Trending Topic
Calon First Lady DKI Jakarta: Veronica Tan Memilih Bekerja di Balik Layar untuk Mendampingi Basuki Tjahaja Purnama

24 Mar 2017


Foto: Zaki Muhammad; Pengarah gaya : Gabriella Pangemanan

Wajah pendamping Basuki Tjahaja Purnama ini tak terlalu banyak terekspos oleh media massa. Mengaku bukan penggemar acara seremonial, wanita kelahiran Medan, 4 Desember 1975, ini lebih memilih untuk menyibukkan diri di belakang layar. Dipercaya untuk memegang beberapa jabatan ex officio, yakni Ketua Tim PKK Provinsi DKI Jakarta, Ketua Dekranasda, dan Ketua Yayasan Kanker Indonesia DKI Jakarta, Veronica Tan harus ‘berlari’ untuk belajar, menggali permasalahan wanita dan anak, dan berupaya memberi solusi yang menjawab kebutuhan mereka dalam koridor yang berkelanjutan. Seperti apa sepak terjangnya di balik layar? 
 
Menurut Anda, apa sebenarnya yang menjadi persoalan warga?
Keterbatasan ruang hidup di Jakarta menempatkan keluarga dalam posisi sulit. Anak-anak tidak punya ruang bermain, suami-istri tidak punya ruang privasi, dan orang muda tidak memiliki ruang berkreasi. Ini belum termasuk masalah kesehatan dan kemiskinan. Daripada menghabiskan dana atau anggaran untuk menggelar dan mengikuti lomba ini dan itu, sejak tiga tahun lalu PKK fokus pada program-program dengan kegiatan yang membawa hasil berkelanjutan dan terukur. Apalagi, karena  tiap program memakai uang pemerintah yang harus dipertanggungjawabkan penggunaan dan efektivitasnya. Kalau kita memandang uang kepercayaan ini seperti saat kita mengelola keuangan keluarga sendiri, maka kita akan mengelolanya dengan sangat hati-hati.
 
Bagaimana mengatasi persoalan-persoalan itu?
Waktu itu kami menggandeng Imam Prasodjo dan Universitas Indonesia untuk menggali kebutuhan warga lewat diskusi grup di kelurahan-kelurahan. Kami bertemu dengan ibu-ibu, warga lansia, dan orang-orang muda untuk mendapatkan aspirasi mereka. Sehingga, kami mendapatkan konsep Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) yang namanya juga kami ambil berdasarkan hasil diskusi bersama.

Berperan sebagai community center, bangunannya dilengkapi dengan sambungan wi-fi, ruang ASI, toilet anak-anak, dan ruang bermain anak seluas 72 m2, lapangan futsal, dan ruang serbaguna. Di tempat yang sama, kami juga bisa menggelar berbagai kegiatan, mulai dari penyuluhan, pelatihan untuk pemberdayaan warga, dan banyak lagi. Pertemuan positif ini memungkinkan terjadinya komunikasi, kebersamaan, sekaligus membangun toleransi. Setelah 6 pilot project dan 60 RPTRA, kami sedang mengajukan bujet pemerintah untuk 120 RPTRA lainnya. Kami berharap,  tiap kelurahan di Jakarta akan memiliki RPTRA.
 
Bagaimana memberdayakan masyarakat?
Pembangunan jiwa dan karakter ini tidak bisa masuk saat perut dalam keadaan kosong. Melalui pendekatan ekonomi kreatif, kami memadukan program PKK dan Dekranasda untuk memberdayakan masyarakat melalui unit Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) yang beranggotakan 300-an wanita. Terutama mereka yang baru saja dipindahkan dari bantaran ke rumah susun. Memanfaatkan lantai bawah rumah susun, kami mendatangkan tim Martha Tilaar untuk memberikan pelatihan keterampilan tata rias dan kecantikan, ada yang memberikan pelatihan membuat sabun, dan Iwet Ramadhan untuk pembuatan batik.

