Foto: Freepik
Masih dalam ajang yang sama Indonesia Industry Outlook #IIO2021 Conference, di hari pertama, Rabu (4/11) hadir CEO dari berbagai industri yang membahas temuan menarik dari survei yang dilakukan Inventure tentang tren konsumen Indonesia di tahun 2021.
Salah satunya Haryati Lawidjaja, CEO LinkAja yang berbagi insight tentang digital payment, salah satu industri yang jsutru mengalami peningkatan pesat di kala pandemi ini.
Haryati menyebutkan data per November 2020, digital payment LinkAja sudah memiliki lebih dari 58 juta pengguna yang terdaftar dan sudah bisa digunakan di lebih dari 600 ribu local merchant dan lebih dari 280 ribu merchant nasional di seluruh Indonesia.
Menurut Haryati, tren penggunaan digital payment ini diperkirakan akan terus berlanjut setelah pandemi nanti. Namun, untuk bisa keluar bersama dari krisis ekonomi dan kesehatan di masa pandemi ini, Haryati mengingatkan akan pentingnya para pelaku usaha termasuk layanan digital payment untuk berkolaborasi dan tumbuh bersama agar bisa keluar dari situasi pandemi.
“Kami juga bersinergi dengan perbankan bahkan saling melengkapi. Dari kolaborasi ini melahirkan kesempatan yang tidak terbatas, semuanya tergantung kreatifitas dan inovasi yang dilakukan,”ujar Haryati yang baru menjabat CEO sejak April 2020 lalu.
Saat ini, selain bekerjasama dengan sekitar 1600 e-commerce, LinkAja sudah bisa digunakan di 134 moda transportasi dan bisa digunakan di lebih dari 500 pasar tradisional.
Berdasarkan riset konsumen yang dilakukan Inventure, pandemi telah mendorong tumbuhnya pembayaran secara cashless, cardless dan contactless. Sebesar 63,5% mengatakan setuju (menggunakan digital payment) sebagai pembayaran di masa pandemi.
Lantas bagaimana dengan sektor perbankan? Diperkirakan setelah pandemi, kehadiran digital branch menjadi sangat penting dan dibutuhkan oleh nasabah. Nasabah dapat melakukan transaksi perbankan secara digital, self service dan minim sentuhan.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Inventure sebanyak 68,5% responden dari 629 responden mengatakan setuju jika kantor cabang bank pada umumnya harus melakukan transformasi menjadi digital branch.
”Ke depan kantor cabang harus berubah mengikuti pergeseran preferensi konsumen ini. Kantor cabang akan ditata lebih cozy dan diarahkan untuk melayani high-value customers dengan layanan yang highly-customized," kata Yuswohady Managing Partner Inventure.
Menurut Haryanto T Budiman, Executive Chairman Ikatan Bankir Indonesia, dalam webinar bertajuk Towards Digital Banking, ke depannya kantor cabang akan tetap dibutuhkan oleh nasabah terutama untuk transaksi dalam jumlah besar. Namun bentuk kantor cabang akan berubah, bisa menjadi lebih kecil, ringkas dan efisien.
Transformasi digital, sekali lagi akan menjadi backbone berbagai industri ke depannya. Pandemi telah mengakselerasi penggunaan digital dalam berbagai ranah kehidupan. Maka, inventasi dalam hal digitalisasi adalah keharusan bagi industri yang ingin terus berkembang. (f)
Baca Juga:
Norma Sosial Jadi Alasan Orang Rendah Terapkan Disiplin Perilaku Jaga Jarak
Penyebaran Hoaks Meningkat Jelang Pilkada 2020, Wanita Punya Peran Menjadi Agen Literasi Digital
Hasil Testing Covid-19 pada 2,5 juta orang, 86% Terkonfirmasi Negatif
Faunda Liswijayanti
Topic
#ekonomi, #keuangan, #covid19