Trending Topic
Miss Sensasional, Cari Pengakuan Lewat Sensasi

13 Jul 2016


Foto: Fotosearch

Selebriti yang hobi bikin sensasi lewat penampilannya banyak kita lihat. Ada yang hobi gonta-ganti warna rambut sampai memakai busana yang superminim. Tujuannya, sih, nggak lain untuk mencari perhatian dari orang lain. Di sekeliling kita pun banyak orang melakukannya. Kira-kira apa maksudnya, ya?
 
Sadar risiko
Sensasi bisa diciptakan lewat berbagai cara. Mulai dari gonta-ganti pacar, memakai baju yang ajaib, hingga melakukan aktivitas berbahaya seperti bungee jumping bahkan memakai narkoba agar orang lain memerhatikan kita. Menurut psikolog Nessi Purnomo, pencari sensasi tergolong orang yang berani menanggung risiko, alias risk taker.

“Orang yang mencari sensasi, tuh, biasanya risk taker. Bukan sekadar bikin sensasi, tapi goal-nya (kebanyakan) adalah mencari perhatian. Tapi, ada juga yang bikin sensasi karena dia menikmati ‘terpaan’ kepuasan saat melakukannya. Makanya ada yang memilih aktivitas berbahaya.”

Nah, risikonya nggak melulu sesuatu yang bersifat fisik. Bisa juga non-fisik, seperti penolakan karena orang-orang merasa terganggu ketika kita melakukannya secara berlebihan.
 
Pengaruh lingkungan
Si pembuat sensasi yang butuh perhatian biasanya merasa kurang dianggap oleh keluarga maupun lingkungan terdekatnya.

“Kalau bicara tentang teori keseimbangan, ketika kita tidak menemukan sesuatu di sini, kita akan mencarinya di tempat lain supaya jadi balance. Berhubung di rumah dia merasa tidak cukup mendapatkan perhatian, dia mencarinya di luar. Kalau di luar rumah dapat perhatian, ya, masalah terpecahkan,” kata Nessi.

Nah, ketika belum juga diperhatikan, dia akan mencoba berbagai cara untuk mendapatkannya.

“Misalnya dia pakai drugs. Dia tahu hal ini akan membuat ortunya marah, tapi paling nggak mereka memberikan perhatian kepadanya. Bisa jadi mereka yang mencari perhatian, tuh, merasa menjadi orang yang selama ini nggak dianggap. Agar dianggap, ada sesuatu yang harus dilakukannya. Inilah yang dicap orang mencari sensasi,” kata Nessi.
 
Jadi ‘nagih’?
Advertisement
Semakin banyak perhatian yang didapatkan si pembuat sensasi, dia akan terus melakukannya. Menurut Nessi, hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi: selama ada demand, supply bakal terus mengalir.

“Selama masih suka, ya, sensasi terus diciptakan. Dia kayak mendapat reward dari apa yang dilakukannya—sesuai teori psikologi belajar yaitu orang akan melakukan sesuatu ketika dia dapat reward. Jika dia bersikap konyol dan orang tertawa, maka dia akan terus melakukannya.”

Nessi berpendapat bahwa sensasi boleh dilakukan asal tidak mengganggu orang lain. Begitu merasa terganggu, kita nggak perlu mengunakan kekerasan untuk menyadarkan si pencari sensasi.

“Sampaikan secara baik-baik bahwa apa yang dilakukannya mengganggu kita. Kalau mau perilaku ini hilang, kita tinggal menghilangkan reward-nya. Misalnya, begitu dia melakukan sensasi, ya, cuekin aja. Meskipun belum tentu dengan sekali dicuekin akan hilang,” tegas Nessi.

Sst… kalau terus-menerus dicuekin, pelaku bakal sadar, kok, bahwa apa yang dilakukannya nggak efektif buat mendapatkan perhatian. Akhirnya, sih, Miss Sensasi bakal kapok sendiri, hi hi hi.
 
Sensasi ala Seleb
Di balik keinginan untuk diperhatikan, seleb bikin sensasi untuk menjaga popularitasnya di industri hiburan.

“Kadang mereka mencari sensasi untuk mengingatkan orang bahwa dia masih ada meskipun banyak artis baru. Mereka akan laku kalau terkenal. Sensasi yang dibuat para seleb dibuat by sign dan disepakati oleh agensi dan mereka sendiri. Gunanya, ya, untuk meningkatkan popularitas,” kata Nessi.

Biasanya ‘sensasi buatan’ muncul mendekati event tertentu yang melibatkan si seleb. Misalnya, satu bulan menjelang promosi film atau albumnya launching supaya masyarakat ngeh dan akhirnya laku. Lalu, kenapa sensasi ala selebriti cenderung negatif, ya?

“Sebagai ilustrasinya, kalau kita mau bikin iklan tinggal pilih: mau yang eye catching bagus atau ancur sekalian? Kalau di tengah-tengah, orang nggak bakal ingat. Rasanya, sih, bagi orang yang senang bikin sensasi kalau harus membuat sesuatu yang luar biasa bakal sulit. Makanya dia bikin ekstrem yang satunya lagi—kan, lebih mudah,” jelas Nessi.

Duh, ribet amat jadi seleb! (f)
 


Topic

#psiko

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?