(foto: Ranti Nuraeni)
Aristoteles Square atau Alun-Alun Aristoteles menjadi lokasi pertama yang kami kunjungi. Dari namanya saja, saya sudah bisa menebak bahwa sejarah singkatnya pasti terkait bentuk penghormatan terhadap salah satu filsuf besar Yunani, Aristoteles.
Alun-Alun Aristoteles dibangun ulang sekitar tahun 1917 setelah sebagian besar kawasan Thessaloniki terbakar saat invasi bangsa asing. Arsitek dari Prancis, Ernest Hebard, mendesain ulang konsep alun-alun ini, terinspirasi dari gaya Eropa dan Byzantimum.
Alun-Alun Aristoteles memanjang di tepi Teluk Tharmaic. Perairan teluk inilah yang menjadi saksi kedatangan berbagai bangsa di Thessaloniki, mulai dari bangsa Romawi, Byzantimum, Venezia, hingga Utsmaniyah Turki. Di sisi lain alun-alun, tampak dikelilingi bangunan-bangunan bergaya Eropa.
(foto: Ranti Nuraeni)
Pada tahun 1891, saat Thessaloniki telah menjadi bangsa merdeka, Red Tower diwarnai ulang dengan cat putih dan diberi nama White Tower. Sebagai salah satu monumen bersejarah yang juga menjadi landmark kota, pemerintah Thessaloniki kemudian membuka White Tower untuk umum. Museum ini buka tiap hari, dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore, tiket masuknya 2 euro (Rp32.000) per orang. (f)
BACA JUGA:
Mencicipi Roti Khas Yunani Di Thessaloniki
Menyusuri Jejak Islam di Kota Xanthi, Yunani
1 Jam Perjalanan Mengenal Kopenhagen dari Atas Air
Topic
#Yunani, #Thessaloniki, #Alunalunaristoteles, #whitetower