Foto: AL
Ketua BDC, Gede Ade Putra Wirawan, menyampaikan melalui bahasa isyarat bahwa untuk benar-benar memahami perbedaan antara kaum tuli dan kaum dengar, kita harus terlebih dahulu mengenal budaya satu dan lainnya.
"Kalau kaum dengar berkomunikasi bisa dengan cara duduk berdampingan, kaum tuli harus berhadapan agar bisa membaca gerak bibir hingga ekspresi lawan bicara. Budaya kaum dengar bisa bebas berkomunikasi lewat ponsel, di sisi lain kaum tuli hanya bisa membaca teks saat menggunakan ponsel," jelas Ade.
Selanjutnya media diajak untuk mengenal abjad bisindo (bahasa isyarat Indonesia) untuk berkenalan dan berkomunikasi dengan teman-teman BDC sebagai rangkaian dari program cross culture atau pertukaran budaya. Komunitas yang terbentuk tanggal 29 September 2013 itu memang secara rutin mengadakan kelas bahasa isyarat setiap hari Minggu, baik di rumah Sanur BDC maupun terjun di acara Car Free Day di Denpasar. Harapannya dengan saling memahami budaya masing-masing maka tercapai kesetaraan di antara kaum dengar dan kaum tuli.
"Pendidikan sangat penting untuk mencapai kesetaraan, kita semua sama. Kalau sudah jadi orang yang berhasil, jangan lupa terhadap adik-adik kita yang juga membutuhkan dukungan," pesan Angkie melalui bahasa isyarat.
Selanjutnya media dilibatkan dalam permainan tebak kata menggunakan bahasa isyarat dan menyaksikan pembacaan puisi melalui gerak juga ekspresi yang diterjemahkan oleh teman BDC juga. Hari Minggu yang sangat seru dan berkesan! (f)
Baca juga:
Berkenalan dengan 7 Putri Sulamit yang Siap Berkarya untuk Sesama
Topic
#PutriSulamit