokal memperjuangkan kemerdekaan serta  hak-hak wanita dan anak-anak.
 
Dalam studi kajian wanita, perjalanan wanita Indonesia memang baru tercatat dalam sejarah sejak sekitar abad ke-17, saat kebudayaan Barat (Portugis dan Belanda) mulai memasuki wilayah Nusantara. Periode sebelum itu, saat negeri ini masih berupa kerajaan-kerajaan, kajian tentang wanita (Indonesia) masih tercakup dalam wilayah arkeologi.
 
Meskipun masih terhitung baru dalam cetak biru sejarah, ternyata jejak langkah wanita Indonesia telah cukup jauh. Bahkan terhitung maju, jika dibandingkan dengan wanita-wanita di Barat sekalipun.
 
Wanita di Pucuk Pimpinan
Megawati Soekarnoputri bukanlah wanita pertama yang menjadi pimpinan tertinggi di negeri ini. Jauh sebelumnya, sudah ada beberapa wanita yang juga ditunjuk menjadi pemimpin tertinggi di wilayahnya.

Seperti tercatat dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid V, pada zaman Majapahit (1294-1525), tercatat nama Ratu Tribuana Tunggadewi, ibunda Raja Hayam Wuruk. Meski status resminya adalah permaisuri raja, dalam kehidupan sehari-hari, dialah yang sesungguhnya memegang kekuasaan dan menentukan jalannya pemerintahan.

Antara tahun 1641-1699, Kesultanan Aceh juga dipimpin oleh seorang sultanah (wanita sultan), bernama Sultanah Sri Tajul Alam Safiatuddin Shah, yang dinobatkan pada 1641, dan memerintah selama 30 tahun. Hebatnya lagi, Sultanah Safiatuddin adalah orang terpelajar, yang menguasai bahasa Melayu, Arab, Persia, Spanyol, Urdu, dan tentunya bahasa Aceh sendiri.

Sultanah Safiatuddin tercatat berhasil menghadang usaha VOC (perusahaan dagang Belanda untuk wilayah Hindia Timur) yang bermaksud memonopoli perdagangan di wilayah Aceh dan sekitarnya. Setelah Sultanah Safiatuddin, berturut-turut Aceh dipimpin wanita sultan, yaitu Sultanah Nurul Alam Naqiatudin (1673-1678),  Sultanah Inayat Zakiyahtudin Syah (1678-1688), dan Sultanah Komalat  Zainatudin Syah (1688-1699).
Advertisement

Di Kerajaan Tanette di Sulawesi Selatan, juga pernah berkuasa wanita sultan bernama Siti Aisyah We Tenriolle, dinobatkan  pada 1859. Sultanah ini dikenal sangat peduli pada kebudayaan dan kesusastraan. Salah satunya, ia membuat ikhtisar tentang epos La Galigo, yang menunjukkan tingkat pemahamannya yang tinggi. Pada 1906, di usia sepuh, ia mendirikan lembaga pendidikan modern pertama di Tanette, yang terbuka bagi anak laki-laki maupun perempuan.

Angkat Senjata di Garis Depan
 Jauh sebelum Amerika Serikat mengesahkan undang-undang yang mengizinkan wanita dikirim ke garis depan pertempuran, sejumlah wanita kita sudah lebih dulu melakukannya dengan gagah berani. Mereka tak hanya bekerja di dapur umum atau tim kesehatan, tapi juga ikut mengangkat senjata.

 Lagi-lagi Tanah Rencong mencatat nama Laksamana Malahayati (tahun 1600-an), yang terkenal dengan keberanian dan kemampuannya memimpin armada Aceh dalam pertempuran laut menghadapi kapal-kapal VOC dan Portugis. Tercatat, kontak senjata pertama armada Aceh pimpinan Laksamana Malahayati dengan armada VOC, terjadi pada Juni 1599, yang berakhir dengan kekalahan Belanda.

Laksamana Malahayati pula yang  melayani diplomasi pihak Belanda dan memberi izin untuk membebaskan para pelaut VOC yang ditawan Aceh. Keberanian wanita Aceh memang pantas diacungi jempol. Cut Nyak Dien, Cut Mutia, dan Pocut Baren, juga ikut bertempur di hutan-hutan melawan Belanda.

Dari Pulau Saparua, Maluku, melejit nama Martha Christina Tiahahu. Bahu-membahu dengan Kapiten Pattimura (Thomas Matulessy) serta ayahnya sendiri, Paulus Tiahahu, ia ikut bertempur melawan Belanda, dan berhasil merebut benteng Belanda, Berverwijk. Ia tertangkap pada 1817, dan dibuang ke Jawa, tapi meninggal dalam perjalanan.

 Di akhir abad ke-19, di Pulau Jawa juga tercatat sejumlah wanita pemberani. Saat Perang Diponegoro meletus pada 1925, Nyai Ageng Serang (Raden Ayu Ageng Serang), wanita bangsawan dari Purwodadi, Jawa Tengah, bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro dan ikut terjun ke pertempuran, meski usianya sudah lanjut. Wanita lain yang tak kalah pemberani adalah Ratnaningsih, istri Pangeran Diponegoro, yang setia mendampingi suaminya di medan perang, bahkan memimpin pasukan wanita yang diberi nama Laskar Srikandi. Ia juga terkenal jago menunggang kuda.

Memasuki masa revolusi fisik (setelah Jepang masuk), sejumlah laskar wanita juga ikut bahu-membahu dengan pejuang pria di garis depan. Antara lain tercatat: Barisan Putri di Jakarta (didirikan 1944), Laskar Wanita Indonesia atau LASWI di Bandung (1945), Laskar Putri Indonesia (LPI) di Surakata, Wanita Pembantu Perjoangan (WPP) di Yogyakarta, Laskar Muslimat di Bukittinggi, Sabil Muslimat di Padang Panjang, dan sebagainya. Tak hanya prajuritnya, para komandannya pun wanita. Laskar Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) juga tercatat ikut maju ke medan tempur saat pecahnya konflik Indonesia dengan Malaysia, yang dikenal dengan Operasi Ganyang Malaysia (1962).

Tina Savitri
Konsultan: DR. Nana Nurliana Soeyono, MA, dari Jurusan Sejarah Universitas Indonesia



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?