Trending Topic
Ini Pengalaman Kami Jadi Kaum Minoritas

5 Aug 2017




Foto: Dok. Pribadi

“Bukan berarti kamu berbeda, maka kamu tidak baik.”
Aditya Widya Putri (25), Jurnalis, Jakarta

Ketika berusia 15 tahun, saya pindah dari Jakarta ke Solo. Terbiasa berbicara dengan bahasa Indonesia, saya menjadi bahan olokan teman di sekolah. Terlebih lagi karena saya tidak bisa bahasa Jawa, mereka menganggap saya sombong.
 
Paling mengesalkan adalah saat pelajaran bahasa Jawa di kelas. Saya kerap ditertawakan karena pelafalan bahasanya sering salah. Saya juga sering dikerjai teman teman untuk mengucapkan kata dalam bahasa Jawa, yang ternyata maknanya ‘jorok’.
 
Advertisement
Tidak hanya dengan teman, seorang guru juga pernah menegur saya karena ia menganggap cara bicara saya tidak sopan. Padahal, itu hanya masalah kebiasaan
dengan intonasi berbahasa Indonesia ketika tinggal di Jakarta yang cenderung tinggi, sementara intonasi di Jawa itu halus.
 
Meski begitu, saya berusaha untuk membaur dengan banyak berorganisasi di sekolah, agar bisa dekat dengan teman-teman.
 
Saya tidak berusaha memaksakan mereka untuk memahami gaya bicara saya. Saya perlahan-lahan belajar aksara Jawa hingga akhirnya mampu berbahasa Jawa.
 
Berada di posisi sebagai minoritas, saya harus pintar pintar upgrade diri, agar mereka membutuhkan saya sehingga mereka mengacuhkan fakta bahwa saya adalah seorang minoritas.
 
Tapi, dari pengalaman menjadi minoritas saya belajar bahwa bukan berarti kamu berbeda, maka kamu tidak baik. Kita harus saling menghormati, tidak peduli suku, ras atau agama.
 


Topic

#intoleransi, #toleransi

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?