Pemasukan mandiri dari ibu-ibu ini meningkat lumayan. Melalui pelatihan ini kami mengikat komitmen dan keseriusan warga untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Kalau serius, kami akan membayar pelatihannya. Tetapi, kalau tidak dan malas-malasan, mereka harus bayar sendiri atau kami berikan kesempatan ini kepada orang lain yang lebih serius. Peraturan ini kami tuntut dari mereka. Kami tidak mau membiasakan budaya ‘takut pada bos’. Ketika karakter ini terbangun, kami bisa melepas mereka dengan lega karena kita percaya, di mana pun dia berada, dia bisa bertanggung jawab dan memberikan yang terbaik.
 
Apa rencana ke depan?
Februari nanti Bapak rencananya akan meresmikan co-working space seluas 1.500 m2 di Waduk Melati. Dengan menjadi anggota, siapa pun bisa memanfaatkan ruang kreatif ini. Ini merupakan bentuk dukungan pemerintah bagi orang-orang muda yang kreatif. Ruangan kami lengkapi dengan wi-fi dan perangkat kerja seperti mesin standardisasi pengukuran pakaian (S, M, L, XL). Kami juga memberikan semacam inkubasi bagi orang-orang muda untuk memulai perencanaan bisnis, konsultasi hukum, dan HAKI. Mereka bahkan bisa memakai alamat co-working space ini sebagai alamat usaha mereka.

Kami juga mulai menggarap pop-up store suvenir Jakarta, menggandeng para pemenang Jakarta Souvenir Design Awards (JSDA) dan seniman lokal lainnya. Kami telah berjejaring dengan para investor yang nantinya akan menilai karya mereka melalui proses pitching, sehingga desain mereka bisa diproduksi secara massal. Kami juga telah berjejaring dengan mal-mal di Jakarta yang akan menyediakan ruang. Kita punya banyak kekayaan lokal yang bisa digali menjadi ide desain. Mulai dari bunga nona makan siri, elang bondol, ondel-ondel Betawi, sampai  Patung Pancoran. Ini soal branding Kota Jakarta. Siapa berani duluan menceritakan, siapa duluan berani klaim. Jangan menunggu kekayaan kita diklaim negara lain, baru marah-marah. 

Sulitkah beradaptasi mendampingi pejabat publik?
Jadwal hidup sudah pasti berubah. Belakangan ini pejabat publik, gubernur, sama seperti artis, kehidupannya menjadi sorotan media massa. Saya  ingin tetap punya waktu privasi dan berusaha menjadi orang biasa. Cukuplah Bapak (Ahok) saja yang ada di media. Tetapi, jika kondisi mengharuskan saya ada di posisi itu, maka saya berkomitmen untuk melakukannya.
Lagi pula, kami masuk politik bukan karena ingin jabatan. Menjadi pejabat juga   paling hanya 5 atau 10 tahun, jika terpilih lagi. Tapi, saat ada di posisi yang dipercayakan, maka keleluasaan yang lebih ini menjadi kesempatan emas bagi kami untuk berkontribusi kepada masyarakat dan membawa perubahan positif.
 
Bagaimana Anda memosisikan diri sebagai istri gubernur?
Dalam ruang profesional, bentuk dukungan saya sebagai ex officio menjadi panggilan yang harus saya lakukan dengan penuh komitmen. Tidak ada yang instan, semuanya adalah proses learning by doing. Saya lebih memilih untuk bekerja di balik layar. Tidak perlu terlalu banyak berkata-kata, yang penting kita kerjakan dan biarkan hasilnya yang akan membuktikan.

Advertisement
Posisi pemberdayaan manusia dan pembangunan fisik harus berjalan beriringan. Sebagai Ketua Penggerak Tim PKK DKI Jakarta, saya dihadapkan pada 10 program. Mulai dari berbicara tentang ketaatan kepada Tuhan YME, pembekalan pendidikan dan kreativitas agar ibu mandiri, hingga menjaga lingkungan hidup tetap sehat. Ini semua kebutuhan holistik rumah tangga.

Jika Bapak fokus pada pembangunan struktural Kota DKI, maka, melalui PKK, saya mendukung dari pembangunan jiwanya, pembangunan karakter. Sekali lagi, ini adalah pekerjaan rekanan. Kalau saya saja, tanpa dibantu kader, lurah, wali kota, maka saya juga tidak bisa jalan. Warisan kami adalah membangun sistem yang berkelanjutan, yang bisa diteruskan oleh orang-orang setelah kami.
 
