Menurut Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG, ketua PB IDI, secara umum penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang digabungkan dengan kecanggihan medis untuk memberikan layanan kesehatan, mulai dari konsultasi, diagnosis, hingga tindakan medis, tanpa terbatas ruang atau dilaksanakan dari jarak jauh, masuk dalam kategori telemedicine.
"Untuk dapat berjalan dengan baik, sistem ini membutuhkan teknologi komunikasi yang memungkinkan transfer data berupa video, suara, dan gambar secara interaktif dan real time dengan mengintegrasikannya ke dalam teknologi pendukung video-conference," jelas Dr. Ilham.
Di negara-negara maju dan berkembang, praktik telemedicine ini sudah banyak digunakan. Di India, misalnya. Tingkat pertumbuhan penduduk di negara ini sangat tinggi, bahkan dikatakan mencapai 5 kali lipat dari Indonesia, namun tidak diimbangi dengan perkembangan rumah sakit modern serta tenaga medis ahli yang mencukupi. Sehingga, banyak pasien di daerah terpencil yang tidak terjangkau dengan layanan medis yang memadai.
Pemerintah India kemudian memberikan solusi dengan layanan telemedicine. Dokter-dokter ahli di rumah sakit modern di India terhubung dengan para dokter di daerah terpencil melalui teknologi informatika, sehingga bisa membantu menyelesaikan kasus-kasus tertentu yang tidak bisa ditangani oleh dokter di daerah terpencil itu melalui komunikasi secara online. (Baca: Bijak Memilih Berobat Online)
Telemedicine secara real time bisa berbentuk sederhana, seperti penggunaan telepon atau bentuk yang lebih kompleks seperti penggunaan robot bedah. Ada pula penggunaan peralatan kesehatan yang dihubungkan ke komputer sehingga dapat dilakukan inspeksi kesehatan secara interaktif, seperti tele-otoscope (untuk melihat ke dalam pendengaran pasien dari jarak jauh) dan telestethoscope (untuk mendengarkan detak jantung pasien dari jarak jauh).
Konsep store-and-forward telemedicine dilakukan lewat pengumpulan data medis yang kemudian dikirimkan ke dokter spesialis untuk dilakukan evaluasi secara offline. Praktik seperti ini banyak dilakukan di beberapa rumah sakit yang menerima pasien internasional (lintas negara). Dermatolog, radiolog, dan patalog adalah spesialis yang biasanya menggunakan telemedicine jenis ini.
Di Indonesia, meski tren kesehatan online marak, praktik telemedicine memang belum berkembang. Salah satunya karena dibutuhkan infrastruktur serta teknologi yang tinggi. Dan tentu saja teknologi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. (f)
Wiko Rahardjo