Foto: Fotosearch
Tidak dan Peluang
Sejak dulu kita sudah belajar bahwa kata “ya” mengafirmasi keinginan seseorang, sementara kata “tidak” diartikan sebagai penolakan atau pengingkaran. Nggak heran begitu mendengar “tidak” seseorang akan merasa down banget.
Menurut psikolog Nessi Purnomo, seharusnya kita nggak perlu sedih saat mendengar kata “tidak”. Pasalnya, ada peluang yang tersembunyi di balik kata “tidak”.
“Sebenarnya tidak pernah ada titik setelah kata ‘tidak’. Selalu ada opportunity di baliknya karena ada alasan bila seseorang mengatakan ‘tidak’,” jelas Nessi.
Jika sejak kecil kita terbiasa mendengar kata “tidak” dari orangtua tanpa diikuti penjelasan, jelaslah kita akan melihat ‘tidak’ sebagai harga mati. Namun, bila orangtua kerap memberikan penjelasan di balik ‘tidak’, kita justru melihatnya sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan.
Tidak dan Berpikir Positif
Kata “tidak” tanpa penjelasan sudah pasti membingungkan. Alhasil kita pun sering salah mengartikannya, deh.
“Interpretasi yang berkembang dari kata ‘tidak’ cenderung sesuai dengan apa yang diyakini oleh seseorang. Misal, A yakin B membencinya, maka ketika B bilang ‘tidak’, A percaya B memang membencinya sehingga A selalu mendapat kata ‘tidak’. Padahal, kan, belum tentu,” kata Nessi.
Nessi pun menegaskan perlunya berpikir positif saat mendengar “tidak”.
“Kata ‘tidak’ bukanlah akhir dari dunia, tapi suatu tantangan yang masih bisa diperjuangkan. Ini yang harus dilatih. Biasakan menyikapi kata ‘tidak’ secara positif supaya nantinya menjadi pola perilaku atau kebiasaan kita.”
Oleh karena itu, ketika klien bilang “tidak bisa” saat kita minta waktu bertemu, jangan buru-buru beranggapan dia menghindar. Kita harus bisa melihat kemungkinan lain, misalnya bisa jadi waktunya memang nggak tepat atau klien memang sedang sibuk dengan urusan kantornya. (f)
Topic
#psikologi