Foto: Rizka Azizah, Miles Fims
Ia tak menampik, banyak film nasional yang menjadikan Yogyakarta sebagai setting utama syuting. Namun, kebanyakan berupa film periodik yang menggambarkan sisi tradisional Yogyakarta. Belum ada film yang mengeksplorasi sisi terkini kota tersebut. Inilah yang menjadi tantangan bagi Mira dan Riri Riza untuk menampilkan Kota Yogyakarta dengan lebih modern.
“Yogya memiliki kebudayaan yang kaya. Musiknya, warganya, makanannya, hingga destinasi seru yang memperkaya sisi visual untuk film ini,” jelas Riri, antusias. Karenanya, mereka dan tim produksi pun tak ragu melibatkan warga lokal. Sebanyak 25 warga Yogya terlibat kerja bareng di film ini, baik sebagai kru maupun aktor.
Menjalani proses syuting AADC 2 yang berlangsung selama 30 hari, Riri dan Mira mengaku excited. Ini karena semua yang terlibat di Miles Production, termasuk kru dan pemain, memiliki hubungan yang sangat dekat seperti keluarga. Kerja sama yang terjalin pada pembuatan AADC pertama di tahun 2001 menyisakan kerinduan hingga bisa bekerja sama lagi 14 tahun kemudian.
“Tiba-tiba saya berpikir, persaudaraan yang terjalin harus dimanfaatkan. Akan jadi hal yang menarik bila cerita AADC dilanjutkan. Syukurlah mereka menyambut baik ide membuat sekuel AADC,” ungkap Mira, tersenyum.
Ide melanjutkan AADC pun direspons sangat baik oleh para fans. Dari mereka, Mira menerima banyak masukan lewat e-mail dan media sosial mengenai gagasan cerita lanjutan AADC 2. Para fans menggambarkan idenya dalam berbagai versi. “Saya lalu menggabungkannya dengan ide versi saya dan Riri. Kami memoles cerita sesuai dengan perkembangan zaman dan para pemainnya yang kini sudah tak lagi remaja,” jelasnya.
Mira dan Riri tak menampik, kesuksesan besar AADC sempat membuat mereka terbebani. Namun, keduanya mencoba menanggalkan beban tersebut dan lebih fokus pada pembuatan cerita. Riri, yang dalam sekuel ini juga bertindak sebagai sutradara, bekerja keras merangkum sisi nostalgia di AADC dengan faktor-faktor terkini.
“Nostalgia memang menjadi garis besar film ini. Namun, tetap harus ada sesuatu yang baru. Saya mencoba memetakan segala perubahan yang terjadi dalam 14 tahun. Meski tak mudah, saya menganggapnya tantangan,” tegas Riri.
Agar tak terpaku pada beban kesuksesan AADC, keduanya pun sepakat tak meletakkan ekspektasi apa pun saat menggarap AADC 2. Hal itu pula yang mereka lakukan saat membuat AADC 1 pada tahun 2002 lalu. Pembuatan cerita, pemilihan pemain, hingga proses syuting mereka jalankan tanpa beban maupun ekspektasi tertentu. (f)
Topic
#AADC