Trending Topic
Indonesia Women’s Forum (IWF) 2018: Bringing the Best of Indonesian Women

22 Oct 2018


Foto: Pexels

Sejak pertama terbit pada 18 September 1972, dengan oplah 20.000 eksemplar dan tebal 44 halaman, femina konsisten melaksanakan visi dan misi untuk perbaikan wanita yang dimulai dari pengembangan diri, rumah tangga dan keluarga, hingga ke tingkat bermasyarakat dan bernegara.
 
Kini, di usia ke-46, femina menggelar Indonesia Women’s Forum (IWF), selebrasi hal-hal terbaik wanita Indonesia, baik yang berkarier di korporasi maupun yang mengembangkan diri sebagai wanita wirausaha, pada 8 dan 9 November mendatang. Selain membahas peran penting wanita sebagai penggerak perekonomian, juga meneropong situasi mendatang akibat dari ‘badai’ disrupsi digital.
 
Menurut CEO Femina Group Svida Alisjahbana, terselenggaranya IWF 2018 ini terkait dengan DNA femina. "femina adalah sahabat wanita yang mendorong kemajuan wanita Indonesia. Kami menyediakan dua forum, karena audiensi femina bisa terbagi dua kelompok besar, yaitu wanita karier dan wanita wirausaha. Ibu rumah tangga tentu ada, tetapi sebagian besar dari mereka juga memiliki bisnis kecil-kecilan," ujarnya.
 
Acara ini, disebut Svida, merupakan kesempatan baik bagi femina untuk bertemu dengan komunitasnya, dan sekaligus untuk membuka horison wanita untuk lebih maju untuk usaha maupun karier mereka. "Menjadi acuan bagi femina untuk bisa terus memberikan inspirasi dan semangat," imbuh Svida.
 
Lalu, mengapa digital? Tidak dipungkiri, disrupsi digital membuat kocar-kacir tatanan yang sudah ada. Hal ini yang kemudian menjadi benang merah pengikat rangkaian acara. “Disrupsi digital itu sudah nyata terjadi di semua lini kehidupan. Butuh skill set baru dan kemahiran baru untuk menjadi relevan dan tidak tertinggal,” ujar Petty S. Fatimah, Pemimpin Redaksi dan Komunitas femina.
 
Menurut Petty, digital juga memberikan kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak terbatas maupun dunia karier dan usaha, namun kita perlu mahir caranya ‘bermain’ dan mengendalikannya.
 
Bagi wanita di dunia usaha, bekerja sama dengan Google Indonesia lewat program Womenwill, dengan mengangkat tema Wanita Pejuang Ekonomi yang menjadi roh untuk konferensi dan masterclass, menjadi ajang pembuka wawasan, mindset, mengintip peluang, serta ‘senjata’ bagi wanita –yang sudah teruji tahan banting menjadi penggerak ekonomi untuk keluarga dan lingkungan sekitar-- bagaimana bisa survive melalui kekacauan akibat revolusi digital. Karena, seperti riset Google, menggunakan digital bisa meningkatkan keberhasilan bisnis 80 persen lebih besar ketimbang yang tidak menggunakannya.
 
Sementara, the Future of Work akan menjadi tema besar pada acara hari kedua, yang menyasar wanita karier, juga semua wanita (termasuk para ibu) yang concern pada perubahan sosial di era ini terutama dalam hal parenting. Acara ini menjadi gambaran dan pemandu, apa yang harus disiapkan saat ini untuk masa depan.
 
Saat ini misalnya, pekerjaan sudah bukan lagi seperti sebelumnya. Selain digital menjadi enabler, di masa depan misalnya, kita sudah tidak lagi melihat kapasitas seseorang berdasarkan gender. Baik pria maupun wanita, hanya dilihat kompetensinya saja.
Advertisement
 
Tetapi, kesejajaran itu tidak akan terjadi bila perusahaan tersebut tidak memiliki kebijakan yang menunjang. Salah satunya seperti yang dilakukan P&G Indonesia, salah satu mitra program ini, yang memiliki kebijakan we see equal, bagaimana pria menjadi sekutu wanita untuk meraih sukses.
 
"Perubahan lain di perusahaan termasuk bagaimana pekerjaan menjadi fleksible, bisa di-remote dari jauh, juga bagaimana perusahaan bertransformasi mendapatkan new revenue stream,” ujar Juni Kuntari, konsultan pengembangan SDM yang ikut serta menyusun program dalam IWF 2018.
 
Ada tiga pilar yang harus berubah: society, perusahaan, dan individu. Society misalnya, saat ini sudah menjadi connected society yang salah satu efeknya adalah hubungan di dalam working society berubah dari kolegial ke komunitas.
 
“Sementara, dalam perusahaan yang berubah adalah organisasinya yang benar-benar menjadi universe dan tidak lagi dibatasi border geografis dan waktu. Selain itu, saat ini bukan lagi dinilai berapa jam kerja karyawan, tapi berapa kontribusinya terhadap perusahaan,” kata Juni.
 
Pada akhirnya, semua perubahan ini tentu membutuhkan new skill yang harus dikuasai para pekerja. Terkait dengan generasi milenial yang kian menjadi mayoritas dalam angkatan kerja, maka perubahan orientasi pun terjadi, yaitu mereka bekerja untuk memenuhi purpose menjadi pribadi yang meaningful. Sebetulnya, kerja, kerja, kerja itu adalah mentalitas generasi ini karena kerja adalah purpose mereka.
 
“IWF 2018 ini akan membuka cakrawala baru itu, bersama-sama memulai mindset baru dan menawarkan keterampilan dan cara baru untuk berhasil di dunia karier dan usaha saat ini dan di masa depan,” pungkas Petty S. Fatimah. (f)

Baca Juga:

46 Tahun Femina: Perjalanan Panjang Mendampingi & Menjadi Sahabat Wanita Indonesia Untuk Melangkah Maju dan Mandiri
Merayakan 46 Tahun Femina Hadir untuk Menguatkan Wanita Indonesia


 


Topic

#IndonesiaWomen’sForum2018, #IWF

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?