Menurut Sukendro Sukendar Priyoso, ketua tim PT. Nataneka Asimetris mengatakan bahwa bandara merupakan pintu gerbang sebuah negara. Karena itu desain yang dibuatnya bersama tim tidak lepas dari tampilan modern dengan tetap menonjolkan keunikan budaya setempat.
“Seperti menyuntikkan unsur batu, kain, ikan, tanaman herbal, hingga wangian kenari yang menjadi ciri khas dan daya tarik Alor kepada pengunjungnya,” ucap Sukendro, di acara Malam Arsitek Nusantara 2016, Juli lalu.
Menurut Kris Adidarma, CEO PT Propan Raya, Indonesia sangat kaya akan arsitektur tradisional yang beraneka ragam, unik, mencerminkan kearifan budaya lokal, ramah lingkungan, dan beradaptasi dengan alam. “Dengan mengolaborasikan warisan budaya dan teknologi yang sudah ada ke dalam inovasi dan ide kreatif, maka karya arsitektur kita akan dipandang sampai ke tingkat dunia,”kata Kris.
Saat ini Pemerintah Indonesia, khususnya Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, serta para pemimpin kota dan kabupaten di Indonesia memang sedang intensif mengembangkan daerahnya sebagai kota/kabupaten yang kreatif. Pengembangan ini nantinya akan berimbas pada meningkatkan pertumbuhan industri kreatif yang berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Sifar bandara adalah futuristik, menggambarkan masa depan. Dengan memenangi sayembara ini kami berharap bisa memberi peluang besar kepada negara untuk lebih maju meski berangkat dari warisan leluhur,” ucap Sukendro. (f)