Foto: Gino F. Hadi
Suara dentuman kembang api yang memecah langit seolah melempar ingatan pada peristiwa alam yang terjadi di 74.000 tahun yang lalu. Saat itu Gunung Toba melontarkan nyaris separuh dari tubuhnya melalui ledakan erupsi yang dahsyat. Tidak hanya ikut mengubah iklim dunia dengan musim dingin berkepanjangan, peristiwa ini juga melahirkan kaldera raksasa Danau Toba. Danau vulkanik terbesar di dunia ini telah menjadi napas kehidupan bagi kehidupan masyarakat, tidak hanya di 7 Kabupaten di sepanjang danau, tapi juga bagi seluruh rakyat Sumatera Utara. Sayang, semaraknya makin memudar seiring perubahan zaman.
“Dulu, Danau Toba menjadi pusat destinasi dunia, seperti ‘seminyak-nya’ Bali. Kami ingin membangkitkan kembali semaraknya dengan menggelar Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba,” ungkap Premita Fifi, Ketua Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba (KKPDT), dalam jumpa pers di Hotel Inna Parapat, Jumat (19/8).
Keriaan mulai terbangun dan terasa sejak sehari sebelum pelaksanaan karnaval, di hari Sabtu (19/8), dengan gelaran aksi kesenian dan artis ibu kota di panggung apung, Pantai Bebas, Parapat. Chef Bara Patiradjawane membuka kemeriahan dengan acara demo masak. Ia membawakan beberapa hidangan, salah satunya arsik yang telah dimodifikasi dengan sentuhan modern. Menyusul kemudian parade tari-tarian dari beberapa etnis Batak, seperti Simalungun, Karo, Toba, dan Pakpak, serta hiburan unik opera Batak.
Malam semakin menghangat oleh entakan musik hip hop dari penampilan Jflow yang memanggil-manggil lewat potongan remix lagu tradisional Sik Sik Sibatumanikam. Melalui lagu-lagu yang dibawakannya, Jflow bermisi untuk merepresentasikan Indonesia yang kekinian.
“Saya ingin membukakan fakta bahwa Indonesia bukan bangsa yang terjebak pada romantisisme masa lalu. Kita bangsa yang kuat di akar tradisi, tapi juga relevan di era kekinian,” ungkap Jflow.
Menyusul kemudian, penampilan grup Slank yang menggebrak malam lewat lagu-lagu hits mereka, seperti, I Miss You But I Hate You, Garuda Pancasila, Ku Tak Bisa Jauh, dan Balikin.
Foto: Gino F. Hadi
Menjawab ini, pemerintah, melalui Kementerian Pariwisata membeberkan langkah strategis lanjutan untuk memperbaiki kelemahan ini.
“Kami telah membuka flight langsung dari Jakarta ke bandara Silangit. Kami juga akan membangun jalan tol yang menghubungkan ruas dari Kualanamu – Tebing Tinggi – Siantar – Parapat dan kemungkinan akan berlanjut ke Sibolga,” jelas Menteri Pariwisata Arief Yahya yang ikut hadir di perayaan.
Tidak hanya itu, pemerintah juga telah mengalokasikan tanah seluas 600 hektare di wilayah kabupaten Tobasa, untuk pembangunan resor berwawasan ekologi.
Pertanyaannya, setelah Danau Toba, mana lagi destinasi wisata Indonesia yang butuh dibangunkan dari tidur panjangnya? Sebab, pariwisata merupakan tungku penggerak perekonomian rakyat yang menjamin pemerataan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi setiap daerah di Indonesia.
Semoga komitmen yang tercetus di kawasan Danau Toba ini menjadi efek domino yang berbuah manis bagi seluruh rakyat Indonesia. (f)
Topic
#danautoba