Foto: Pixabay
Lebih lanjut juru bicara Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. menjelaskan bahwa kedua pasien tersebut memiliki komorbid. “Satu kasus merupakan transmisi lokal, meninggal di RS Sari Asih Ciputat dan satu lagi merupakan Pelaku Perjalanan Luar Negeri, meninggal di RSPI Sulianti Saroso,” jelas dr. Nadia.
Kementerian Kesehatan RI hingga Sabtu (22/1) mencatat 3.205 penambahan kasus baru COVID-19, 627 kasus sembuh, dan 5 kasus meninggal akibat terpapar COVID-19. Kenaikan kasus baru konfirmasi merupakan implikasi dari peningkatan kasus konfirmasi Omicron di Indonesia. Dimana sejak 15 Desember hingga saat ini secara kumulatif tercatat 1.161 kasus konfirmasi Omicron ditemukan di Indonesia.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam antisipasi penyebaran Omicron di Indonesia, mulai dari menggencarkan 3T terutama di wilayah pulau Jawa dan Bali, peningkatan rasio tracing, menjamin ketersediaan ruang isolasi terpusat, menggencarkan akses telemedisin, serta meningkatkan rasio tempat tidur untuk penanganan COVID-19 di rumah sakit.
Yang terbaru, Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan aturan baru untuk penanganan konfirmasi Omicron di Indonesia, yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.01/MENKES/18/2022 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus Covid-19 Varian Omicron yang ditetapkan pada 17 Januari 2022.
“Melalui Surat Edaran ini, penanganan pasien konfirmasi Omicron sesuai dengan penanganan COVID-19, dimana untuk kasus sedang sampai berat dilakukan perawatan di rumah sakit, sementara tanpa gejala hingga ringan, difokuskan untuk Isolasi mandiri dan Isolasi Terpusat” jelas dr. Nadia.
Ringan Tapi Jangan Disepelekan
Berbagai penelitian menyebutkan gejala COVID-19 varian Omicron terbilang ringan, mirip dengan gejala flu dan pilek. Meski begitu, para ahli memperingatkan untuk tidak meremehkan resiko yang ditimbulkan oleh jenis virus corona yang sangat menular ini.
Sebuah penelitian terbaru di Inggris oleh ZOE COVID Study menunjukkan bahwa infeksi Omicron mudah disalahartikan sebagai penyakit biasa seperti pilek. ZOE COVID Study menganalisis ribuan gejala COVID-19 yang diunggah ke aplikasi oleh publik negara tersebut.
Berdasarkan data yang dikumpulkan periode Oktober - Desember 2021, Profesor Tim Spector, ilmuwan utama di aplikasi ZOE COVID Study, dikutip dari CNBC International, Kamis (16/12/2021) menemukan gejala Omicron didominasi gejala pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan dan bersin-bersin. jadi orang harus tinggal di rumah karena kemungkinan besar Covid," kata Profesor Tim Spector, ilmuwan utama di aplikasi ZOE COVID Study, dalam laporan terbaru, dikutip dari CNBC International, Kamis (16/12/2021).
Profesor Spector pun menyarankan orang-orang dengan gejala seperti pilek yang tampaknya menjadi ciri utama omicron, agar diam di rumah dan tidak beraktivitas keluar rumah.
Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Hong Kong berdasarkan hasil eksperimen di laboratorium terkait varian Omicron menyebutkan bahwa Omicron berkembang 70 kali lipat lebih cepat daripada varian Delta di jaringan bronkus. Bronkus merupakan cabang batang tenggorokan yang terletak setelah tenggorokan dan sebelum paru-paru.
Temuan tersebut bisa menjadi salah satu penjelasan mengapa varian Omicron lebih menular dibandingkan varian sebelumnya. Melansir The Guardian, Rabu (15/12/2021), kendati demikian, varian Omicron berkembang sekitar 10 kali lebih lambat di jaringan paru-paru.
Pemimpin penelitian tersebut, Michael Chan Chi-wai, mengatakan, hasil tersebut perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Pasalnya, keparahan gejala dari varian Omicron ditentukan tidak hanya oleh seberapa cepat virus bereplikasi, tetapi juga oleh respons imun seseorang. Sistem imunitas menjadi pendorong dan menyebabkan apa yang disebut sebagai badai sitokin.
“Perlu dicatat bahwa dengan menginfeksi lebih banyak orang, virus yang sangat menular juga dapat menyebabkan gejala yang lebih parah atau bahkan kematian meskipun virus itu sendiri mungkin kurang berbahaya,” kata Chan.
Chan menambahkan ancaman dari varian Omicron kemungkinan akan sangat signifikan. Penelitian mereka menemukan bahwa varian Omicron bisa lolos dari antibodi vaksin dan tetap bisa menginfeksi seseorang yang sudah terpapar COVID-19 sebelumnya.
Berbagai penelitian terus dikembangkan terkait varian Omicron. WHO memperingatkan dunia untuk tidak lengah pada vrain baru ini dan menyimpulkan terlalu dini varian Omicron ini hanya menyebabkan infeksi ringan. WHO pun meminta semua orang tetap berhati-hati. (f)
Baca Juga:
Antisipasi Potensi Puncak Kasus Omicron pada Februari
BPOM Resmikan Regimen Tambahan Booster Vaksin COVID-19
Omicron Transmisi Lokal, Pemerintah Bersiap dengan Berbagai Skenario
Faunda Liswijayanti
Topic
#covid19, #omicron, #corona, #pandemi, #vaksinasi, #vaksin