Kedua, suka merusak, terutama barang milik orang lain, secara agresif. Ia juga bisa masuk ke rumah orang lain dengan kekerasan, mudah mengonfrontasi. Tidak hanya dalam bentuk verbal, tapi juga dengan senjata, seperti pecahan beling, badik, atau pisau. “Biasanya, senjata ini ditemukan pada anak-anak yang tawuran,” tambah dr. Gita.
Yang ketiga adalah melanggar aturan yang sangat berat, seperti bolos sekolah atau kabur dari rumah tanpa memikirkan keluarga yang mungkin akan khawatir. Dan yang keempat adalah melakukan kejahatan, seperti menipu, mencuri, hingga merampok. “Pada anak perempuan, tanda ini tampak lebih soft, misalnya mengutil atau justru prostitusi, mau melakukan hubungan seksual dengan siapa saja (promiskuitas),” ungkap dr. Gita.
Karena itu, anak-anak yang mengalami conduct disorder ini ketika dewasa sulit bisa bekerja dan hidup normal. Ia cenderung akan hidup atau bekerja dalam dunia kriminal, misalnya kurir narkoba, berjualan narkoba, menjadi preman, atau mucikari. “Ini karena mereka tidak bisa bekerja, tidak bisa mengendalikan emosi, dan tidak tahan tekanan, akhirnya mereka mencari jalan tercepat, seperti menipu dan berbuat kajahatan,” jelas dr. Gita, prihatin.
Yang perlu Anda ingat, conduct disorder ini berbeda dengan attention deficit hyperactive disorder (ADHD), yaitu gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, dan inatensi atau tidak bisa berkonsentrasi. ADHD memang paling banyak ditemukan pada anak-anak.
“Walau berbeda, jika didiamkan dan tidak segera diobati secara medis dan psikoterapi, penderita ADHD bisa menjadi conduct disorder,” kata dr. Gita. Karenanya dibutuhkan komitmen orang tua dalam mengobati anaknya.
Sebagai orang tua, janganlah cepat menyerah. Yang terpenting orang tua mau bekerja sama menyembuhkan anaknya serta mengubah pola asuh yang mungkin memang salah. “Apalagi jika menyadarinya ketika anak sudah remaja, mau tidak mau dibutuhkan medikasi,” tegas dr. Gita.
Menjadi orang tua juga jangan terlalu permisif. Jika memang harus dilarang melakukan sesuatu, laranglah. Menurut dr. Gita, masih banyak orang tua yang belum siap memiliki anak serta tidak mengerti bagaimana berhadapan dengan anak. Kadang-kadang yang mereka lakukan adalah hanya menyerahkan pendidikan anak ke sekolah atau pengasuhan anak ke asisten rumah tangga, yang akhirnya hanya menyerahkannya ke teve.
Namun, menurut psikolog Rosdiana Setyaningrum, MPSI, MJEPED, tidak sebagian besar dari anak-anak itu mengalami gangguan tingkah laku. “Jika bukan, berarti mereka masih bisa direedukasi. Caranya adalah dengan mengurangi segala bentuk kekerasan, dan membuat anak lebih mandiri, serta bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.” Dengan begitu, ketika ia bertengkar dengan temannya, ia akan berusaha mencari solusi. Dan itu akan menjadi pengalaman dan referensi mereka dalam menjalani hidup. (f)
Baca Juga:
Alasan Anak Melakukan Kekerasan
Topic
#Kekerasan