Foto: Pexels
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Menurut Prof Zubairi hal tersebut terjadi karena saat bicara, kita menghasilkan tetesan kecil yang menggantung di udara karena ventilasi buruk. Sementara batuk menghasilkan tetesan yang lebih besar dan cepat jatuh ke lantai. Dalam cuitan tersebut ia juga mencantumkan link berita dari theguardian.com berisi tentang penelitian serupa.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menyebutkan COVID-19 dapat menyebar melalui sejumlah cara, termasuk tetesan yang mengandung virus yang dikeluarkan saat orang yang terinfeksi bernapas, berbicara, atau batuk. Hal Ini yang menurut para ahli menjadi faktor utama mengapa virus COVID-19 tampaknya dapat menyebar lebih mudah di dalam ruangan tertutup.
Sementara tetesan besar akan jatuh ke tanah dalam jarak pendek, tetesan kecil yang dikenal sebagai aerosol dapat membawa virus dalam jarak lebih dari dua meter, dan bertahan.
“Itu sebabnya Anda membutuhkan masker, Anda perlu menjaga jarak dan Anda membutuhkan ventilasi yang baik sehingga partikel-partikel ini tidak menumpuk di ruang dalam ruangan dan dapat menghilang,” kata Prof Pedro Magalhães de Oliveira, seorang ahli mekanika fluida di Universitas Cambridge, seperti ditulis theguardian.com.
Dalam jurnal berjudul Proceedings of the Royal Society A, de Oliveira dan rekannya melaporkan bagaimana mereka membuat model yang memperhitungkan ukuran tetesan yang dilontarkan dari individu yang terinfeksi COVID-19 ketika mereka berbicara atau batuk, serta faktor-faktor lainnya termasuk susunan tetesan dan waktu yang mereka butuhkan untuk menetap. Tim tersebut juga melihat risiko infeksi, dengan mempertimbangkan viral load orang dengan COVID-19, dan perkiraan dosis yang diperlukan untuk menyebabkan infeksi.
Dari penelitian tersebut, tim menyimpulkan tidak aman untuk seseorang tanpa mengenakan masker berdiri dengan jarak kurang dari dua meter dari orang yang terinfeksi COVID-19 yang sedang berbicara ataupun batuk. Kedua kondisi tersebut menimbulkan risiko penyebaran COVID-19.
Tim menambahkan bahwa satu jam setelah orang yang terinfeksi berbicara selama 30 detik, total aerosol yang tersisa mengandung lebih banyak massa virus daripada setelah satu kali batuk. Dalam ruang kecil dan tanpa ventilasi hal ini cukup untuk menyebabkan COVID-19.
“Berbicara adalah masalah yang sangat penting yang harus dipertimbangkan karena menghasilkan partikel yang jauh lebih halus (daripada batuk) dan partikel ini, atau aerosol, dapat ditangguhkan selama lebih dari satu jam dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan penyakit,” kata de Oliveira .
Tetapi apakah kemudian orang akan langsung tertular COVID-19? Menurut de Oliveira, tergantung pada seberapa banyak aerosol yang mereka hirup - yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti penggunaan masker, kondisi ruangan, tingkat ventilasi, dan jarak di antara orang-orang tersebut.
Sebuah kalkulator online, Airborne.cam, yang digunakan untuk mengeksplorasi risiko terinfeksi di dalam ruangan melalui partikel di udara menemukan fakta: menghabiskan satu jam di toko seluas 250 meter persegi (diasumsikan memiliki kapasitas maksimum 50 orang dan ventilasi yang setara dengan kantor) dengan asumsi ada lima orang yang terinfeksi di toko dan tidak ada yang memakai masker, maka seseorang diperkirakan memiliki risiko sekitar 8% terinfeksi virus COVID-19. Penurunan risiko terjadi ketika seseorang memakai masker wajah tiga lapis.
Penelitian ini sekali lagi menunjukkan pentingnya kita menerapkan 3M dalam kehidupan kita di masa pandemi COVID-19 ini yaitu memakai masker dengan benar, mencuci tangan, dan menjaga jarak hindari kerumunan. Bahkan ketika mengobrol sekalipun, sebaiknya masker tidak dilepas dan kita tetap menjaga jarak. (f)
Baca Juga:
Indonesia Akan Dapat Vaksin AstraZeneca, Bisa Disuntikan Pada Lansia
9 Hal yang Kerap Terlewat Saat Memakai Masker
Waspada, Makan Bersama Berisiko Tinggi Penularan COVID-19
Faunda Liswijayanti
Topic
#ingatpesanibu, #3m, #corona, #covid19