Trending Topic
Klarifikasi Soal Kasus Antraks Kulon Progo: RSUP dr.Sardjito Aman, Hanya Ada Satu Pasien Diduga Antraks Bukan Lima Belas

24 Jan 2017


Foto: Fotosearch
 
Sejak Senin beredar kabar di media sosial bahwa ada lima belas pasien kasus antraks yang dirawat di RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta. Hal itu tentu saja meresahkan masyarakat. Kepala Biro Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, Oscar Primadi, menyatakan dalam keterangan resmi, bahwa kabar itu tidak benar. RSUP dr. Sarjdito hanya merawat 1 pasein yang diduga antrax. Masyarakat tidak perlu khawatir dan takut karena rumah sakit aman untuk berkunjung maupun berobat.

Hingga saat ini, tim RSUP dr. Sarjdito masih melakukan melakukan pemeriksaan untuk memastikan adanya bakteri antraks pada pasien yang meninggal pada 6 Januari lalu dan perlu konfirmasi laboratorium Litbangkes. Dinas Kesehatan Kulon Progo juga terus berusaha menangani kasus itu dan melakukan pencegahan dan  penyuluhan kepada masyarakat tentang kasus antraks.

“Selain menangani dan melakukan pengobatan, Dinas Kesehatan setempat juga melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan kepastian diagnosis, melacak faktor risiko penularan, menangani limbah medis, serta memperbarui pengetahuan staf di Puskesmas Girimulyo 2, hingga memberikan suplemen untuk petugas di lapangan,” Oscar menambahkan.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kulon Progo telah melakukan investigasi antraks bersama dengan Dinas Peternakan, Field Epidemiology Training Program (FETP) Fakultas Kedokteran UGM, INA RESPOND Litbangkes, Balai Besar Veteriner Wates, dan RSUP dr. Sarjdito. Hasil ini selanjutnya akan diverifikasi oleh Kementerian Kesehatan. Tim investigasi memastikan tidak ada kasus tambahan pada manusia.

Wabah antraks atau anthrax yang lebih dikenal sebagai wabah sapi gila kembali menjadi perbincangan karena umumnya muncul secara sporadis di beberapa daerah dengan curah hujan tinggi dan banjir. Pada Mei 2016 lalu, kasus wabah antraks pada hewan ternak ditemukan di 11 provinsi di Indonesia. Salah satunya, di Gorontalo, ada 30 ekor sapi mati akibat antraks, tetapi tidak ditemukan bangkainya. Pihak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mengkhawatirkan sapi itu sudah dipotong dan mungkin saja dijual ke pasar.

Manusia bisa terinfeksi antraks jika makan daging hewan yang terinfeksi antraks. Infeksi juga bisa terjadi pada orang yang mengelola atau menangani daging, dan terkena kontak dengan limbah cucian daging.  Penularan antraks ke manusia bisa lewat kulit, saluran pernafasan, pencernaan dan menyerang ke selaput otak. Gejala yang terjadi tergantung pada jenis penyakit antraks yang diderita pasien. Mulai dari benjolan kecil gatal yang lalu membesar, flu, sakit tenggorokan, demam, sakit otot, sesak napas, hingga sakit perut dan muntah darah, dan bisa mengakibatkan kematian.
Advertisement

Masyarakat terutama yang berdomisili di wilayah Kulon Progo tidak perlu takut mengkonsumsi daging asalkan dagingnya sehat. Kementerian Kesehatan berbagi 3 langkah untuk menghindari penularan bakteri dan virus lewat daging yang Anda konsumsi.
1/ Pastikan daging yang Anda beli bersertifikat.

2/ Masak daging dengan sempurna dengan suhu di atas 100 derajat celcius selama 5 – 10 menit.

3/ Pastikan Anda dan keluarga selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam keseharian. Di antaranya, menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, disiplin mencuci tangan sebelum makan, mengelola sampah dengan benar, tidak meludah sembarangan, dan selalu menggunakan jamban. (f)
 
Baca juga:
Hindari Sajian Tercemar dengan Memilih Restoran yang Higienis
5 Mitos dan Fakta Tentang Daging Kambing
 
 


Topic

#Antraks

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?