Sulitkah menjaga batasan ruang profesional dan personal?
(Tertawa terbahak-bahak). Posisi seperti ini yang bisa membuat suami-istri berantem. Makanya, banyak kantor yang melarang suami-istri bekerja di divisi, bahkan di kantor yang sama. Namun, secara personal kami sangat cocok dan sering mendiskusikan hal-hal baik yang bisa diusahakan melalui jalur kami masing-masing. Secara profesional, maka sesuai bidang yang saya tangani, saya berurusan langsung dengan kepala dinas. Saya tetap bekerja sesuai jalur birokrasi yang ada, tidak potong kompas lewat suami.
 
Masa-masa terberat mendampingi suami selama pilkada?
Sebelumnya, di Belitung, saya pernah mengalaminya. Waktu itu saya dalam kondisi hamil. Sampai-sampai, seorang kenalan tahu bahwa  tiap hari pekerjaan saya hanya menangis. Hingga saat ini, wejangannya masih melekat di kepala: semua orang di saat susah, tetap punya dua pilihan, memilih bahagia atau merengut? Ketika memang sudah tidak bisa berkelit dari situasi rumit ini dan menggerutu hanya menambah masalah, kenapa tidak memilih untuk bahagia? Jalani saja, dan tidak perlu memanipulasi diri. Kalau memang waktunya bukan buat kita, ya, terima saja. Dulu, waktu Bapak mengajukan diri menjadi Gubernur Bangka-Belitung, juga pernah kalah sekali.
 
Mengapa warga DKI harus memilih Basuki Tjahaja Purnama sebagai gubernur?
Sejak masih di Belitung dulu, Bapak selalu mengatakan hal yang sama saat kampanye: Kalau ada yang lebih baik dari saya, jangan pilih saya. Kembali ke sekarang, kami tidak menjual diri atau ‘siapa saya’, tapi menjual apa yang kami lakukan, yaitu hasil kerja. Hasilnya sudah ada dan perlu waktu lagi untuk melanjutkan. Sebab, membetulkan infrastruktur itu sebenarnya gampang, tetapi membangun manusia itu perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Minimal, 5 tahun ke depan, benih yang kami tanam mulai tumbuh, disiram, dan dipupuk agar siap untuk mandiri. Jadi, kenapa harus dipilih lagi, karena pekerjaan kami belum selesai.

Komitmen Pasangan Cagub No 2 Basuki Tjahaja Purnama & Djarot Saiful Hidayat untuk Perempuan dan Anak-Anak:
-Pemenuhan atas hak kesehatan reproduksi, seksualitas, dan mental. Antara lain dengan melakukan pap smear gratis dan vaksin HPV sedini mungkin. Menggiatkan layanan ketok pintu, karena perempuan saat sakit banyak berdiam di rumah. Ini penting untuk deteksi dini.
-Pemenuhan hak pendidikan, khususnya anak perempuan, salah satunya dengan melarang perkawinan anak  di bawah  usia 18 tahun.
-Penguatan ekonomi dan perwujudan kesempatan kerja layak bagi wanita, antara lain dengan kemudahan peminjaman modal usaha bagi wanita  pengusaha, serta perlindungan terhadap pekerja sektor informal.
-Pemenuhan HAM Perempuan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, antara lain dengan mengoptimalkan Perda DKI No.8 Tahun 2011 Tentang Perlindungan Perempuan dan Anak dan menjalan sistem keamanan publik.
-Pemenuhan hak anak, disabilitas dan lansia dengan melanjutkan dan memperbanyak ketersediaan bus sekolah, serta layanan fasilitas transportasi gratis pada kelompok disabilitas dan lansia. (f)

Baca juga:
Twitter Ungkap 3 Fakta Menarik tentang Debat 1 Pilkada DKI Jakarta
Calon First Lady DKI Jakarta: Annisa Pohan Percaya Terhadap Kemampuan Agus Harimurti Yudhoyono

Calon First Lady DKI Jakarta: Fery Farhati Mempersiapkan Generasi Penerus Bersama Anies Baswedan
 


Nuri Fajriati, Naomi Jayalaksana
 


Topic

#pilkada

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?