Foto: 123RF
Tren tersebut bukanlah yang pertama kalinya, karena sejak Juni 2015 lalu negeri tirai bambu itu juga diramaikan oleh fenomena pembuktian seberapa kurus seorang wanita dengan meletakkan koin di tulang selangka. Bagi mereka, semakin kurus seseorang, maka tulang selangka mereka akan semakin melengkung ke dalam. Lainnya, mengukur kaki yang kurus dengan membandingkan lebar dua lutut yang disatukan dengan ponsel iPhone 6 dan melingkari pergelangan tangan dengan uang kertas 100 Yuan. Bagi mereka yang dapat membuktikan hal itu maka dianggap telah memenuhi tantangan dan standar kecantikan yang mereka percayai.
Ini mengingatkan kita pada tren thigh gap yang terjadi sebelumnya di negara-negara Barat. Fenomena menggunggah foto yang menunjukkan adanya celah di antara kedua paha ini dipopulerkan oleh supermodel Cara Delevingne dan hingga akhirnya diikuti oleh jutaan wanita di seluruh dunia. Belum cantik kalau seorang wanita tak memiliki thigh gap.
Tren kecantikan ini menuai banyak kecaman karena dinilai akan mendorong banyak wanita untuk menerapkan standar kecantikan yang tidak realistis dan berbahaya. Seperti penuturan psikolog klinis dari Lighthouse, Tara De Thouars, bahwa selain memengaruhi seseorang untuk menolak makanan, tren ini juga berdampak pada bagaimana mereka memandang tubuhnya. “Sangat besar kemungkinan mereka akan menjadi anoreksia dan mengalami body image disorted karena merasa bagian tubuh tertentunya buruk sekali, padahal sebenarnya biasa saja,” paparnya.
Bahkan untuk menentang tren kecantikan ganjil yang dilakukan oleh banyak wanita di berbagai penjuru dunia, sejumlah selebritas mengunggah foto tubuh mereka yang berisi. Seperti Beyonce, Kendall Jenner, hingga Khloe Kardashian yang memamerkan lipatan lemak pada pangkal pinggangnya yang popular dengan sebutan ‘thighbrow’. (f)