Foto: 123RF
“Ada beberapa hal yang memengaruhi supply pangan. Pertama adalah musim. Kedua, adanya masa paceklik yang membuat ketersediaan pangan menipis dan sebaliknya pada masa panen membuat surplus sehingga harga turun. Ketiga, distribusi untuk menyalurkan bahan pangan dari daerah produsen,” ujar Sri Yanti J.S., Direktur Pangan dan Pertanian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Salah satu saja dari ketiga hal itu terganggu, maka akan berpengaruh pada ketersediaan dan harga pangan di masyarakat.
Musim kemarau dan hujan menentukan keberhasilan pertanian, tapi perubahan iklim saat ini membuat petani lumayan pusing dan harus ekstra kerja keras. ”Kita jadi kesulitan menentukan musim tanam yang tepat. Kebanyakan, sawah di daerah saya sawah tadah hujan atau pengairannya dari sungai. Jadi, untuk awal musim tanam sangat tergantung pada musim hujan,” ungkap Yayuk Rahayu, petani organik di Desa Putren, Nganjuk, Jawa Timur.
Tapi, jika curah hujannya terlalu tinggi seperti sekarang, kesulitannya ada pada waktu panen. Petani butuh waktu lebih lama untuk menjemur gabah, karena kebanyakan petani di Indonesia masih mengandalkan sinar matahari. Jika pengeringan tidak sempurna, beras yang dihasilkan akan berwarna kuning dan mudah remuk, yang akhirnya memengaruhi kualitas dan harga beras.
Hujan juga membuat serangan penyakit dan hama, seperti keong dan wereng, jadi lebih banyak. Pohon padi juga rentan roboh karena angin dan curah hujan yang tinggi. Curah hujan yang terlalu tinggi seperti sekarang ini justru kurang baik bagi tanaman hortikultura, seperti bawang dan cabai, yang akhirnya menyebabkan harga cabai meroket seperti saat ini.
Iklim yang ekstrem sebaliknya juga membuat musim kemarau terlalu panjang. Akibatnya, sawah-sawah tadah hujan tak bisa ditanami padi. Jika ditanami biasanya hanya jenis palawija, seperti kedelai dan kacang hijau. Itu pun dengan biaya lebih besar di awal masa tanam, karena harus menggunakan tenaga diesel untuk mengairi sawah.
Persoalan iklim saat ini adalah bukti bahwa climate change bukan isu yang mengawang-awang yang gaungnya besar lewat corong selebritas dan politikus dunia semata. Perubahan iklim yang kerap digaungkan lewat kisah beruang kutub yang kesulitan mencari makan dan hidup karena es habitatnya hidup banyak mencair, juga membuat petani kesulitan mendapatkan panen, dan akhirnya membuat kita sulit mendapat bahan pangan.
Kecenderungan ini sepertinya akan terus terjadi. Seperti dikatakan Yayuk yang turut membina petani-petani di desanya dan membantu menyalurkan hasil pertanian lewat perusahaannya, CV Adikarya, saat ini usia petani mitranya rata-rata di atas 50 tahun. Hanya ada satu orang yang berusia 30-an tahun.
“Tidak banyak orang sekarang yang mau jadi petani. Di desa, kebanyakan orang lebih senang keluar dari desa dan mencari pekerjaan di kota, jadi buruh pabrik atau kuli bangunan,” ujar wanita yang menjadi Pemenang III Lomba Wanita Wirausaha Femina 2015 ini. Selain karena merasa profesi ini tidak ada yang menghargai dan tidak dapat menghidupi, dari pengamatan Yayuk, rata-rata petani di daerahnya sudah banyak yang tidak punya lahan atau hanya punya lahan 0,25 hektare.
Yang mau bertani pun tak semuanya tertarik untuk bertani padi, karena tidak menguntungkan dibandingkan dengan menanam bawang merah misalnya. Ia memberi ilustrasi, jika padi ditanam di lahan 0,25 hektare dan itu tanah sewa, paling banyak satu musim panen (sekitar 4 bulan) didapat 1,5 ton gabah. Dengan harga Rp3.500 per kilogram gabah kering, artinya satu musim tanam petani mendapat Rp5,25 juta, itu masih dikurangi ongkos produksi sekitar Rp2,5 juta.
Sementara, jika menanam bawang, dalam waktu 3 bulan, jika harga bawang sedang bagus, petani bisa mendapat untung hampir 3 kali lipat. “Petani padi baru bisa ’hidup’, jika memiliki lahan minimal 1 hektare,” tambahnya.
Persoalan lain yang diungkapkan wanita lulusan Magister Management Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini adalah sulitnya menambah luas lahan pertanian. ”Mau menambah luas lahan sulit. Di desa saya saja, harga tanah meningkat tajam sejak desa saya terpotong jalan tol,” jelas wanita yang saat ini memiliki sawah seluas 4 hektare dan bermitra dengan 10 petani ini. Data terakhir yang dipublikasikan oleh Badan Statistik Nasional, secara nasional pada tahun 2013 ada 8.112.103 hektare lahan sawah di Indonesia, menurun 15.161 hektare dibanding tahun sebelumnya.
Sementara jumlah penduduk makin bertambah, luas sawah di sentra-sentra produksi beras, seperti Jawa Tengah dan Timur, menurun. Di Jawa Tengah, dari 962.289 hektare pada tahun 2012, turun menjadi 952.525 hektare pada tahun 2013. Di Jawa Timur, dari 1.105.550 pada tahun 2012, turun menjadi 1.102.863 hektare pada tahun 2013. (f)
Baca juga:
Trik Menguji Keamanan Pangan
Penting! 8 Kiat Menekan Asupan Zat Berbahaya dalam Pangan Sehari-Hari
8 Produk Pangan Organik Terkini dan Terpopuler
Topic
#KetahananPangan