Sebelum menyentuh tema profit with a purpose, beliau terlebih dahulu memulai dengan business with a purpose. Mirta menyampaikan bahwa wanita Indonesia sudah berada di dunia bisnis sejak Indonesia belum merdeka. Dimulai karena keterpaksaan kondisi atau keinginan untuk membantu suami, dengan berjalannya waktu, bisnis kemudian menjadi pekerjaan tetap bagi wanita-wanita di Indonesia.
“Misalnya ia terpaksa menjualkan sawah (atau) kebun kelapa, itu semua adalah kegiatan yang wanita lakukan di balik tangan suaminya,” ujar Mirta.
Menurut Mirta, profit pada awalnya dilihat sebagai suatu penghasilan untuk menutupi kebutuhan. Tentu saja sekarang, untuk membentuk suatu bisnis dibutuhkan berbagai macam ketentuan dan tujuan, bukan sekadar profit.
Banyak wanita memulai usahanya kecil-kecilan, atau yang pemerintah sering sebut dengan UKM (Usaha Kecil Menengah). Tidak jarang, usaha kecil-kecilan tersebut bertumbuh menjadi penghasilan dan merupakan 90% dari bisnis yang ada di Indonesia. Beragam dari menjual kerupuk, keripik singkong, pisang goreng yang kemudian di ekspor, atau jahit baju yang kemudian menjadi konveksi. Bahkan tas rajut yang dimulai dari industri lokal, bisa di ekspor ke Italia di kemudian hari.
Mirta mengungkapkan bahwa usaha yang dijalani wanita bukan saja mengejar keuntungan, tetapi untuk memperluas sosialisasi dan jejaring ke jenjang korporasi dalam industri besar. “Dengan berkembangnya kemampuan berusaha, wanita hendaknya berkembang pula aspirasi kita,” ujarnya.
Mirta mengakhiri pembukaan acara tersebut dengan berterima kasih kepada sponsor utama hari kedua Indonesian Women’s Forum yakni Facebook Indonesia. (f)
Belinda Furati Millenia (Kontributor)
Editor: Nuri Fajriati
Baca Juga:
Merayakan Inklusifitas Dalam Indonesian Women's Forum 2019
Yenny Wahid, Masa Depan Adalah Wanita
Inklusif Dalam Dunia Profesional
Topic
#iwf, #iwf2019, #IWF19, #IndonesianWomensForum2019, #indonesianwomensforum