Foto: Shutterstock
Seiring berjalannya waktu dan semakin seringnya berhadapan dengan COVID-19, tenaga medis semakin menguasai atau tidak gagap dalam menangani kasus COVID-19 dibandingkan pada masa awal pandemi. Itu yang dikatakan oleh Prof. dr. Meiwita Paulina Budiharsana, MPA, Ph.D, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) yang juga Anggota Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19, saat melakukan Instagram Live bersama femina beberapa waktu lalu.
Saat ditanya mengenai perkembangan COVID-19, Meiwita menjelaskan bahwa dari persentasi kasus aktif nasional, sebenarnya dalam kondisi normal kenaikan kasus tidak drastis. Angka kematian cenderung menurun dan kesembuhan meningkat.
Namun, ada saat-saat tertentu angka kasus positif naik signifikan, yakni saat adanya mobilisasi atau pergerakan penduduk secara masal. Salah satu pemicunya adalah adanya hari libur panjang. Mobilitas ini kemudian berhulu pada terbentuknya kerumunan. “Selain itu yang perlu diwaspadai adalah hajatan nasional yang akan berlangsung, yakni pilkada,” Meiwita mengingatkan.
Selain menjelaskan tentang adanya kolerasi antara mobilisasi dan peningkatan kasus, ia juga menjelaskan bahwa masyarakat sudah mulai merasa jenuh. Data yang dikumpulkan oleh FKM UI baru-baru ini juga menunjukkan tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan #3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan) mulai kendor.
Pada bulan Mei hingga September 2020, kepatuhan masyarakat menggunakan masker mencapai angka 75%. Namun, di bulan November 2020, angka ini turun menjadi 60%. Begitu juga dengan aturan jaga jarak. Di masa awal pandemi, 65% responden di Jakarta disiplin dalam menjaga jarak saat mereka harus berkativitas di luar rumah, “Sedangkan saat ini angka tersebut turun menjadi 50% lebih sedikit,” ungkap Meiwita.
Berdasarkan data satgas, ada penambahan 6.267 dalam 24 jam pada Minggu 28/11. Angka ini disebut sebagai penambahan harian kasus terkonfirmasi tertinggi sejak kasus pertama COVID-19 diumumkan pada awal Maret lalu. Meiwita menjelaskan bahwa banyak faktor yang bisa menyebabkan lonjakan ini. Tapi, mobilisasi dan kendornya kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan 3M sangat menjadi perhatian.
Lalu, apa yang menyebabkan masyarakat mulai lalai dalam melaksanakan protokol kesehatan saat pandemi masih berlangsung?
“Masyarakat mulai jenuh,” jelas Meiwita. Ia juga menjelaskan bahwa ini bukanlah sesuatu yang baru dalam ilmu kesehatan masyarakat. Ini adalah sifat alami manusia. Contohnya, orang berpenyakit kronis menjalani pengobatan. Seiring berjalannya waktu, kepatuhan minum obat menurun. Umumnya kepatuhan ini akan menurun saat memasuki bulan ketiga atau keempat. Ini juga berlaku pada kasus pelaksanaan protokol kesehatan 3M di masa pandemi.
“Perilaku ini tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun kepatuhan dalam melakukan 3M juga mengalami penurunan,” tambah Meiwita. Untuk mengembalikan kepatuhan, ia berharap ada ketegasan dari pemerintah, seperti pemberian sangsi yang tegas.
Selain itu, promosi mengenai pentingnya penggunaan masker, cuci tangan, dan jaga jarak juga perlu dilakukan kembali. Sebab, saat ini, hanya langkah-langkah inilah yang dapat mencegah kita dari penularan virus Covid-19. (f)
Peran Domestik yang Tidak Setara di Rumah Jadi Beban Bagi UKM Wanita Kembangkan Usahanya
Kasus Positif Harian Masih Tinggi, Pentingnya 3M & 3T untuk Putus Penularan COVID-19
9 Tanya Jawab Seputar Vaksin COVID-19, untuk Anda Ketahui
Topic
#IngatPesanIbi, #3M, #Satgascovid-19