Baru saja tayang di bioskop, film Surat dari Praha sudah menuai reaksi tak sedap. Film arahan sutradara Angga Sasongko ini disebut-sebut telah meniru sebuah cerpen berjudul sama karya Yusri Fajar, penulis cerpen asal Malang, yang dibuat tahun 2012 lalu. Menanggapi tuduhan tersebut, Angga pun menggelar konferensi pers, awal Februari lalu, untuk membeberkan segenap proses produksi yang mereka lakukan dalam menggarap film tersebut.
“Pemberitaan tersebut menggiring opini publik yang merugikan image karya kami,” ujar Angga. Ia pun menyayangkan tuduhan tersebut, karena dilontarkan sebelum film ditayangkan di bioskop. Alhasil, publik pun belum berkesempatan menonton ataupun membandingkannya.
Yusri dikabarkan sempat mengklaim telah melayangkan somasi kepada Angga. Namun, Angga menegaskan, ia tidak pernah menerima somasi dari Yusri. “Ini membuat kami merasa dirugikan karena kami seakan-akan adalah pihak keras kepala yang tidak mau diajak mediasi.” Karena itulah, Angga dan tim produksinya sepakat untuk merespons klaim Yusri secara hukum.
Dalam konferensi pers tersebut, hadir pula Irfan Ramli, penulis skenario film ini. Ia menuturkan, proses penulisan skenario telah dilakukan sejak syuting film Cahaya dari Timur. “Proses yang kami lakukan melibatkan wawancara dengan para narasumber di Praha langsung. Kami memiliki data rekamannya,” tegas Irfan. Memang, berdasarkan penelusuran kru film yang diproduseri Glenn Fredly ini, antara film dan cerpen memiliki satu benang merah, yaitu surat yang dikirim ke Indonesia. Tapi, isinya berbeda. Irfan mengaku belum pernah membaca cerpen karya Yusri, terhitung sebelum tuduhan tersebut menguak ke permukaan.
Berbicara soal kesamaan judul, Angga mengelak klaim plagiarisme. Menurutnya, hak cipta itu melindungi isi, bukannya judul. Ia kemudian mencontohkan, jauh sebelum cerpen Surat dari Praha karya Yusri terbit, sudah ada 2 buku berjudul serupa: Letter from Prague yang juga dijadikan judul karya Sue Gee (1994) dan Raya Czerner Schapiro & Helga Czerner Weinberg (1991). “Kami telah mendaftarkan merek atas judul Surat dari Praha di kelas 41 terkait film bioskop, kelas 9 terkait cakram digital, dan kelas 16 terkait poster,” tegas Angga.
Begitu pula soal poster yang konon juga diklaim sebagai plagiarisme. Menurut Angga, gambar Charles Bridge di poster tersebut merupakan ikon umum Kota Praha, layaknya gambar Menara Eiffel di Paris ataupun Monas di Jakarta. “Adanya kesamaan judul pada dua media berbeda, dalam hal ini buku dan film, adalah wajar terjadi. Keduanya kan termasuk karya seni,” pungkas Angga. (f)