Foto: Dok. Yayasan Kampung Halaman
Kenyataannya, nasib dan masa depan remaja perempuan kerap terabaikan. BPS tahun 2014 sekali lagi mencatat bahwa sebanyak 16,6 juta remaja perempuan di Indonesia putus sekolah. Sementara itu 28,6 juta remaja perempuan yang menjadi bagian dari 125 juta angkatan kerja membutuhkan pekerjaan.
Ketimpangan antara potensi diri dan kenyataan di lapangan inilah yang mendorong Yayasan Kampung Halaman menggandeng remaja perempuan di enam kota kecil di Indonesia untuk menyuarakan pemikiran mereka melalui penggarapan film Kembang 6 Rupa, yang diluncurkan Mei lalu di Jakarta. Melalui proses riset dan dialog yang berlangsung sejak Juli 2014, film dokumenter ini berhasil memberikan gambaran jelas tentang kompleksitas dan luasnya spektrum permasalahan yang diwakili oleh remaja perempuan dari 6 daerah, yaitu Kuningan, Krapyak (Yogyakarta), Sumedang, Wamena (Papua), Indramayu, dan Bungin (Sumbawa).
Maesarah (17) adalah remaja perempuan dari Pulau Bungin, Sumbawa. Tumbuh dan besar di tengah keluarga nelayan yang miskin, Maesarah hendak memperbaiki nasib keluaranya dengan hijrah ke Malaysia sebagai TKW. Namun, untuk bisa mewujudkan impiannya ini, ayahnya yang nelayan harus membayar biaya Rp2 juta yang terhitung sangat mahal bagi keluarganya.
Ika (16), remaja asal Indramayu, yang memilih keluar dari sekolah karena tak tahan diejek-ejek sebagai anak haram. Terpikat dengan kehidupan serba wah yang dipamerkan teman-temannya di media sosial, ia ngotot bekerja di Jakarta sebagai terapis pijat di sebuah spa. Berkebalikan dengan Ika, maka Agnes Asso (17) justru ingin sekali kembali ke sekolah. Impian remaja asal Disktrik Asolokobal, Wamena ini harus menunggu, sebab ia masih disibukkan mengurus putrinya yang masih bayi. Untuk menyambung hidup, ia menganyam dan menjual noken.
Tiga remaja perempuan lainnya adalah Pipit Fitrianti (16), siswi sekolah madrasah di Cibeureum, Sumedang, yang kerap memberikan kemenangan di pertandingan cabang olah. Namun, alih-alih melihat kontribusinya, guru-guru dan orang disekelilingnya justru mencabnya sebagai remaja nakal “cabe-cabean”, hanya karena ia suka berkumpul bersama teman-teman perempuannya yang lain. Lalu ada Nala Sahita Putri (17), di Yogyakarta, yang kontribusinya di organisasi pemuda setempat dipandang sebelah mata, bahkan tidak dilihat hanya karena ia perempuan.
“Dalam 10 Tahun Kampung Halaman, metode kolaboratif dan penggunaan media berbasis komunitas adalah dua kunci penting kerja kami selama ini. Kami ingin menyampaikan bahwa remaja perempuan adalah pembelajar dan pendidik alami yang senang berbagi,” jelas Rachma Safitri, tentang program pemberdayaan kaum muda yang digarap melalui pendekatan media audio visual ini. (f)
Topic
#WanitaIndonesia